Sabtu, 29 Desember 2018

Ceramah usdad Daruri padang

Ceramah ustad Daruri padang new

Ceramah ustad Daruri padang
Pelajaran tentang tauhid


Ceramah Ustad Daruri

Ceramah ustad Daruri padang

CERAMAH USTAD DARURI PADANG

Jumat, 28 Desember 2018

Lagu Turi turi putih

Lagu turi turi putih mengingatkan kita pada kematian

Hikayat..
Menurut cerita yang berkembang di kalangan rakyat jawa lagu ini merupakan peninggalan seorang dari Wali Songo yaitu Sunan giri.
Bercerita tentang kearifan, kesadaran akan kehidupan dan kematian

Turi-turi melambang sebuah pitutur (nasehat)
Putih melambangkan kain kafan atau sebuah kematian
Jadi Turi-turi putih adalah nasehat seorang guru kepada murid tentang arti akhir kehidupan yaitu kematian

Pada perkembangannya lagu ini berkembang dengan beberapa versi syair, pada intinya lagu ini menjelaskan nasehat seorang guru kepada murid tentang jalan hidup agar murid tidak sesat jalan...

Bagi yang bisa menjelaskan lebih dalam silahkan di ulas lebih dalam di area komentar agar lebih membawa manfaat bagi sesama...
Salam...

Kamis, 27 Desember 2018

Kisah 4 Lilin

Kisah 4 lilin

Ada 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."
"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."
”Akulah HARAPAN.“
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Jangan sampai kita kehilangan HARAPAN.

Hakekat Baitulloh Dalam Diri

Hakekat Baitulloh Dalam Diri
Video 

  HAKEKAT BAITULLAH DALAM DIRI

"Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan". (QS Al-Qashash (28): 29)

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam". (QS Al-Qashash (28): 30)

Tahukah engkau Rumah Allah, yang kita katakan Baitullah, itu bermula di Qalbumu yaitu Baitul Muharam, dari sanalah sumber Kalam-Kalam Allah. Bukan dari telinga kita, bukan juga dari mata kita, jadi "la harfun wala sautun" tiada huruf dan suara, namun suatu "Kefahaman dan Kesadaran Tertinggi", dimana lintasan yang terbesit di Qalbumu tidak lagi sempat terdengar dan terlihat, karena Musa saat itu membaur bersama Sama', Bashar, Fuad dan Kalam-Nya. Bagaimana bisa yang bersama itu memanggil, yang memanggil itu jikalau jauh, yang dekat itulah yang berbicara, memang sulit di ungkap dengan kata kata.

Analoginya begini, pernahkah kau perhatikan dan teliti bentuk suatu chip kartu memori Hp mu, kecil bukan ? Ada suaranya tidak ? Ada hurufnya tidak ? Tapi mengapa monas ada di situ ? Pohon ada di situ ? Gambar foto-foto manusia ada di situ ?, bahkan ribuan lagu-lagu bisa ada di situ, bisa bayangkan tidak, bukankah untuk menciptakan satu lagu saja butuh alat-alat musik dan sound sistem yang banyak, namun semua terwakili dan terfahami lewat chip memori itu, begitulah Qolbumu.

Qolbu adalah bahasa kode, bukan bahasa pemaparan, karena ilmu dan Kalam Allah turun membekas, mengcopy paste ke Shudurmu, itulah Maha Kuasa Allah menjadikan manusia makhluk yang kecil diantara semesta namun mampu menampung Kehadiran-Nya, karena Allah adalah esensi kualitas bukan eksistensi kuantitas semata, contohnya, Allah Maha Besar itu bukanlah melawan besarnya Galaxy, tapi esensi hati manusia yang melebihi alam makrokosmos, yang hakikatnya semesta ini adalah mikrokosmos, fahamilah.

