PADAMKANLAH API DI DALAM DIRIMU.
Ada seorang bercerita, “Kenapa dalam beberapa hari ini ketika sholat dan dzikir, rasanya sangat hambar, tidak bisa mengalami kekhusyu’an dan ketenangan...?”
“ Coba kamu teliti dan amati dirimu dalam beberapa hari ini, jika kamu sering mengalami hati yang kesal, kecewa dan marah. Maka semua kondisi hati seperti itu bisa merusak kualitas ruhani dalam jiwamu. Di rumah kamu marah, di jalan kamu marah di tempat kerja kamu juga marah, setiap posting kamu juga meluapkan kemarahan, maka efeknya sangat jelek ke jiwa. Maka jangan heran jika kamu dalam beribadah tidak menemukan ketenangan dan kebahagiaan.” Jawabku.
Kemarahan itu membakar semua keindahan dan ketenangan di dalam jiwa, ibarat sebuah kertas dibakar, akhirnya menjadi panas dan debu yang kotor. Begitu juga ibarat sungai yang bening, marah itu seperti air lumpur yang datang, sehingga sungainya menjadi kotor berlumpur, semua pemandangan yang indah di dalam air tersebut menjadi jelek dan kotor.
Orang yang suka marah, maka akan membuat ketagihan marah, maka jangan heran jika sedikit-sedikit akan marah, jika menjadi direktur, maka hobinya memarahi anak buahnya, jika menjadi guru, maka mudah tersinggung dan suka memarahi kepada muridnya, jika menjadi sopir, maka mudah marah jika disalip mobil lainnya, jika menjadi pedagang, maka suka marah jika sebelahnya jualannya laris, jika jadi politikus, maka hobinya marah dan suka mengumpat, jika menjadi ulamak, maka ceramahnya suka marah dan seenaknya sendiri.”
Marah itu disimbolkan dengan wujud api, makanya orang yang sedang marah, wajahnya merah, darah naik ke kapala, di dada terasa panas terbakar. Jika orang hobinya marah seperti itu, maka jiwa dan hatinya semakin gelap, karena gosong/hangus akibat terbakar oleh sifat pemarahnya
Orang yang hobinya pemarah, maka cahaya jiwanya gelap, auranya negatif, tidak ada orang yang betah dekat dengannya, kecuali orag tersebut memang sefrekwensi, alias hobinya juga sama yaitu pemarah. Di samping itu juga merusak kesehatan fisik, karena tekanan darah dan detak jantung yang tidak stabil.
Lalu Bagaimana Cara Menaklukan Kemarahan...?
Sebetulnya kemarahan itu tidak dilarang mutlak dalam agama, melainkan harus adil, yaitu menempatkan kemarahan kepada tempatnya. Misalkan, kita marah kepada orang yang mengganggu anak istri kita. Marah kepada pejabat yang korupsi, atau marah kepada orang yang suka mendholimi orang lain.
Untuk menundukkan dan menaklukan kemarahan yang ada di dalam diri adalah dengan cara memperbanyak dzikir kalimat tauhid, kibarkan kalimat tauhid tersebut dalam hati dan jiwa, sehingga semua sifat hewani dan sifat yang negatif dalam jiwa kita menjadi bersih dan bercahaya.
Saya sendiri juga masih belajar menaklukkan sifat marah di dalam jiwa, biasanya jika marah akan saya catat, lalu dalam satu tahun akan saya hitung. Itupun marahnya hanya kecewa dan panas di hati. Tidak sampai ngomel-ngomel dan ngamuk baik secara lisan atau tindakan.
Lalu sayapun meneliti dan mengamati, mengapa kok hati masih mudah panas dan marah, padahal biasanya kuat dan tenang...? ternyata kecapekan itu sangat menunjang emosi lebih dominan ketimbang hati nurani.
Jika habis marah di dalam hati, rasanya sekujur tubuh menjadi panas seperti terbakar, aura tubuh menjadi kacau, di hati rasanya tidak enak. Maka yang saya lakukan adalah menormalkan dengan memperbanyak istighfar ribuan kali, setelah itu dzikir kalimat tauhid.
Untuk menormalkan dan memurnikan kondisi tubuh dan jiwa menjadi normal seperti biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk dzikir taubat. Itu yang saya alami, mungkin para pembaca mempunyai pengalaman yang berbeda. Baru setelah itu bisa merasakan keheningan dan ketenangan dalam sholat dan dzikir.
Sifat pemarah itu adalah “ Api Neraka “ di dalam diri, jika setiap hari kita malah mengipas api tersebut, maka apinya menjadi besar, sehingga hati dan jiwa mudah terbakar. Maka hidupnya tidak tenang dan tidak bahagia, itulah simbol atau miniatur Neraka dalam diri
Untuk itu marilah kita padamkan “ Neraka” yang ada di dalam diri, agar kita bisa merasakan “Surga” di dalam diri.
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. [Ali ‘Imrân/3 : 134].
