Hakekat Baitulloh Dalam Diri
Video
HAKEKAT BAITULLAH DALAM DIRI
"Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan". (QS Al-Qashash (28): 29)
Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam". (QS Al-Qashash (28): 30)
Tahukah engkau Rumah Allah, yang kita katakan Baitullah, itu bermula di Qalbumu yaitu Baitul Muharam, dari sanalah sumber Kalam-Kalam Allah. Bukan dari telinga kita, bukan juga dari mata kita, jadi "la harfun wala sautun" tiada huruf dan suara, namun suatu "Kefahaman dan Kesadaran Tertinggi", dimana lintasan yang terbesit di Qalbumu tidak lagi sempat terdengar dan terlihat, karena Musa saat itu membaur bersama Sama', Bashar, Fuad dan Kalam-Nya. Bagaimana bisa yang bersama itu memanggil, yang memanggil itu jikalau jauh, yang dekat itulah yang berbicara, memang sulit di ungkap dengan kata kata.
Analoginya begini, pernahkah kau perhatikan dan teliti bentuk suatu chip kartu memori Hp mu, kecil bukan ? Ada suaranya tidak ? Ada hurufnya tidak ? Tapi mengapa monas ada di situ ? Pohon ada di situ ? Gambar foto-foto manusia ada di situ ?, bahkan ribuan lagu-lagu bisa ada di situ, bisa bayangkan tidak, bukankah untuk menciptakan satu lagu saja butuh alat-alat musik dan sound sistem yang banyak, namun semua terwakili dan terfahami lewat chip memori itu, begitulah Qolbumu.
Qolbu adalah bahasa kode, bukan bahasa pemaparan, karena ilmu dan Kalam Allah turun membekas, mengcopy paste ke Shudurmu, itulah Maha Kuasa Allah menjadikan manusia makhluk yang kecil diantara semesta namun mampu menampung Kehadiran-Nya, karena Allah adalah esensi kualitas bukan eksistensi kuantitas semata, contohnya, Allah Maha Besar itu bukanlah melawan besarnya Galaxy, tapi esensi hati manusia yang melebihi alam makrokosmos, yang hakikatnya semesta ini adalah mikrokosmos, fahamilah.
Setelah kau faham Baitul Muharam, barulah turun ke Baitul Aqso ada pada rasa fuadmu, yang naik menuju baitul makmur yakni rasiomu yang memaparkan kebesaran-kebesaran-Nya, di sanalah kau bersyahadat dengan inderamu, mulut adalah simbol Kabah yang mesti runtuh (bisu), telinga adalah simbol daun Sajaratul Muntaha yang mesti jatuh (budek), hidung adalah simbol gunung Thursina yang mesti hancur (hilang nafasmu) karena menghalangi basharmu, di sanalah sepasang mata menyaksikan, namun mesti terpejam bagai bulan dan bintang yang lebur, maka kembalilah Cahaya itu kepada Pemilik Cahaya.
"Semua kosong tak ada apa apa, yang ada hanyalah Aku seMATA"
0 komentar:
Posting Komentar