Setelah kau faham Baitul Muharam, barulah turun ke Baitul Aqso ada pada rasa fuadmu, yang naik menuju baitul makmur yakni rasiomu yang memaparkan kebesaran-kebesaran-Nya, di sanalah kau bersyahadat dengan inderamu, mulut adalah simbol Kabah yang mesti runtuh (bisu), telinga adalah simbol daun Sajaratul Muntaha yang mesti jatuh (budek), hidung adalah simbol gunung Thursina yang mesti hancur (hilang nafasmu) karena menghalangi basharmu, di sanalah sepasang mata menyaksikan, namun mesti terpejam bagai bulan dan bintang yang lebur, maka kembalilah Cahaya itu kepada Pemilik Cahaya.

"Semua kosong tak ada apa apa, yang ada hanyalah Aku seMATA"


Kosongkan atau Suwungkan Dirimu

Kosongkan atau Suwungkan Dirimu

SUWUNGKAN DIRIMU

"Sesungguhnya kamu kembali menghadap Allah dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu semua yang Kami anugerahkan kepadamu..." (QS 6 :94) 

Sesungguhnya kosong atau suwung adalah suatu proses Nafi, yaitu menolak segala keberadaan semu yang ada di dunia ini. Kosong bukanlah dengan menghipnotis akal fikiran dengan menanamkan kata-kata yang sama, "Saya kosong", "Saya tiada memiliki apapun", "Saya tidak bisa apa apa", "Saya lemah", "Saya tiada" dan sebagainya. 

"Mengosongkan" diri seperti diatas, semua itu juga sama-sama semunya,  semuanya itu disebut "menipu" diri, bukan mengosongkan diri. Mengosongkan diri adalah suatu proses dalam lelaku, berjalan dan membenamkan diri dalam zuhud dan waro', karena tanpa zuhud dan waro' maka kosong tetaplah kata kata kosong tanpa arti.

Kita mudah berkata tentang kosong, namun dalam lelaku tak semudah apa yang dikatakan, karena dalam lelaku itu, banyak terdapat gangguan "syetan". Seseorang yang tiada didera gangguan syetan terus menerus, namun tiba tiba saja kosong, maka dia sedang tertipu. 

Kosong atau suwung itu ada beberapa tingkatan : 

1. Suwung ing dalem angen-angen. 

2. Suwung ing dalem kasajaten. 

Suwung ing dalem angen-angen adalah kosong yang merupakan bawaan angan angan, karena kita semua bisa mengangan-angankan tentang kosong, tiada memiliki apa apa, tiada berdaya apa-apa dan sebagainya, namun nyatanya dalam lahiriahnya kita memiliki banyak hal dan masih saja kesulitan untuk berbagi dengan orang lain. 

Suwung ing dalem kasajaten, adalah suwung di dalam kesejatian. Suwung seperti ini adalah suwung atau kosong yang benar. Suwung seperti ini pun masih terbagi menjadi 2 bagian. 

Kosong itu sebenarnya adalah sebuah lelaku atau "jalan hidup", bukan sekedar kosongnya otak atau hati, karena untuk mengosongkan otak atau hati manusia, bisa dengan mudah, dengan cara memakai narkoba, lalu nge-fly dan merasa kosong. 

Lalu bagaimana sebenarnya cara lelaku pengosongan itu ? Sesungguhnya lelaku yang sebenarnya itu seperti keadaan ketika kita dalam keadaan junub dan hendak melaksanakan sholat. Yang pertama, harus dilakukan adalah mandi jinabat, lalu berwudhu. Mengapa ?  Karena setiap hari kita telah "bersetubuh" dengan duniawi, akibat dorongan syahwat duniawi, maka kita harus melakukan mandi jinabat dahulu, yaitu mesti meninggalkan duniawi untuk memasuki tahap pengosongan jiwa. Tetapi hal demikian tidak memungkinkan bagi sebagian besar diantara kita, maka pengosongan hanya sebatas dipermukaan saja, atau tidak melakukan pengosongan terlalu dalam. Dalam hal ini kita bisa melakukan uzlah ringan, yaitu latihan membuang kemelekatan dengan duniawi, maksudnya adalah agar hati kita tidak melekat dan terikat dengan duniawi, walaupun kita memiliki kekayaan duniawi tersebut. 

