Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Mengenal Diri Sendiri
Barang Siapa Mengenal Dirinya Sesungguhnya Ia Dapat Mengenal Kepada Tuhannya
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan . Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.(QS. 24:35)
Wahai saudaraku. Kadang kala Tuhan Sang Maha Pemurah mau menganugerahkan seseorang untuk mendapatkan secuil ilmu-Nya melalui pintu hati (qalb) yang disinari oleh cahyo sejati (nurullah) – yang biasanya lazim disebut dengan ungkapan dari hati nurani. Petunjuk dari Tuhan ini lalu diartikan pula sebagai wahyu, risalah, ilham, wirayat, sasmita gaib, wisik dan sebagainya. Karena itu, tiada pilihan lain bagi kita kecuali mau mengasah kemampuan hati terdalam dengan mengasah diri agar mengenali diri sendiri. FILOSOFI GAMELAN NANG NING NUNG GONG
laku prihatin melalui lima tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Lima tahapan tersebut bertujuan untuk bisa meraih kemenangan sejati. Caranya lalu dikiaskan ke dalam nada suara instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong, Bonang dan Gong yang menimbulkan bunyi; nang ning nung neng gung. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah uraian berikut ini:
1. Nang artinya wenang atau tenang. Disini seseorang berusaha untuk sadar diri dengan rutin melakukan tirakat, semedhi, maladi hening, atau mesu raga, jiwa dan akal budi. Dalam tahapan ini, ia berkonsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin dan mematikan kesadaran jasadnya sebagai upaya dalam menangkap dan menyelaraskan diri dengan frekuensi “gelombang” Tuhan.
2. Ning artinya wening atau hening. Disini seseorang berusaha mengheningkan (meniadakan) daya cipta (akal budi) agar menyambung dengan daya rahsa sejati (suksma sejati, jiwa) yang menjadi sumber cahaya yang suci. Tersambungnya antara ciptadengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Artinya, dalam keadaan “mati raga” seseorang sedang menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening dan khusyuk, bagaikan di alam Sonya Ruriatau Awang-uwung namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Dampaknya ia pun dapat menangkap sinyal gaib dari Sang Suksma Sejati(Tuhan) sebagai bekal jalan hidupnya.
3. Nung artinya kesinungan. Disini bagi siapapun yang sudah melakukan Nang lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugerah agung dari Tuhan Yang Maha Suci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Yang Maha Suci melalui rahsa yang ditangkap oleh roh atau suksma sejatiseseorang lalu diteruskan kepada jiwa untuk diolah oleh jasad menjadi manifestasi perilaku utama (laku utomo). Dampaknya seseorang akan berperilaku konstruktif (rapi, bersih, santun, cerdas, dll) dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.
4. Neng artinya heneng. Secara bahasa heneng itu berarti ketenangan, tapi disini tidak sama dengan maksud dari nang atau wenang atau tenang pada point pertama. Heneng disini juga berarti puncak dari tawakkal (berserah diri), kemerdekaan dan kebebasan diri seseorang. Jika wenang atau tenang itu berarti awal mula dan prosesnya, maka heneng disini adalah tujuan dan hasilnya. Karena itulah ia pun berada pada tahapan setelah nang, ning dan nung bisa dilalui oleh seseorang. Dan bisa dikatakan pula bahwa orang yang sudah sampai di titik ini adalah mereka yang disebutkan di dalam Al-Qur`an surat Al-Fajr [89] ayat 27 dengan sebutan nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang).
Untuk itulah, bagi orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan) – sudah melalui tahapan Nung – akan selalu terjaga amal perbuatannya. Sehingga amal perbuatan baiknya pun tak terhitung dan akan menjadi benteng bagi dirinya sendiri bahkan orang lain. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Satu kemenangan besar yang berupa karunia dan kenikmatan dalam segala bentuknya serta punya harapan untuk bisa meraih kehidupan yang sejati, di dunia dan akherat nanti.
5. Gung artinya agung atau keagungan atau kemuliaan. Ini adalah puncak dari perjalanan, karena pribadi yang telah meng-heneng-kan dirinya adalah sosok pemenang yang agung. Itu terjadi setelah ia bisa melepaskan segala ego dan ikatan materi duniawi melalui empat tahapan sebelumnya (nang, ning, nung, neng). Karena itulah ia bisa hidup mulia dengan memberikan manfaat untuk seluruh makhluk dan alam semesta (rahmatan lil `alamiin). Dengan begitu ia juga bisa meraih kehidupan yang sejati, selalu kecukupan, tenteram lahir batin, dan tetap menemukan keberuntungan dalam hidupnya (meraih ngelmu bejo). Dan pada tahapan inilah seseorang baru akan menemukan jawaban yang benar tentang siapakah dirinya dan siapa pula Tuhannya yang sejati.
Wahai saudaraku. Demikianlah lima tahapan yang harus ditempuh oleh seseorang agar mengetahui siapakah dirinya sendiri. Dan bila maknanya dipahami secara lebih luas, maka kelima tahapan di atas adalah sesuatu yang lebih berharga dari pada dunia dan segala isinya. Seseorang akan menemukan defenisinya sendiri tentang siapakah dirinya dan siapakah pula Tuhannya? Ia pun akan hidup mandiri dan tidak hanya sekedar ikut-ikutan orang lain, karena ia telah mendapatkan pencerahan sesuai dengan haknya. Sehingga ini akan menyelamatkan seseorang dari azab dan bencana. Sebab, hakekat dari bunyi “Nang” itu baginya adalah syariat, “Ning” merupakan tarekat, “Nung” ialah hakekat, dan “Neng” adalah makrifat. Sedangkan Gung adalah ujung dari ke empat tahapan tersebut, yaitu anugerah Tuhan yang berupa puncak dari ilmu untuk makhluk, yang disebut dengan ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Dengan ilmu tersebut ia akan selamat dan menyelamatkan, di dunia dan akherat
Serat asmaralaya adalah salah satu serat Jawa yang berbentuk suluk atau piwulang, berisikan ajaran suci berdasarkan ajaran Islam yang dipadukan dengan ajaran kejawen. Lebih dari itu, serat ini adalah hasil pemikiran dan perenungan nenek moyang kita. Serat ini penuh dengan pesan moral yang bernafaskan Islam. Ajaran yang terkandung dalam serat ini erat kaitannya dengan pengalaman spiritual seorang Salik yang bertemu dengan Tuhannya.
1. Ana wiku medhar ananing hyang agung
kang nglimputi dhiri
wayangan nya dumumung neng netranira
bunder nguwung lir sunaring surya nrawung
aran nur muhammad
weneh muwus jatining kang murbeng idhup
yaiku pramana
kang misesa ing sakalir
dumuning neng utyaka guruloka
iya iku tembung arab baitul makmur
Artinya :
Ada Orang Bijak menjelaskan adanya Hyang Agung
Yang menyelimuti diri
Gambarannya ada pada Matamu sendiri
Bentuknya bundar memancarkan sinar surya yang menerawang
Yang dijuluki Nur Muhammad
Memberikan kesejatian dalam hidup
Yaitu pramana
Yang menguasai segalanya
Letaknya ada di guruloka
Yaitu bahasa Arabnya baitul makmur
2. Tandane kang nyata
aneng gebyaring pangeksi
lwih waspada wruh gumlaring alam donya
mung pramana kang bisa nuntun marang swarga
ana rupa kadya rupanta priyangga
kang akonus saking kamungsangta wus
saplak nora siwah
amung mawa caya putih
yaiku aran mayangga seta
Artinya :
Tandanya yang nyata
Ada dalam gebyar angan-angan
Lebih waspada tahu gumelarnya alam dunia
Hanya pramana yang bisa menuntun ke Surga
Ada bentuk rupa seperti rupa orang
Yang mengaku dari prasangka
Yang tidak berbeda satu dengan lainnya
Hanya lewat cahaya putih
Yang disebut Mayangga Seta
3. ana cahya seta prapta geng sabda
iya iku nur muhammad kang satuhu
cahya maya maya
jumeneng munggwing unggyaning
tuntung driya anartani triloka
baitul makmur baitul mukharam tetelu
ing baitul muqadas
Artinya :
Ada cahaya putih seperti SabdaNya
Iya itu Nur Muhammad yang sejati
Cahaya maya-maya (samar-samar)
Terletak umpama tingkatan
Dalam indera yang disebut triloka (tiga tempat)
Baitul makmur baitul mukharam ketiga
Di baitul muqadas
4. sumanar prapteng pangeksi
liyepena katon ponang cahya maya
anarawung warna warna wor dumunung
nuksmeng cahya kang sajati
ingkang padhang gumilang tanpa wayangan
langgeng nguwung angebeki buwana gung
mulih purwanira
Artinya :
Bersinar tanpa henti
Gambarannya tampak mirip cahaya maya
Berbaur warna-warna yang ada
Dengan cahaya yang sejati
Yang terang benderang tanpa halangan
Langgeng memenuhi buwana yang agung
Terhadap dirimu
5. duk durung tumurun maring
ngarcapada awarna warana raga
cahyanipun gumilang gilang nelawung
tanpa wewayangan
nelahi sesining bumi
gya tumurun dadya manungsa
Artinya :
Ketika belum turun
Ke alam dunia berbentuk raga
Cahayanya penuh gebyar
Tanpa halangan
Memenuhi seisi bumi
Akhirnya segera turun menjadi manusia
6. marma temtu yen prapta antareng layu
ana cahya prapta
gumilang pindhah angganing
tirta munggwing ron lumbu amaya maya
dyan puniku ciptanen dadya sawujud
lawan sabdanira
kang sinedyan samadyaning
ngen ngenta yekti waluya sampurna
mulya wangsul mring salira numuhun
Artinya :
Tentu saja ketika sudah waktunya
Ada cahaya
Bersinar berpindah warna
Air seperti berbentuk samar-samar
Yaitu cipta yang menjadi satu wujud
Dengan sabda mu sendiri
Yang langsung terjadi
Yang diangan-angankan pasti terjadi sempurna
Mulia kembali pada dirimu sendiri
7. sabda gaib babar
bali angebaki bumi
tribuwana kebak bangkit megat nyawa
Artinya :
Sabda gaib kembali digelar
Kembali memenuhi bumi
Tribuwana penuh bangkit memisahkan nyawa
menyingkap tirai hati
mengintai keampunan
di halaman subur rahmat-mu tuhan
tiap jejak nan bertapak
debu kejahilan
akan ku jirus dengan madu keimanan
tak ternilai airmata dengan permata
yang bisa memadamkan api neraka
andai benar mengalir dari nasuha nurani
tak kan berpaling pada palsu duniawi
destinasi cinta yang ku cari
sebenarnya terlalu hampir
hanya kabur kerana dosa di dalam hati
telah ku redah daerah cinta
yang lahir dari wadah yang alpa
tiada tenang ku temui
hanya kecewa menyelubungi
ku gelintar segenap maya
dambakan sebutir hakikat
untuk ku semai menjadi sepohon makrifat
moga dapat ku berteduh di rendang kasih-mu
yaaa ilahi rabbi
destinasi cinta yang ku cari
sebenarnya terlalu hampir
hanya kabur kerana dosa di dalam hati
ku gelintar segenap maya
dambakan sebutir hakikat
untuk ku semai menjadi sepohon makrifat
moga dapat ku berteduh di rendang kasih-mu
namun ranjaunya tidak akan sunyi
selagi denyut nadi belum berhenti
durjana syaitan kan cuba menodai
segumpal darah bernama hati
lestarikan wadi kalbuku, oh tuhanku
leraikan aku dari pautan nafsu
biarpun sukar bagiku melamar redha-mu
namun masihku mengharap ampunan-mu
wahai tuhanku ya allah
Manusia tercipta dari 2 unsur yaitu unsur jasad dan unsur roh di ibaratkan roh adalah burung dan jasad adalah sangkarnya atau penjaranya
Dunia adalah penjara bagi orang beriman. Apa maksudnya?
