IMAM DALAM DIRI.
Jika ada guru yang bersifat dhohir yaitu manusia, maka juga ada guru batin dalam setiap manusia, begitu juga jika ada imam yang berwujud dohir yang membimbing ummat manusia, maka juga ada imam yang bathin (tersembunyi) dalam diri manusia.
Imam Musa al-Kadhim berkata: “Sesungguhnya Allah mempunyai dua Hujjah atas seluruh manusia, yaitu hujjah yang dhohir dan hujjah yang tersembunyi(batin). Adapun hujjah dhohir adalah para Rasul, para Nabi dan para Imam, sedang hujjah batin adalah Akal.”
Akal disitu bermakna hati nurani atau sejatidiri dalam setiap manusia, yang selalu membimbing dan mengajari manusia dalam berbuat baik. Itulah guru sejati yang ada dalam setiap manusia, itulah imam yang ghaib atau tersembunyi di dalam dada kita.
Tinggal kita mau mengikuti hati nurani sebagai imam kita atau justru mengikuti hawa nafsu sebagai imam kita. Jika kita melupakan diri kita, maka Allah akan melupkan kita. Allah Yang Maha Agung berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hasyr: 19)
Jika kita sudah melupakan hakekat diri kita, maka kita tidak mempunyai pedoman hidup dan tidak memiliki imam yang memimpin jiwa kita, sehingga kita sering mengikuti hawa nafsu untuk berbuat dosa, itulah orang yang munafiq.
Imam yang tersembunyi dalam diri kita ini adalah sebagai panutan dalam hidup yang harus kita ikuti, baik dalam berbicara, bertindak, bekerja dan beribadah, semuanya harus tunduk dan patuh kepada imam. Jika kita kebingungan bertanyalah kepada imam kita, maka akan dijawab dengan fatwa-fatwanya.
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda : ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan ?’
Aku menjawab : ‘Benar’.
Beliau bersabda : ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi)
Orang yang sudah menemukan Imam dalam dirinya, maka dialah yang berhak menjadi Imam dalam sholat berjamaah, karena dia sudah bisa memimpin dirinya sendiri, sudah bisa memakmumi dirinya sendiri.
Jika ada orang yang sudah bisa mengenal imamnya sendiri, lalu sholat menjadi makmum sedangkan imamnya orang yang belum mengenal imamnya sendiri, maka itu dinamakan imam yang dimakmumi oleh makmum, karena imamnya belum mengetahui hakekat imamnya sendiri.
Jika orang yang sudah mengenal imam dalam dirinya, maka ketika menjadi ulama akan mewarisi ilmunya para Nabi khususnya Nabi Muhammad Saw. karena ruhaniahnya sudah menyambung kepada Rasulullah. Prilakunya menjadi rohamatan lilalamin yaitu welas asih bagi orang lain.
Jika ada guru yang bersifat dhohir yaitu manusia, maka juga ada guru batin dalam setiap manusia, begitu juga jika ada imam yang berwujud dohir yang membimbing ummat manusia, maka juga ada imam yang bathin (tersembunyi) dalam diri manusia.
Imam Musa al-Kadhim berkata: “Sesungguhnya Allah mempunyai dua Hujjah atas seluruh manusia, yaitu hujjah yang dhohir dan hujjah yang tersembunyi(batin). Adapun hujjah dhohir adalah para Rasul, para Nabi dan para Imam, sedang hujjah batin adalah Akal.”
Akal disitu bermakna hati nurani atau sejatidiri dalam setiap manusia, yang selalu membimbing dan mengajari manusia dalam berbuat baik. Itulah guru sejati yang ada dalam setiap manusia, itulah imam yang ghaib atau tersembunyi di dalam dada kita.
Tinggal kita mau mengikuti hati nurani sebagai imam kita atau justru mengikuti hawa nafsu sebagai imam kita. Jika kita melupakan diri kita, maka Allah akan melupkan kita. Allah Yang Maha Agung berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hasyr: 19)
Jika kita sudah melupakan hakekat diri kita, maka kita tidak mempunyai pedoman hidup dan tidak memiliki imam yang memimpin jiwa kita, sehingga kita sering mengikuti hawa nafsu untuk berbuat dosa, itulah orang yang munafiq.
Imam yang tersembunyi dalam diri kita ini adalah sebagai panutan dalam hidup yang harus kita ikuti, baik dalam berbicara, bertindak, bekerja dan beribadah, semuanya harus tunduk dan patuh kepada imam. Jika kita kebingungan bertanyalah kepada imam kita, maka akan dijawab dengan fatwa-fatwanya.
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda : ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan ?’
Aku menjawab : ‘Benar’.
Beliau bersabda : ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi)
Orang yang sudah menemukan Imam dalam dirinya, maka dialah yang berhak menjadi Imam dalam sholat berjamaah, karena dia sudah bisa memimpin dirinya sendiri, sudah bisa memakmumi dirinya sendiri.
Jika ada orang yang sudah bisa mengenal imamnya sendiri, lalu sholat menjadi makmum sedangkan imamnya orang yang belum mengenal imamnya sendiri, maka itu dinamakan imam yang dimakmumi oleh makmum, karena imamnya belum mengetahui hakekat imamnya sendiri.
Jika orang yang sudah mengenal imam dalam dirinya, maka ketika menjadi ulama akan mewarisi ilmunya para Nabi khususnya Nabi Muhammad Saw. karena ruhaniahnya sudah menyambung kepada Rasulullah. Prilakunya menjadi rohamatan lilalamin yaitu welas asih bagi orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar