Minggu, 17 Maret 2019

Semua Kitab Suci Berupa Cahaya Petunjuk

semua Kitab Suci tersebut berupa Cahaya dan Petunjuk yang disabdakan oleh Sang Maha Cahaya kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya….”. (QS Al Maidah 5 : 44)

"Dan Kami telah memberikan Kitab Injil yang didalamnya berisi Petunjuk dan Cahaya……”. (QS Al Maidah 5 : 46)

“…….Kami menjadikan Al Qur’an itu Cahaya……”. (QS Asy Syura 42 : 52)

Selama ini, semua pemeluk agama hanya mengenal Kitab Suci agamanya sebatas petunjuk yang berupa tulisan saja, sehingga terjadi perbedaan dalam memahami ajaran dari Sang Maha Pencipta. Padahal berdasarkan ayat-ayat tersebut, di dalam setiap Kitab Suci terdapat juga Cahaya yang dapat menerangi kita dari kegelapan dan kebodohan. Satu-satunya cara untuk dapat memahami isi Kitab Suci yang berupa Cahaya adalah dengan mempelajari ilmu ma’rifat, karena hanya ilmu ma’rifat sajalah yang menjadi modal dasar dari Nabi Muhammad Saw dan juga Para Nabi dan Rasul lainnya.

Istilah “ma’rifatullah” terdiri dari dua kata, yaitu kata “ma’rifat” dan kata “Allah”. Kata “ma’rifat” berasal dari akar kata ‘arafa yang artinya mengangkat, mengenal,mengetahui dan memahami. Kata ma’rifat seakar dengan kata ma’arif, ma’ruf, ‘arafah, ‘urf, ‘arif, irfan.

Imam Al Ghazali memberikan perumpamaan tentang apakah yang dimaksudkan dengan ma’rifat itu dengan pengalaman merasakan keberadaan sang api, maka ilmu itu ibarat melihat api, sedang ma’rifat itu merasakan panasnya (memahami bagaimana api itu, bagaimana macam-macam panas, seberapa panas dan sebagainya). Demikian juga dalam Islam, kita mengetahui bahwa diri ini terdiri dari jasad dan ruh. Jasad diciptakan dari tanah, sehingga tumbuh dan berkembang di tanah dan bumi dan memakan makanan hasil bumi.

Ketika bahan makanan tersebut diolah sehingga menjadi makanan siap hidang, maka kita disebut memiliki ilmu tentang makanan. Tetapi proses ma’rifat terhadap makanan itu sesungguhnya baru dimulai ketika masakan tersebut kita kunyah. Kemudian kita rasakan kelezatannya, ditelan, dicerna dan diserap oleh tubuh. Dan seluruh proses ini semata-mata ditujukan untuk tumbuh berkembang dan sehatnya jasad.

Sebagaimana keharusan berkembangnya si jasad, nur insan kita pun harus tumbuh dan berkembang. Untuk itu nur insan perlu makan. Dan sebagaimana asal peniupannya, maka makanan bagi nur insan pun berasal dari cahaya. Tetapi cahaya yang dimaksud bukanlah semata-mata berupa gelombang elektromagnetik berkecepatan 3.108, melainkan segala sesuatu yang menghapuskan kegelapan. Bukankah sifat cahaya adalah menerangi dan menyingkap kegelapan? Cahaya berkecepatan 3.108 ini oleh Al-Qur’an disebut Cahaya Bumi. Sedangkan Cahaya yang akan menghapus kegelapan ketidaktahuan dan kegelapan kegaiban disebut Cahaya Langit. Percaya atau tidak, semua cahaya ini merupakan makanan bagi nur insan kita.
 
“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”. (QS An Nur 24:35)

Yang dibutuhkan oleh nur insan untuk tumbuh dan berkembang adalah cahaya langit yang seperti ini. Ilmu adalah ketika makanan cahaya seperti ini tampak. Dan proses memakan dan mencernanya disebut dengan Ma’rifat

“(ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: ‘Hai Isa putera Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab,”Bertaqwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman”. Mereka berkata : ”Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan”. (QS Al Maidah 5 : 112-113)

Dikatakan dalam Al Qur’an bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. Karena itu, yang dima’rifati pada hakikatnya adalah Dia. Inilah yang disebut dengan Ma’rifatullah yang hakikatnya adalah proses tumbuh dan kembangnya nur insan kita, hanya melalui metabolisme ilmu dan cahaya. Al Qur,an mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengidentifikasikan kehadiran Cahaya Langit ini harus diawali melalui proses pensucian mata hati, dan kemudian membimbing si jiwa untuk hidup, tumbuh dan berkembang dengan ‘mengkonsumsi’ cahaya langit tersebut.

Dan selanjutnya mengarahkan nur insan tersebut untuk bertemu dengan jati dirinya, agar ia bisa menjadi cahaya bagi sesamanya. Proses perkembangan nur insan dapat dianalogikan seperti perkembangan manusia. Ia harus dirawat dan dijaga oleh orang yang tahu supaya tidak bahaya, diberi makanan bergizi, makanan lembut dan halus, diberi “bimbingan” dan “ajaran” hingga paham, sampai ia tumbuh dewasa dan mampu berdiri sendiri, bahkan mampu membimbing nur insan lainnya.

Imam Al-Ghazali ketika ditanya, apakah tanda-tanda ma’rifat itu. Jawabnya “yaitu hidupnya qolbu bersama Allah”. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatKu itu?”. Daud menjawab, ”Tidak”. Allah berfirman,”Hidupnya qolb dalam musyahadah kepada-Ku”.

Allah adalah An-Nuur. Dan kehendak-Nya pun adalah cahaya. Qolb kitapun hidup ketika memakan kehendak Allah itu.

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Ar Ra’du13 : 28)

0 komentar:

Posting Komentar