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no 2392).
Buat para pejalan ruhani jika sangkar atau penjara itu lebih kuat maka burung terpaksa terkurung di dalam sangkar tidak bisa ke mana mana sempit dan menyiksa.
Sebaliknya jika ruh atau burung lebih kuat maka akan bebas dari sangkar yg mengurungnya
Jasad di ibaratkan sangkar burung sebagai penjaranya ruh. jasad adalah udara api air tanah. Atau di sebut juga sumber hawa nafsu yaitu jasad kita
Dan burung ibarat ruhnya
Jika hawa nafsu kita lebih besar maka ruh akan di kurung terus tidak bisa kemana mana di dalam sangkar yg sempit
Tapi jika ruh atau burungnya lebih kuat maka akan bisa menundukan hawa nafsunya
Bukan lagi jasad menguasai ruh akan tetapi ruh menguasai jasad
Ruh akan bebas dari belenggu hawa nafsu dunia atau jasad.ruh akan bebas terbang ke alam cahaya merasakan pencerahan ruhani dari sang maha cahaya (nurin ala nurin )
Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik merupakan seorang wali yang hidup masa kejayaan kerajaan Majapahit. Beliau sampai di gresik pada tahun 1404 M. Kala itu sudah di jumpai sekelompok kecil umat Islam di pesisir pantai Pulau Jawa.
Sebagian dari mereka merupakan saudagar yang menyebarkan agama islam dan juga berdagang, hal ini terbukti karena adanya makam seorang wanita yang bernama Fatimah binti Maimun yang wafat pada tahun 1082 M atau 475 H di daerah Lerang jepara.
Pada saat itu, islam belum berkembang dengan pesat. Menurut sejarah, Islam mulai berkembang pesat di Gresik semenjak Maulana Malik Ibrahim berdakwah di sana. Namun kala itu sudah ada seorang raja di pulau Jawa yang memeluk agama Islam. Raja itu bernama Ratu Sima yang beristana di Kalingga yang berada di daerah Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di kenal dengan berbagai nama. Di antaranya, Maulana Maghribi, disebut demikian karena beliau berasal dari daerah Maghribi, Afrika Utara.
Namun ada pula yang menyebutnya dengan Maulana Gresik atau Sunan Gresik. Sunan Gresik merupakan keturunan Ali Zainal Abidin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib. Di beri nama Sunan Gresik karena penyebaran dakwahnya di daerah Gresik.
Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa bersama dengan Raja Cermin beserta dengan putra putri nya. Raja Cermin adalah Raja Hindustan. Sebagian Riwayat ada yang meyebutkan bahwa Sunan Gresik datang dari Turki sebagai utusan dakwah Khalifah Turki Utsmaniyah.
Beliau pernah mengembara di Gujarat sehingga cukup berpengalaman menghadapi orang – orang Hindu. Yang mana saat itu raja dan rakyat masih beraga Hindu atau Budha , sebagai agama resmi kerajaan.
Maulana Malik Ibrahim terkenal sebagai Si Kakek Bantal. Penolong fakir, miskin dan juga ahli tata negara yang di hormati oleh para pangeran dan sultan. Berbagai gelar tersebut menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau untuk masyarakat Jawa. Beliau juga di kenal ahli pertanian dan pengobatan.
Semenjak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam, Sunan Giri mempunyai gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian.
Maulana Malik Ibrahim mempunyai sifat lemah lembut,welas asih. Dan ramah kepada semua orang baik muslim ataupun Hindu, yang membuat Maulana Maghribi sangat di segani oleh masyarakat.
Kepribadian yang terpuji itulah yang membuat banyak orang rela berbondong- bondong masuk Islam dengan sukarela dan menjadi pengikut setianya.
Di Gresik, Maulana Malik Ibrahim mendirikan sebuah pesantren, tempat yang di jadikan untuk mempelajari AL Qur’an, hadist, bahasa Arab, dan sebagainya di sana. Inilah yang menjadi cikal bakal pesantren di Jawa, Dari pesantren yang pertama berdiri tersebut beliau menuai hasil yang sangat memuaskan.
lahirlah para mubaligh yang kemudian tersebar luas ke seluruh Nusantara. Tradisi pesantren ini berkembang hingga sekarang.
Pengikut Sunan Gresik semakin bertambah, Beliau mempunyai niatan untuk mengislamkan Raja Majapahit. Hal itu di utarakan beliau kepada sahabatnya, Raja Cermin. Ternyata Raja Cermin juga mempunyai niatan yang sama untuk mengajak Prabu Brawijaya untuk masuk agama Islam.
Maka pada tahun 1321 M, Raja Cermin datang ke Gresik disertai putri nya yaitu Dewi Sari. Tujuan sang putri adalah untuk memberikan bimbingan kepada para putri istana Majapahit untuk mengenal Islam.
Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 M atau 822 H. Beliau di makamkan di Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel
blogsport.com
Sunan Ampel merupakan putra dari ayah yang bernama Syekh Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Samarqand. Samarqand merupakan wilayah besar yang melahirkan ulama- ulama’ besar seperti Imam Bukhari yang termasyhur sebagai perawi hadist shohih. Di Samarqand hidup pula seorang ulama’ besar yang bernama Syekh Jamaluddin Jumadil Kubra. Beliau mempunyai anak yang bernama Ibrahim.
Syekh Ibrahim Asmarakandi di perintahkan oleh sang ayah untuk berdakwah di wilayah negara- negara Asia. Beliau berhasil mengislamkan Raja Campa dan rakyatnya, Bahkan, kemudian raja Campa dijodohkan dengan putri raja yang bernama Dewi Candra Wulan.