Tingkatan di atas uzlah adalah kholawat. Kholawat yang sebenarnya adalah memutuskan diri terhadap apapun selain Allah. Memang ini untuk lelaku total bagi yang bisa dan bersungguh sungguh. Itulah tahap awal untuk mencapai pengosongan, yang mesti kita jalankan jika benar hendak kosong. 

Untuk mencapai kosong yang lebih jauh lagi, maka tak ada jalan lain selain berpaling dari seluruh kesenangan keduniawian yang tidak berguna. 

Membebaskan diri dari semua keterikatan, baik keterikatan dengan masa lalu, keterikatan dengan khayalan semu masa depan, keterikatan dengan kesenangan duniawi yang memenjara ruh, dan mendidik nafsu agar disiplin dalam keadaan miskin papa, dimana tidak mempunyai keinginan. Kadang kita mesti mencapai keadaan tidak berdaya sama sekali, tidak punya apa apa dan siapa siapa, tiada tempat mengadu dan hina papa, agar faham tentang kosong. Semuanya itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap citra kesenangan duniawi yang tertangkap oleh batin akan direkam, dan menambah tebal hijab. 

Mulailah berlatih mengosongkan, jangan ditunda lagi. Karena disitulah banyak ilham ilham Ketuhanan yang kita terima, yang kemudian dapat dituangkan dalam tulisan.

"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkan aku bersama orang orang miskin" (HR. Al Hakim dan Ibnu Majah)

Dengarkan Suara Hati Nuranimu

Dengarkanlah Suara Hati Nuranimu karena itu Suara Dari Tuhanmu

"DENGARKAN SUARA HATI NURANIMU, KARNA ITU SUARA TUHANMU ;"......

MINTALAH FATWA KEPADA NURANIMU.......

Kelemahan manusia yang paling pokok ialah pandangannya yang pendek, dan tidak mampu melihat jauh ke depan. Karena itu manusia mudah tertarik kepada hal-hal yang sepintas lalu menawarkan kesenangan, padahal dalam jangka panjang membawa malapetaka. Adalah hati nurani yang memperingatkan manusia untuk waspada jangan sampai terjebak oleh hal-hal yang pendek yang menyenangkan, sementara melupakan jangka panjang yang lebih besar dan penting. Karena itu Nabi SAW menjelaskan, bahwa kebajikan adalah budi pekerti luhur, dan dosa ialah sesuatu yang terbetik dalam hati yang bersangkutan dan tidak suka jika diketahui oleh orang banyak. Hadits ini menyangkut seorang sahabat Nabi bernama Wabishah al-Asadi : Qalbu adalah "Jendela Kaca" yang dengannya Ruhani melihat Nur-Nya, apabila ada bercak hitam didalamnya, maka akan menghalangi pandangan dalam melihat Nur-Nya. Apa yang menyebabkan bercak hitam ? itulah "Dosa" yang diisyaratkan dalam Hadits :

