Wahai saudaraku. Kadang kala Tuhan Sang Maha Pemurah mau menganugerahkan seseorang untuk mendapatkan secuil ilmu-Nya melalui pintu hati (qalb) yang disinari oleh cahyo sejati (nurullah) – yang biasanya lazim disebut dengan ungkapan dari hati nurani. Petunjuk dari Tuhan ini lalu diartikan pula sebagai wahyu, risalah, ilham, wirayat, sasmita gaib, wisik dan sebagainya. Karena itu, tiada pilihan lain bagi kita kecuali mau mengasah kemampuan hati terdalam dengan mengasah diri agar mengenali diri sendiri.
FILOSOFI GAMELAN NANG NING NUNG GONG
FILOSOFI GAMELAN NANG NING NUNG GONG
laku prihatin melalui lima tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Lima tahapan tersebut bertujuan untuk bisa meraih kemenangan sejati. Caranya lalu dikiaskan ke dalam nada suara instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong, Bonang dan Gong yang menimbulkan bunyi; nang ning nung neng gung. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah uraian berikut ini:
1. Nang artinya wenang atau tenang. Disini seseorang berusaha untuk sadar diri dengan rutin melakukan tirakat, semedhi, maladi hening, atau mesu raga, jiwa dan akal budi. Dalam tahapan ini, ia berkonsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin dan mematikan kesadaran jasadnya sebagai upaya dalam menangkap dan menyelaraskan diri dengan frekuensi “gelombang” Tuhan.
2. Ning artinya wening atau hening. Disini seseorang berusaha mengheningkan (meniadakan) daya cipta (akal budi) agar menyambung dengan daya rahsa sejati (suksma sejati, jiwa) yang menjadi sumber cahaya yang suci. Tersambungnya antara ciptadengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Artinya, dalam keadaan “mati raga” seseorang sedang menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening dan khusyuk, bagaikan di alam Sonya Ruriatau Awang-uwung namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Dampaknya ia pun dapat menangkap sinyal gaib dari Sang Suksma Sejati(Tuhan) sebagai bekal jalan hidupnya.
3. Nung artinya kesinungan. Disini bagi siapapun yang sudah melakukan Nang lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugerah agung dari Tuhan Yang Maha Suci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Yang Maha Suci melalui rahsa yang ditangkap oleh roh atau suksma sejatiseseorang lalu diteruskan kepada jiwa untuk diolah oleh jasad menjadi manifestasi perilaku utama (laku utomo). Dampaknya seseorang akan berperilaku konstruktif (rapi, bersih, santun, cerdas, dll) dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.
4. Neng artinya heneng. Secara bahasa heneng itu berarti ketenangan, tapi disini tidak sama dengan maksud dari nang atau wenang atau tenang pada point pertama. Heneng disini juga berarti puncak dari tawakkal (berserah diri), kemerdekaan dan kebebasan diri seseorang. Jika wenang atau tenang itu berarti awal mula dan prosesnya, maka heneng disini adalah tujuan dan hasilnya. Karena itulah ia pun berada pada tahapan setelah nang, ning dan nung bisa dilalui oleh seseorang. Dan bisa dikatakan pula bahwa orang yang sudah sampai di titik ini adalah mereka yang disebutkan di dalam Al-Qur`an surat Al-Fajr [89] ayat 27 dengan sebutan nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang).
Untuk itulah, bagi orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan) – sudah melalui tahapan Nung – akan selalu terjaga amal perbuatannya. Sehingga amal perbuatan baiknya pun tak terhitung dan akan menjadi benteng bagi dirinya sendiri bahkan orang lain. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Satu kemenangan besar yang berupa karunia dan kenikmatan dalam segala bentuknya serta punya harapan untuk bisa meraih kehidupan yang sejati, di dunia dan akherat nanti.
5. Gung artinya agung atau keagungan atau kemuliaan. Ini adalah puncak dari perjalanan, karena pribadi yang telah meng-heneng-kan dirinya adalah sosok pemenang yang agung. Itu terjadi setelah ia bisa melepaskan segala ego dan ikatan materi duniawi melalui empat tahapan sebelumnya (nang, ning, nung, neng). Karena itulah ia bisa hidup mulia dengan memberikan manfaat untuk seluruh makhluk dan alam semesta (rahmatan lil `alamiin). Dengan begitu ia juga bisa meraih kehidupan yang sejati, selalu kecukupan, tenteram lahir batin, dan tetap menemukan keberuntungan dalam hidupnya (meraih ngelmu bejo). Dan pada tahapan inilah seseorang baru akan menemukan jawaban yang benar tentang siapakah dirinya dan siapa pula Tuhannya yang sejati.
Wahai saudaraku. Demikianlah lima tahapan yang harus ditempuh oleh seseorang agar mengetahui siapakah dirinya sendiri. Dan bila maknanya dipahami secara lebih luas, maka kelima tahapan di atas adalah sesuatu yang lebih berharga dari pada dunia dan segala isinya. Seseorang akan menemukan defenisinya sendiri tentang siapakah dirinya dan siapakah pula Tuhannya? Ia pun akan hidup mandiri dan tidak hanya sekedar ikut-ikutan orang lain, karena ia telah mendapatkan pencerahan sesuai dengan haknya. Sehingga ini akan menyelamatkan seseorang dari azab dan bencana. Sebab, hakekat dari bunyi “Nang” itu baginya adalah syariat, “Ning” merupakan tarekat, “Nung” ialah hakekat, dan “Neng” adalah makrifat. Sedangkan Gung adalah ujung dari ke empat tahapan tersebut, yaitu anugerah Tuhan yang berupa puncak dari ilmu untuk makhluk, yang disebut dengan ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Dengan ilmu tersebut ia akan selamat dan menyelamatkan, di dunia dan akherat
0 komentar:
Posting Komentar