Dari pernikahan Syekh Ibrahim Asmarakandi dengan Dewi Candra Wulan memiliki dua orang putera yaitu Raden Rahmat atau Sayid Ali Rahmatullah dan Raden Santri atau Sayid Ali Murtadho.
Adik dari Dewi Candra Wulan yang bernama Dewi Dwarawati di peristeri oleh Prabu Brawijaya dari Majapahit. Namun kala itu, Kerajaan Majapahit sedang mengalami masa kemunduran yang di sebabkan oleh perang antar saudara. Oleh sebab itu, Sang Prabu Brawijaya merasa sangat risau.
Kemudian Dewi Dwarawati mengusulkan untuk memanggil keponakannya yang tinggal di Campa yaitu Sayid Ali Rahmatullah. Karena beliau memang ahli dalam mengatasi kemerosotan budi pekerti.
Maka dikirimlah utusan dari negeri Campa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit yang kemudian disambut dengan senang hati oleh sang Raja Campa.
Berangkatlah Sayid Ali Rahmatullah ke tanah Jawa yang di temani oleh sang ayah yaitu Syekh Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi dan sang kakak yaitu Sayid Ali Murtadho.
Ada dugaan yang menyebutkan bahwa mereka tidak langsung menuju majapahit, namun singgah terlebih dahulu ke daerah Tuban. Namun ketika di Tuban, sang ayah jatuh sakit dan kemudian wafat.
Sepeninggal ayahanda, Sayid Ali Murtadho melanjutkan dakwahnya keliling Pulau Bali, Sumba, Sumbawa madura hingga mencapai Bima. Sementara Sayid Ali Rahmatullah melanjutkan perjalanan menuju Majapahit.
Sesampainya di Majapahit, beliau di sambut gembira oleh sang Prabu. Beliau di hadiah i sebidang tanah beserta bangunannya di Surabaya. Beliau diminta untuk mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti luhur.
Pada hari yang di tentukan, berangkatlah Sayid ali Rahmatullah ke Surabaya yang bernama Ampel dhenta. Prabu Brawijaya menyertakan 300 anggota keluarganya untuk mengikuti Sayid Ali Rahmatullah. Selama di perjalanan, beliau melakukan dakwah sehingga bertambah pula rombongannya. .Sebelum tiba di Ampel, beliau mendirikan sebuah langgar sederhana di Kembang Kuning yang letaknya delapan kilometer dari Ampel. Karena berdakwah di sekitar Ampel, maka beliau di sebut sebagai Sunan Ampel.
Sunan Ampel di sebut sebagai bapaknya para Wali. Beliau merupakan sesepuh wali songo, mufti atau petinggi agama Islam setanah Jawa. Beberapa murid dan putra beliau menjadi bagian dari Wali Songo. Diantaranya Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga.
Ajaran dari Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah moh limo. Artinya, tidak melakukan lima hal tercela. Moh limo tersebut yaitu, moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina).
Sunan Ampel di kenal sebagai pendakwah sekaligus ahli pidato yang pandai memikat pendengarnya. Ajaran Sunan Ampel begitu bermakna bagi anak keturunannya.
Sekalipun beliau telah wafat pada tahun 1481 M dengan candra sengkala ulama Ampel seda Masjid. Cerita lisan dari masyarakat meyebutkan bahwa beliau wafat saat sujud di masjid. Namun ada riwayat lain yang menyebutkan beliau wafat pada tahun 1406 Jawa.
Sunan Bonang
sumber: sindonews.net
Sunan Bonang merupakan seorang Wali yang mempunyai nama asli Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. Beliau lahir di daerah Ampel, surabaya pada tahun 1465. Beliau di tugaskan untuk berdakwah di daerah Bonang, Tuban. Semasa kecil, Sunan Bonang selalu di didik oleh sang ayah dengan disiplin dengan ketat. Ayah beliau merupakan Sunan Ampel.
Sunan Bonang pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok dan anak buahnya dengan hanya menggunakan tembang gending “Dharma” dan “Macapat”. Mendengar tembang tersebut , Kebondanu dan anak buahnya merasa lemas dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Setelah mereka bertaubat, mereka kemudian menjadi pengikut Sunan Bonang, Namun kesaktian Sunan Bonang tidak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya.
Pada masa hidupnya,Sunan Bonang termasuk penyokong Kerajaan Islam Demak. Beliau juga turut merancang sendi – sendi keprajuritan, peraturan muamalah, undang- undang , dan masjid Demak. Beliaulah yang memutuskan untuk pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.
Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab. Diantaranya, Ihya Ulumudin dari Al Ghazali dan Al Anthaki dari Dawud Al Anthaki. Tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani juga menjadi acuan baginya.
Ajaran Sunan Bonang memuat tiga tiang agama meliputi tasawuf, ushuludin, dan fikih. Dalam berdakwah, Sunan Bonang kerap menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat awam, Seperangkat gamelan bonang misalnya, yang bila di pukul mengeluarkan bunyi yang sangat merdu.
Jika sang gendang di pukul sendiri oleh sang sunan, suaranya sangat menyentuh hati para pendengarnya. Kemudian mereka berbondong – bondong datang ke masjid. Dalam bidang sastra budaya, sumbangan beliau meliputi dakwah melalui pewayangan san turut mendirikan masjid Demak.
Selain itu beliau juga menyempurnakan Instrumen gamelan, terutama bonang, kenong, dan kempul. Mengubah Suluk Wujil dan tembang “Macapat”. Pada zaman sekarang, salah satu ajaran Sunan Bonang telah di gubah menjadi syair pujian “Tombo Ati”.
Sunan Drajat
merdeka.com
Kata Drajat berasal dari bahasa Arab, yaitu darajat yang berarti martabat atau tingkatan. Sunan Drajat merupakan seorang putra dari Sunan Ampel dari pernikahannya dengan Dewi Candrawati. Sunan Drajat juga adik dari Sunan Bonang. Beliau hidup pada zaman Majapahit Akhir, sekitar tahun 1478 M.