Berkata Wabishah a-asadi, “Aku datang kepada Rasulullah SAW dan aku tidak akan mengesampingkan barang sedikitpun tentang kebajikan dan dosa melainkan mesti akan kutanyakan kepada beliau, dan beliau saat itu dikelilingi sejumlah kaum muslim untuk meminta nasehat dan aku pun melangkah melewati mereka, dan mereka berkata, “hai Wabishah, jangan mendekati Rasulullah SAW!” Aku katakan, “Biarkanlah aku! Aku akan mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling aku cintai untuk saya dekati.” Beliau (Nabi) bersabda, “Biarkanlah Wabishah! Kemari, Wabishah! (dua atau tiga kali)” Kata Wabishah,” Akupun mendekat kepada beliau hingga aku duduk bersimpuh dihadapannya”. Lalu beliau bersabda,” Hai Wabishah, apakah kau mau aku beritahu atau engkau akan bertanya kepadaku?” Aku berkata,”Tidak, melainkan beritahulah aku. Beliau bersabda , “Engkau datang untuk bertanya kepadaku tentang kebajikan dan dosa bukan?” Wabishah menjawab,”Ya!” lalu beliau merapatkan jari-jari beliau, kemudian dengan jari-jari itu beliau menepuk Qalbuku dan bersabda,”Hai Wabishah, mintalah fatwa (bertanyalah, berkonsultasilah) kepada Qalbumu! Mintalah fatwa kepada dirimu! (tiga kali), kebajikan ialah sesuatu yang Qalbu merasa tentram kepadanya dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam Qalbumu dan bergejolak dalam Shudur, sekalipun orang banyak memberi fatwa (membenarkan) kepadamu, sekalipun mereka memberi fatwa kepadamu! “. (HR. Bukhori )

Jadi pertimbangan pertama dan utama dalam bertindak ialah nurani. Murni dan terangnya hati nurani akan membisikkan kepada kita tentang apa yang baik dan buruk, yang benar dan yang palsu. Namun karena kelemahan manusia tersebut tadi, kita tidak selalu dapat mendengar Suara nurani kita sendiri. Atau karena Qalbu kita sudah kehilangan cahaya-Nya disebabkan oleh dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan kita. Karena itu dalam istilah Al-Qur’an, dosa disebut zhalim, orang yang melakukan kegelapan. Maka orang yang banyak berbuat dosa, qalbunya tidak lagi bersifat terang (nurani), melainkan menjadi gelap (zhulmani). Dan dalam stadium yang kronis dan parah, perbuatan dosa atau zhalim itu mungkin tidak lagi kita rasakan sebagai dosa atau kejahatan, bahkan terasa baik-baik saja. Inilah yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an bahwa adakalanya kejahatan pada sesorang ‘dihiaskan’ baginya, sehingga nampak indah bagi yang bersangkutan. Dan itulah stadium kebangkrutan ruhani, yang menyeret manusia keluar dari dalam “Paradiso” menuju “inferno”. Dalam Al-Qur’an terbaca isyarat kebangkrutan spiritual itu :

“Apakah (kamu risaukan, wahai Muhammad) orang yang dihiaskan baginya kejahatan amalnya sebagai ia pandang baik? Sebab sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendak-Nya Oleh karena itu, janganlah engkau menelantarkan dirimu dengan kesedihan tentang mereka itu. Sesungguhnya Allah maha Tahu akan segala sesuatu yang mereka perbuat ”. (QS Al Fathir 35 : 8).

Rabu, 26 Desember 2018

Ceramah Kuswanto Abu Irsyad

Ceramah kuswanto Abu Irsyad

Mengenal Diri Menuju Marifat ilahi

Senin, 24 Desember 2018

SYI'IR TANPA WETON

Syi'ir tanpa weton

 

SYI'IR TANPO WETON  DAN ARTINYA

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
(aku memulai melantunkan syi’ir)

Kelawan muji maring Pengeran
(dengan memuji kepada Tuhan)


Kang paring rohmat lan kenikmatan
(yang memberi rohmat dan kenikmatan)


Rino wengine tanpo pitungan
(siang dan malamnya tanpa terhitung)


Duh bolo konco priyo wanito
(wahai para teman pria dan wanita)


Ojo mung ngaji syareat bloko
(jangan hanya belajar syari’at saja)


Gur pinter ndongeng nulis lan moco
(hanya pandai bicara, nulis dan baca)

Tembe mburine bakal sengsoro
(esok harinya akan sengsara)


Akeh kang apal Qur’an Haditse
(banyak yang hafal Qur’an dan Hadits)


Seneng ngafirke marang liyane
(senang mengkafirkan kepada orang lain)


Kafire dhewe gak digatekke
(kafirnya sendiri tak dihiraukan)