Ada seorang bercerita, “Kenapa dalam beberapa hari ini ketika sholat dan dzikir, rasanya sangat hambar, tidak bisa mengalami kekhusyu’an dan ketenangan...?”
“ Coba kamu teliti dan amati dirimu dalam beberapa hari ini, jika kamu sering mengalami hati yang kesal, kecewa dan marah. Maka semua kondisi hati seperti itu bisa merusak kualitas ruhani dalam jiwamu. Di rumah kamu marah, di jalan kamu marah di tempat kerja kamu juga marah, setiap posting kamu juga meluapkan kemarahan, maka efeknya sangat jelek ke jiwa. Maka jangan heran jika kamu dalam beribadah tidak menemukan ketenangan dan kebahagiaan.” Jawabku.
Kemarahan itu membakar semua keindahan dan ketenangan di dalam jiwa, ibarat sebuah kertas dibakar, akhirnya menjadi panas dan debu yang kotor. Begitu juga ibarat sungai yang bening, marah itu seperti air lumpur yang datang, sehingga sungainya menjadi kotor berlumpur, semua pemandangan yang indah di dalam air tersebut menjadi jelek dan kotor.
Orang yang suka marah, maka akan membuat ketagihan marah, maka jangan heran jika sedikit-sedikit akan marah, jika menjadi direktur, maka hobinya memarahi anak buahnya, jika menjadi guru, maka mudah tersinggung dan suka memarahi kepada muridnya, jika menjadi sopir, maka mudah marah jika disalip mobil lainnya, jika menjadi pedagang, maka suka marah jika sebelahnya jualannya laris, jika jadi politikus, maka hobinya marah dan suka mengumpat, jika menjadi ulamak, maka ceramahnya suka marah dan seenaknya sendiri.”
Marah itu disimbolkan dengan wujud api, makanya orang yang sedang marah, wajahnya merah, darah naik ke kapala, di dada terasa panas terbakar. Jika orang hobinya marah seperti itu, maka jiwa dan hatinya semakin gelap, karena gosong/hangus akibat terbakar oleh sifat pemarahnya
Orang yang hobinya pemarah, maka cahaya jiwanya gelap, auranya negatif, tidak ada orang yang betah dekat dengannya, kecuali orag tersebut memang sefrekwensi, alias hobinya juga sama yaitu pemarah. Di samping itu juga merusak kesehatan fisik, karena tekanan darah dan detak jantung yang tidak stabil.
Lalu Bagaimana Cara Menaklukan Kemarahan...?
Sebetulnya kemarahan itu tidak dilarang mutlak dalam agama, melainkan harus adil, yaitu menempatkan kemarahan kepada tempatnya. Misalkan, kita marah kepada orang yang mengganggu anak istri kita. Marah kepada pejabat yang korupsi, atau marah kepada orang yang suka mendholimi orang lain.
Untuk menundukkan dan menaklukan kemarahan yang ada di dalam diri adalah dengan cara memperbanyak dzikir kalimat tauhid, kibarkan kalimat tauhid tersebut dalam hati dan jiwa, sehingga semua sifat hewani dan sifat yang negatif dalam jiwa kita menjadi bersih dan bercahaya.
Saya sendiri juga masih belajar menaklukkan sifat marah di dalam jiwa, biasanya jika marah akan saya catat, lalu dalam satu tahun akan saya hitung. Itupun marahnya hanya kecewa dan panas di hati. Tidak sampai ngomel-ngomel dan ngamuk baik secara lisan atau tindakan.
Lalu sayapun meneliti dan mengamati, mengapa kok hati masih mudah panas dan marah, padahal biasanya kuat dan tenang...? ternyata kecapekan itu sangat menunjang emosi lebih dominan ketimbang hati nurani.
Jika habis marah di dalam hati, rasanya sekujur tubuh menjadi panas seperti terbakar, aura tubuh menjadi kacau, di hati rasanya tidak enak. Maka yang saya lakukan adalah menormalkan dengan memperbanyak istighfar ribuan kali, setelah itu dzikir kalimat tauhid.
Untuk menormalkan dan memurnikan kondisi tubuh dan jiwa menjadi normal seperti biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk dzikir taubat. Itu yang saya alami, mungkin para pembaca mempunyai pengalaman yang berbeda. Baru setelah itu bisa merasakan keheningan dan ketenangan dalam sholat dan dzikir.
Sifat pemarah itu adalah “ Api Neraka “ di dalam diri, jika setiap hari kita malah mengipas api tersebut, maka apinya menjadi besar, sehingga hati dan jiwa mudah terbakar. Maka hidupnya tidak tenang dan tidak bahagia, itulah simbol atau miniatur Neraka dalam diri
Untuk itu marilah kita padamkan “ Neraka” yang ada di dalam diri, agar kita bisa merasakan “Surga” di dalam diri.
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. [Ali ‘Imrân/3 : 134].
0 komentar:
Posting Komentar