Diantara para Wali songo, mungkin beliaulah yang mempunyai nama paling banyak. Ketika muda, Sunan Drajat dikenal sebagai Raden Qosim atau Kasim.
Selain itu, berbagai naskah kuno menyebutkan beberapa nama beliau yang lain. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifudin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munar.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah “paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandhang marang kang kawudan; paring payung marang kang kodanan.” Artinya, berikanlah tongkat kepada orang yang buta; berikanlah makan pada orang yang kelaparan; berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang; berikanlah payung pada orang yang kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan kaumnya. Beliau kerap kali berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindung dari gangguan makhluk halus yang konon cerita sangat meraja lela selama adanya setelah pembukaan hutan.
Usai sholat Ashar beliau keliling perkampungan seraya berdzikir dan mengingatkan penduduk untuk melaksanakan sholat magrib. “Berhentilah bekerja, jangan lupa sholat,” nasihat beliau dengan membujuk. Di saat yang lain beliau juga merawat dan mengobati warga yang sakit dengan ramuan tradisional dan doa.
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawannannya. Beliau menurunkan ajaran agar tidak saling menyakiti, baik melaui perkataan atau perbuatan. “Bapang den simpangi, ana catur mungkur”, demikian petuahnya. Artinya, janganlah mendengarkan pembicaraan yang menjelek jelekkan orang lain dan hindarilah perbuatan yang dapat mencelakai orang lain.
Kelembutan Sunan Drajat telah mendorongnya untuk mengenalkan Islam melalui konsep dakwah bil hikmah, yaitu secara bijak dan tanpa memaksa.
Ada beberapa cara yang dilakukan Sunan Drajat dalam menyampaikan dakwahnya. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid ataupun di langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren, lantas memberikan fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah. Ketiga, melalui kesenian tradisional. Beliau juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Sunan Kalijaga
sumber : pesugihan.com
Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang paling poluler di Jawa karena beliau lebih di kenal luas oleh para masyarakat. Bahkan sebagian orang Jawa menganggapnya sebagai guru agung tanah jawa. Beliau mempunyai nama kecil yaitu Raden Sahid.
Raden Sahid merupakan putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Tuban. Sang Tumenggung merupakan keturunan Ranggalawe yang sudah beragama Islam dan berganti nama menjadi Raden Sahur. Ibunda dari Raden Sahid bernama Dewi Nawangrum.
Semasa kecil, Raden Sahid sudah mempelajari Islam di tuban. Akan tetapi, melihat kondisi lingkungan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam sehingga memberontaklah Raden Sahid. Ia melihat banyak Rakyat jelata yang hidupnya sengsara. Sedangkan para bangsawan Tuban hidup dengan berfoya- foya. Para pemuka agama yang diam saja tak banyak berpendapat. Di sisi lain, pejabat kadipaten pun sewenang wenang memperlakukan rakyat kecil. Karena itu, hati Raden Sahid merasa sangat gelisah.
Raden Sahid muda memiliki solidaritas tinggi terhadap kawan kawannya. Tak segan – segan ia bergaul dengan di lingkungan rakyat. Di kala itulah raden tak lagi tahan melihat kondisi penderitaan kaum miskin pedesaan.
Maka ketika malam hari, ia sering mengambil bahan makanan dari gudang kadipaten dan memberikannya kepada rakyat miskin.
Lambat laun, perbuatan Raden Sahid tersebut kemudian di ketahui oleh pihak ayahnya. Sang Raden pun kemudian di usir dari istana sehingga akhirnya ia mengembara tanpa tujuan yang pasti. Di hutan Jatiwangi, yaitu di perbatasan Kudus dan Pati, menetaplah Raden Sahid. Di sana beliau merampok orang- orang kaya yang pelit terhadap orang miskin. Kemudian hasilnya beliau berikan pada mereka kaum miskin.
Sunan kalijaga dalam berdakwahnya tidak mendirikan pesantren. Karena, menurut beliau semua dunia adalah pesantren. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga menggubah tembang “ilir- ilir”, membuat kreasi seni batik yang bermotifkan lukisan burung, menggubah tembang “macapat”, “Dhandhanggula”, menyelaraskan gong sekaten. Dan menyungging wayang kulit untuk sarana dakwah.
Tata cara pemeluk agama lama, seperti semadi dan sesaji justru di gunakan sebagai alat penyebaran agama Islam. Oleh karena itulah sunan Kalijaga memelopori ritual peringatan maulid Nabi Muhammad di Surakarta dan Yogyakarta dengan upacara Sekaten, Grebeg Maulud, Grebeg Besar, dan Grebeg Syawal.
Sunan Kudus
sumber.i.ytimg.com
Sunan Kudus mempunyai nama yaitu Ja’far Shodiq. Beliau merupakan ulama’ besar yang menyebarkan Islam di sekitar Kudus, Jawa Tengah. Beliau lahir dari Ayah yang bernama Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di jipang Panolan, Blora pada pertengahan abad 15 M atau 9 H.
Meski bergelar sebagai Sunan Kudus, namun beliau bukanlah berasal dari Kudus melainkan dari Demak.
Di sanalah Ja’far Shodiq dilahirkan sebagai anak dari perkawinan Sunan Ngudung dan Syarifah. Sejak Kecil, Ja’far Shodiq ingin hidup merdeka dan membaktikan hidupnya untuk kepentingan agama Islam.
Cara simpatik Sunan Kudus membuat para penganut agama lain terpikat untuk mendengarkan dakwahnya. Surah Al Baqarah, yang dalam bahasa Arab berarti sapi, sering di bacakan Sunan agar memikat pendengar. Bangunan di sekitar Masjid Kudus di bangun dengan desain bangunan Hindu karena pada masa itu memang yang mendominasi adalah masyarakat beragama Hindu.
Kebiasaan unik Sunan Kudus dalam berdakwah adalah acara bedug dandang yang merupakan kegiatan menunggu bulan Ramadhan. Untuk mengundang para Jemaah datang ke Masjid, Sunan Kudus menabuh beduk bertalu- talu. Setelah mereka semua berkumpul, Sunan mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa.