Yen isih kotor ati akale
(jika masih kotor hati dan akalnya)


Gampang kabujuk nafsu angkoro
(gampang terbujuk nafsu angkara)


Ing pepaese gebyare ndunyo
(dalam hiasan gemerlapnya dunia)


Iri lan meri sugihe tonggo
(iri dan dengki kekayaan tetangga)


Mulo atine peteng lan nisto
(maka hatinya gelap dan nista)


Ayo sedulur jo nglaleake
(ayo saudara jangan melupakan)


Wajibe ngaji sak pranatane
(wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)


Nggo ngandelake iman tauhide
(untuk mempertebal iman tauhidnya)


Baguse sangu mulyo matine
(bagusnya bekal mulia matinya)


Kang aran sholeh bagus atine
(Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)


Kerono mapan seri ngelmune
(karena mapan lengkap ilmunya)


Laku thoriqot lan ma’rifate
(menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)


 Ugo haqiqot manjing rasane
(juga hakikat meresap rasanya)


Al'Qur’an qodim wahyu minulyo
(Al QurA’an qodim wahyu mulia)


Tanpo tinulis biso diwoco
(tanpa ditulis bisa dibaca)


Iku wejangan guru waskito
(itulah petuah guru mumpuni)


Den tancepake ing jero dodo
(ditancapkan di dalam dada)



Kumantil ati lan pikiran
(menempel di hati dan pikiran)


Mrasuk ing badan kabeh jeroan
(merasuk dalam badan dan seluruh hati)


Mu’jizat Rosul dadi pedoman
(mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman)


Minongko dalan manjinge iman
(sebagai sarana jalan masuknya iman)


Kelawan Alloh Kang Moho Suci
(Kepada Alloh Yang Maha Suci)


Kudu rangkulan rino lan wengi
(harus mendekatkan diri siang dan malam)


Ditirakati diriyadohi
(diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas)


Dzikir lan suluk jo nganti lali
(dzikir dan suluk jangan sampai lupa)


Uripe ayem rumongso aman
(hidupnya tentram merasa aman)


Dununge roso tondo yen iman
(mantabnya rasa tandanya beriman)


Sabar narimo najan pas-pasan
(sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)


Kabeh tinakdir saking Pengeran
(semua itu adalah takdir dari Tuhan)


Kelawan konco dulur lan tonggo
(terhadap teman, saudara dan tetangga)


Kang podho rukun ojo dursilo
(yang rukunlah jangan bertengkar)


Iku sunahe Rosul kang mulyo
(itu sunnahnya Rosul yang mulia)


Nabi Muhammad panutan kito
(Nabi Muhammad tauladan kita)


Ayo nglakoni sakabehane
(ayo jalankan semuanya)


Alloh kang bakal ngangkat drajate
(Allah yang akan mengangkat derajatnya)


Senajan asor toto dhohire
(Walaupun rendah tampilan dhohirnya)


Ananging mulyo maqom drajate
(namun mulia maqam derajatnyadi sisi Allah)


Lamun palastro ing pungkasane
(ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)


Ora kesasar roh lan sukmane
(tidak tersesat roh dan sukmanya)


Den gadang Alloh swargo manggone
(dirindukan Allah surga tempatnya)


Utuh mayite ugo ulese
(utuh jasadnya juga kain kafannya)


Kamis, 20 Desember 2018

Keseluruhan Alam Semesta Terdiri dari 4 hal utama

keseluruhan Alam Semesta Terdiri Dari 4 Hal Utama


Keseluruhan ALAM SEMESTA itu terdiri dari 4 hal utama , yaitu :