Nama Sunan Kudus di kalangan masyarakat setempat dimitoskan sebagai seorang tokoh yang terkenal dengan seribu satu kesaktiannya. Sunan Kudus kemudian wafat pada tahun 1550 M atau 960 H. Beliau di makamkan di Kudus.
Sunan Muria
www.kabarmakkah.com
Sunan Muria merupakan putera dari Sunan Kalijaga. Ibu Sunan Muria bernama Dewi Sarah. Istri Sunan Muria adalah Dewi Sujinah yang merupakan kakak dari Sunan Kudus. Nama Sunan Muria kecil adalah Raden Umar Sahid. Beliau di sebut Sunan Muria karena wilayah syiar Islamnya meliputi lingkungan Gunung Muria.
Ketangguhan Sunan Muria dalam berdakwah tidak dapat di ragukan lagi. Gaya berdakwah yang modern, mengikuti Sunan Kalijaga, dan menyelusup lewat berbagai tradisi Jawa.
Misalnya, adat kenduri pada hari- hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dina hingga nyewu, tidak di haramkan oleh sang sunan. Tradisi berbau klenik, seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji di ganti dengan do’a dan sholawat.
Selain itu, Sunan Muria juga berdakwah lewat berbagi kesenian Jawa. Misalnya, menciptakan tembang “Macapat”, “Sinom”, dan “Kinanti” yang hingga sekarang masih lestari. Lewat tembang- tembang itulah beliau mengajak umat untuk mengamalkan ajaran Islam.
Sunan Muria lebih senang berdakwah kepada rakyat jelata dari pada kaum bangsawan. Daerah dakwahnya cukup luas dan tersebar. Mulai dari lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juwana hingga pesisir utara.
Sunan Gunung Jati
sejukkan-iman.blogspot.com
Sunan Gunung Jadi memiliki nama asli yaitu Sarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah berasal dari Mesir. Ibunda Sunan Gunung Jati merupakan putri dari Prabu Siliwangi yang bernama Rara Santang yang kemudian di peristri oleh Raja yang bernama Syarif Abdullah yang merupakan seorang Raja dari Mesir.
Ketika Syarif Hidayatullah masih berusia 21 tahun, Syarif Abdullah meninggal dunia. Syarif Hidayatullah pun hendak di lantik sebagai pengganti Raja Mesir. Tetapi ia menolak.
Syarif Hidayatullah memilih untuk berkunjung ke Jawa tempat di mana sang Ibu di lahirkan untuk berdakwah. Sewaktu di Mesir, Syarif Hidayatullah kerap berguru kepada para ulama Mesir, sehingga beliau tidak canggung lagi ketika harus berdakwah di Jawa.
Di Jawa, Syarif Hidayatullah meneruskan perguruan agama yang di bangun Syekh Datuk Kahfi, di Gunung jati. Oleh karena itulah beliau di sebut sebagai Sunan Gunung Jati. Pangeran Cakrabuwana mengawinkan putrinya yaitu Dewi Pakungwati dengan Sunan Gunung Jati. . Setelah beliau berusia lanjut, Pangeran Cakrabuwana menyerahkan tahta Caruban Larang kepada sang menantu yaitu Sunan Gunung Jati.
Sunan Giri
Napuris.blogspot.com
Sunan Giri merupakan seorang anak yang berasal dari seorang ayah yaitu Maulana Ishak yang berasal dari Pasai. Dan ibunya bernama Dewi Sekardaru, putri Prabu Menak Sembayu, Raja Blambangan.
Sunan Giri mulanya bernama Raden Paku, yaitu nama yang di berikan oleh ayahnya ketika hendak pergi meninggalkan Blambangan, sementara sang istri saat itu tengah hamil tujuh bulan.
Setelah lahirnya sang putra, ayahanda Dewi Sekardaru yaitu raja Blambangan memerintahkan untuk memasukkan bayi tersebut ke dalam peti kemudian di hanyutkan di lautan atas hasutan dari patihnya.
Bayi tersebut kemudian di temukan oleh rombongan kapal pesiar yang kapalnya macet karena adanya peti yang mengganjal kapal tersebut. Diangkatlah peti tersebut lalu di buka. Seluruh awak kapal tersebut sangat terkejut. Karena mereka menemukan bayi mungil yang tampan di dalam peti tersebut.
Bayi tersebut kemudian di serahkan kepada majikan mereka oleh awak kapal yaitu, Nyai Ageng Pinatih yang merupakan mantan istri dari Patih kerajaan Blambangan. Dan bayi tersebut di angkat menjadi anaknya. Singkat cerita, pada usia 12 tahun kemudian anak tersebut di serahkan kepada Sunan Ampel untuk dididik.
Raden Paku yang awalnya adalah seorang pedagang yang membantu ibunya, setelah menikah Raden Paku meninggalkan dunia perdagangan dan konsentrasi pada syiar Islam.
Lantas, bermunajatlah beliau di sebuah gua desa kembangan dan Kebomas, Kabupaten Gresik selama 50 hari 40 malam. Saat itu beliau teringat pesan ayahnya untuk mendirikan pesantren yang bertanah sama yang di wasiatkan beliau.
Usai bermunajat, di carilah tempat tersebut dan akhirnya Raden Paku menemukan tanah tersebut di Desa Sidomukti, tepatnya si sebuah daerah perbukitan. Lalu beliau membangun sebuah pesantren di sana. Karena tempatnya di gunung, tempat itu di sebut sebagai Pesantren Giri, semenjak itulah raden Paku di sebut sebagai Sunan Giri.
Sunan Giri dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Beliau pernah menyusun peraturan ketata pajakan dan undang – undang kerajaan Demak. Berbagai pandangan atau petuah nya di jadikan rujukan.
Jasa dan perjuangan sunan Giri terbesar adalah pengislaman penduduk Jawa bagian Timur. Tak terhitung jumlah orang masuk islam karena bimbingan beliau.
Sekian artikel penjelasan singkat sejarah para wali yang sangat berjasa dalam pengislaman di tanah Jawa. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari cerita cerita tersebut, dan bisa menjadikannya sebagai tauladan yang baik
Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofi ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :
Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
Jroning suko kudu eling Ian waspodo(di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita – cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
Meper Hardaning Pancadriya(kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
Heneng – Hening – Henung(dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita – cita luhur).
Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan Sholat lima waktu)
Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
Moh Limo adalah falsafah yang telah diajarkan oleh Sunan Ampel beberapa abad yang lalu, yakni “Moh Limo” atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu :
falsafah yang telah diajarkan oleh Sunan Ampel beberapa abad yang lalu, yakni falsafah “Moh Limo” atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu :
1. Moh Main atau tidak mau berjudi
Segera basmi segala bentuk perjudian, baik perjudian kelas bawah maupun perjudian kelas atas. Karena bangsa kita tidak akan pernah mendapatkan keberkahan hidup jika perjudian menjamur bebas di sana-sini.
2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan.
Tinggalkan segala bentuk minum-minuman keras yang hanya membawa kenikmatan sesaat, tetapi kemudhorotan yang akan ditimbulkannya jauh lebih besar dari manfaatnya.
3. Moh Maling atau tidak mau mencuri
Segala bentuk pencurian, termasuk di dalamnya korupsi, kolusi, suap-menyuap dan sebagainya harus segera ditinggalkan, jika tidak malapetaka sosial akan semakin marak dalam kehidupan bangsa kita.. Selain itu begitu maraknya korupsi dari birokrasi paling bawah sampai birokrasi teratas menyebabkan bangsa kita akan semakin terpuruk.
4. Moh Madat atau tidak mau menghisap candu, ganja, narkoba dan lain-lain.
Penyalahgunaan narkoba adalah sumber kehancuran negara. Penyakit ini akan menghancurkan bangsa kita, apalagi pengguna terbesar narkoba adalah generasi muda. Jika hal ini terus dibiarkan, apa yang terjadi pada bangsa kita 10, 15, atau 20 tahun yang akan datang. Wallahu a’lam.
5. Moh Madon atau tidak mau berzina/main perempuan yang bukan istrinya.
Penyakit masyarakat lainnya yang begitu mewabah dalam masyarakat kita adalah perzinaan. Arus globalisasi yang begitu dahsyat telah banyak memberi pengaruh besar bagi menjamurnya segala bentuk prostitusi dan perselingkuhan. Kerusakan seperti ini sudah dianggap “biasa” oleh masyarakat kita.
Padahal kalau perbuatan seperti ini tidak dicegah, tunggulah azab yang besar akan segera datang dari Allah SWT.
Suluk Si Wujil Pesan Kanjeng Sunan Bonang, 1 Inilah ceritera si Wujil Berkata pada guru yang diabdinya Ratu Wahdat Ratu Wahdat nama gurunya Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung Yang tinggal di desa Bonang Ia minta maaf Ingin tahu hakikat Dan seluk beluk ajaran agama Sampai rahsia terdalam
2 Sepuluh tahun lamanya Sudah Wujil Berguru kepada Sang Wali Namun belum mendapat ajaran utama Ia berasal dari Majapahit Bekerja sebagai abdi raja Sastra Arab telah ia pelajari Ia menyembah di depan gurunya Kemudian berkata Seraya menghormat Minta maaf
3 “Dengan tulus saya mohon Di telapak kaki tuan Guru Mati hidup hamba serahkan Sastra Arab telah tuan ajarkan Dan saya telah menguasainya Namun tetap saja saya bingung Mengembara kesana-kemari Tak berketentuan. Dulu hamba berlakon sebagai pelawak Bosan sudah saya Menjadi bahan tertawaan orang
4 Ya Syekh al-Mukaram! Uraian kesatuan huruf Dulu dan sekarang Yang saya pelajari tidak berbeda Tidak beranjak dari tatanan lahir Tetap saja tentang bentuk luarnya Saya meninggalkan Majapahit Meninggalkan semua yang dicintai Namun tak menemukan sesuatu apa Sebagai penawar
5 Diam-diam saya pergi malam-malam Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna Semua pendeta dan ulama hamba temui Agar terjumpa hakikat hidup Akhir kuasa sejati Ujung utara selatan Tempat matahari dan bulan terbenam Akhir mata tertutup dan hakikat maut Akhir ada dan tiada
6 Ratu Wahdat tersenyum lembut “Hai Wujil sungguh lancang kau Tuturmu tak lazim Berani menagih imbalan tiggi Demi pengabdianmu padaku Tak patut aku disebut Sang Arif Andai hanya uang yang diharapkan Dari jerih payah mengajarkan ilmu Jika itu yang kulakukan Tak perlu aku menjalankan tirakat
7 Siapa mengharap imbalan uang Demi ilmu yang ditulisnya Ia hanya memuaskan diri sendiri Dan berpura-pura tahu segala hal Seperti bangau di sungai Diam, bermenung tanpa gerak. Pandangnya tajam, pura-pura suci Di hadapan mangsanya ikan-ikan Ibarat telur, dari luar kelihatan putih Namuni isinya berwarna kuning
8 Matahari terbenam, malam tiba Wujil menumpuk potongan kayu Membuat perapian, memanaskan Tempat pesujudan Sang Zahid Di tepi pantai sunyi di Bonang Desa itu gersang Bahan makanan tak banyak Hanya gelombang laut Memukul batu karang Dan menakutkan
9 Sang Arif berkata lembut “Hai Wujil, kemarilah!” Dipegangnya kucir rambut Wujil Seraya dielus-elus Tanda kasih sayangnya “Wujil, dengar sekarang Jika kau harus masuk neraka Karena kata-kataku Aku yang akan menggantikan tempatmu”…
11 “Ingatlah Wujil, waspadalah! Hidup di dunia ini Jangan ceroboh dan gegabah Sadarilah dirimu Bukan yang Haqq Dan Yang Haqq bukan dirimu Orang yang mengenal dirinya Akan mengenal Tuhan Asal usul semua kejadian Inilah jalan makrifat sejati”