1. AF'AL Allah Swt......, Duduk Ilmunya pada ILMU SYAREAT yang pada KALIMAT ALLAH pada HURUF HO.

2. ASMA Allah Swt....., Duduk Ilmunya pada ILMU TAREKAT yang pada KALIMAT ALLAH pada huruf LAM AKHIR.

3. SIFAT Allah Swt....., Duduk Ilmunya pada ILMU HAKEKAT yang pada KALIMAT ALLAH pada huruf LAM AWAL.

4. DZAT ( RAHASIA ) Allah swt....., Duduk Ilmunya pada ILMU MA'RIFATTULLAH yang pada KALIMAT ALLAH pada huruf ALIF.

AF'AL Allah Swt, ASMA Allah swt, SIFAT Allah Swt dan DZAT ( RAHASIA ) Allah Swt ada pada diri setiap Mahkluk termasuk pada diri seorang DOKTER dan pada sebutir OBAT.

Firman Allah swt ,An Nisa 126 :

“ Kepunyaan Allah apa yang dilangit dn apa yang dibumi dan adalah ALLAH MAHA MELIPUTI SEGALA SESUATU “

Firman Allah swt dalam Surat Al Hadid 3 :

" DIAlah ( ALLAH ) Yang AWAL dan Yang AKHIR Yang ZHAHIR dan Yang BATHIN , dan Dia ( ALLAH ) Maha Mengetahui segala sesuatu ".

Mengenal Jati Diri

Mengenal Siapa diriku


Mencari Jati diri
dengan 
Mengenal diri sendiri
Dari mana saya di ciptakan
tujuan apa saya di ciptakan
dan kemana saya akan kembali


Selasa, 18 Desember 2018

Jiwa yang Gelap dan Jiwa yang Bercahaya

Jiwa yg Gelap dan Jiwa yang Bercahaya

JIWA YANG GELAP DAN JIWA YANG BERCAHAYA

JIWA YANG GELAP.

Orang-orang yang hidupnya  menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka jiwanya menjadi gelap, sehingga  tujuan hidupnya adalah hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Inilah jenis manusia yang sessat dan tersessat. Allah Ta’ala berfirman,
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al Jaatsiyah: 23).

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”[ Al-A'rof [7]:179].

Derajat mereka menjadi binatang dan kelak dalam kehidupan berikutnya yaitu waktu hari kebangkitan menjadi hewan-hewan yang hina serta jika menjadi manusia, mendapatkan kondisinya yang sangat menyedihkan.

Sahabat Nabi Mu’ad bin Jabal pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang pandangan beliau ketika ditanya firman Allah SWT surat An Naba [98] ayat 18,
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
"Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok."

Rasulullah SAW menjawab :
يا معاذ لقد سالت عن عظيم ؟

“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar?” 
Kedua mata Beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Selanjutnya beliau bersabda :

“Ada 10 golongan dari ummat ku yang akan dikumpulkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka [ sesuai dengan amaliyahnya di dunia] . Diantara mereka :

1. Ada yang berwujud kera, mereka yang berwujud kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba diantara mereka.

2. Berwujud Babi, adalah mereka yang ketika di dunianya gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram  seperti cukai dan uang suap.

3. Berjalan berjungkir balik dengan muka yang diseret-seret, mereka ketika di dunia gemar makan riba.

4. Buta kedua matanya, adalah yang suka berbuat dzalim dalam memutuskan hukum [tidak menerapkan hukum Islam -red].

5. Tuli, bisu dan tidak tahu apa-apa, adalah orang yang ketika di dunianya suka ujub [ menyombongkan diri] dari amalnya.

6. Memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jamaah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya. Mereka itu adalah golongan ‘ulama dan pemberi fatwa  yang ucapannya bertolak belakang dengan amaliyahnya.

7. Tangan dan kaki dalam keadaan terpotong, orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.

8. Disalib di atas batang besi, adalah golongan orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan bathil dan palsu.

9. Aroma tubuhnya lebih busuk dari bau bangkai, adalah golongan orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti semua syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menunaikan hak Allah pada harta mereka.