12 Kebajikan utama (seorang Muslim) Ialah mengetahui hakikat salat Hakikat memuja dan memuji Salat yang sebenarnya Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib Tetapi juga ketika tafakur Dan salat tahajud dalam keheningan Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa Dan termasuk akhlaq mulia
13 Apakah salat yang sebenar-benar salat? Renungkan ini: Jangan lakukan salat Andai tiada tahu siapa dipuja Bilamana kaulakukan juga Kau seperti memanah burung Tanpa melepas anak panah dari busurnya Jika kaulakukan sia-sia Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14 Lalu apa pula zikir yang sebenarnya? Dengar: Walau siang malam berzikir Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan Zikirmu tidak sempurna Zikir sejati tahu bagaimana Datang dan perginya nafas Di situlah Yang Ada, memperlihatkan Hayat melalui yang empat
15 Yang empat ialah tanah atau bumi Lalu api, udara dan air Ketika Allah mencipta Adam Ke dalamnya dilengkapi Anasir ruhani yang empat: Kahar, jalal, jamal dan kamal Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya Begitulah kaitan ruh dan badan Dapat dikenal bagaimana Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16 Anasir tanah melahirkan Kedewasaan dan keremajaan Apa dan di mana kedewasaan Dan keremajaan? Dimana letak Kedewasaan dalam keremajaan? Api melahirkan kekuatan Juga kelemahan Namun di mana letak Kekuatan dalam kelemahan? Ketahuilah ini
17 Sifat udara meliputi ada dan tiada Di dalam tiada, di mana letak ada? Di dalam ada, di mana tempat tiada? Air dua sifatnya: mati dan hidup Di mana letak mati dalam hidup? Dan letak hidup dalam mati? Kemana hidup pergi Ketika mati datang? Jika kau tidak mengetahuinya Kau akan sesat jalan
18 Pedoman hidup sejati Ialah mengenal hakikat diri Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk Oleh karena itu ketahuilah Tempat datangnya yang menyembah Dan Yang Disembah Pribadi besar mencari hakikat diri Dengan tujuan ingin mengetahui Makna sejati hidup Dan arti keberadaannya di dunia
19 Kenalilah hidup sebenar-benar hidup Tubuh kita sangkar tertutup Ketahuilah burung yang ada di dalamnya Jika kau tidak mengenalnya Akan malang jadinya kau Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil Sia-sia semata Jika kau tak mengenalnya. Karena itu sucikan dirimu Tinggalah dalam kesunyian Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20 Keindahan, jangan di tempat jauh dicari Ia ada dalam dirimu sendiri Seluruh isi jagat ada di sana Agar dunia ini terang bagi pandangmu Jadikan sepenuh dirimu Cinta Tumpukan pikiran, heningkan cipta Jangan bercerai siang malam Yang kaulihat di sekelilingmu Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21 Dunia ini Wujil, luluh lantak Disebabkan oleh keinginanmu Kini, ketahui yang tidak mudah rusak Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi Bentangan pengetahuan ini luas Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya Orang yang mengenal hakikat Dapat memuja dengan benar Selain yang mendapat petunjuk ilahi Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22 Karena itu, Wujil, kenali dirimu Kenali dirimu yang sejati Ingkari benda Agar nafsumu tidur terlena Dia yang mengenal diri Nafsunya akan terkendali Dan terlindung dari jalan Sesat dan kebingungan Kenal diri, tahu kelemahan diri Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23 Bila kau mengenal dirimu Kau akan mengenal Tuhanmu Orang yang mengenal Tuhan Bicara tidak sembarangan Ada yang menempuh jalan panjang Dan penuh kesukaran Sebelum akhirnya menemukan dirinya Dia tak pernah membiarkan dirinya Sesat di jalan kesalahan Jalan yang ditempuhnya benar
24 Wujud Tuhan itu nyata Mahasuci, lihat dalam keheningan Ia yang mengaku tahu jalan Sering tindakannya menyimpang Syariat agama tidak dijalankan Kesalehan dicampakkan ke samping Padahal orang yang mengenal Tuhan Dapat mengendalikan hawa nafsu Siang malam penglihatannya terang Tidak disesatkan oleh khayalan
35 Diam dalam tafakur, Wujil Adalah jalan utama (mengenal Tuhan) Memuja tanpa selang waktu Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya) Disebabkan oleh makrifat Tubuhnya akan bersih dari noda Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini Dari orang arif yang tahu Agar kau mencapai hakikat Yang merupakan sumber hayat
36 Wujil, jangan memuja Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja Juga sia-sia orang memuja Tanpa kehadiran Yang Dipuja Walau Tuhan tidak di depan kita Pandanglah adamu Sebagai isyarat ada-Nya Inilah makna diam dalam tafakur Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38 Renungi pula, Wujil! Hakikat sejati kemauan Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita Berpikir dan menyebut suatu perkara Bukan kemauan murni Kemauan itu sukar dipahami Seperti halnya memuja Tuhan Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak Pun tidak membuatmu membenci orang Yang dihukum dan dizalimi Serta orang yang berselisih paham
39 Orang berilmu Beribadah tanpa kenal waktu Seluruh gerak hidupnya Ialah beribadah Diamnya, bicaranya Dan tindak tanduknya Malahan getaran bulu roma tubuhnya Seluruh anggota badannya Digerakkan untuk beribadah Inilah kemauan murni
40 Kemauan itu, Wujil! Lebih penting dari pikiran Untuk diungkapkan dalam kata Dan suara sangatlah sukar Kemauan bertindak Merupakan ungkapan pikiran Niat melakukan perbuatan Adalah ungkapan perbuatan Melakukan shalat atau berbuat kejahatan Keduanya buah dari kemauan