10. Berselimut kain yang dicelup aspal mendidih.Adalah orang yang suka takabbur , berlaku sombong dan membanggakan diri .”[ HR. Al Qurtubi] [1]

Mereka semuanya itu adalah kelompok manusia yang hidupnya selalu mengikuti dan menuruti hawa nafsu, itulah kelompok yang jiwanya sangat gelap.

JIWA YANG BERCAHAYA.

Orang-orang yang mengikuti Hati nuraninya atau sejatidirinya lalu jiwanya berevolusi mencapai jiwa muthmainnah yaitu menjadi jiwa yang tenang damai, karena hasil ketaatan kepada Allah dan selalu menjauhi bisikan hawa nafsu. Merekalah kelompok yang bisa pulang kembali ke asal-Nya yaitu Allah Swt.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي 
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30)

Jiwa Muthmainnah adalah yang telah bisa mnegalahkan hawa nafsu yang disimbolkan dalam jiwa ammaroh yaitu jiwa yang cenderung  dan sukanya berbuat dosa dan jiwa  aluwwamah yaitu jiwa yang masih belum setabil kadang taat kadang maksiat.

Selanjutnya Jiwa Muthmainnah terus berevolusi menuju jiwa radhiyah (yang diridhoi), lalu menuju jiwa Mardhiyyah (Yang telah diridhoi) dan menjadi Jiwa Kamilah yaitu Insan kamil. Inilah jiwa-jiwa yang bercahaya, jiwa yang bisa pulang kembali ke asal-Nya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَوَ لَمْ يَقُلْ أَبُوْ الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ. وَالَّتِي تَلِيْهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ. لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ. يُرَى مُخُّ سَوْقِهِمَا مِنَ وَرَاءِ اللَّحْمِ. وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abul Qasim Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya rombongan yang pertama kali memasuki surga itu bagaikan bulan purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang terang-benderang di langit. [Hr. Muslim] [2]

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,
"Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan." [HR. Bukhari]

“ Wahai Sang Maha Cahaya sinarilah jiwaku agar semakin bercahaya.”

Daftar Pustaka

[1] Disarikan dari kitab Nashoihul ‘ibad , Imam An Nawawi Al Bantani, hal 266, mengutip Hadits Riwayat Imam Al Qurtubi.

[2]  Shohih Muslim.
http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=158&hid=5067&pid=108459

Kidung Ati Tangise Bumi

Kidung Ati Tangise Bumi

Kidung Ati Tangise Bumi

bumine nangis eluhe lumpur agawe giris
bumine nesu watuk watuk ndadekake lindhu
bumi wis tuwo jare kiamat wis arep teko
iki pratondho bendune Kang Moho Kwoso

bumine sambat gununge gundhul
alase di babat
bumi lara ati banjir bandhang
anggegirisi
ujare wong pinter alas kang subur
minongko pager
Pagering bumi murih alam tetep lestari

adhuh Gusti Kulo nyuwun pangapuro
Kulo niki Sampun kathah doso
adhuh Gusti Ingkang Maha Kwasa
Nyuwun Luar Saking gudho Pangrencono

prasedulur tunggal nuso tunggal bongso
ojo congkrah lan ojo suloyo
bareng urip golek dalan padhang
sujud suyukur wonten ngarsane Pengeran

Kidunge ati angruwat bongso sa nagari
monggo ndedungo dahuru inggalo sirno
cancut gumregut bebarengan mbangun projo
lestarekno alam murih bumine ra murko

adhuh Gusti Kulo nyuwun pangapuro
Kulo niki Sampun kathah doso
adhuh Gusti Ingkang Maha Kwasa
Nyuwun Luar Saking gudho Pangrencono

prasedulur tunggal nuso tunggal bongso
ojo congkrah lan ojo suloyo
bareng urip golek dalan padhang
sujud suyukur wonten ngarsane Pengeran

Kidunge ati angruwat bongso sa nagari
monggo ndedungo dahuru inggalo sirno
cancut gumregut bebarengan mbangun projo
lestarekno alam murih bumine ra murko