Minggu, 03 Februari 2019

Padamkan Api di dalam Dirimu

PADAMKANLAH API DI DALAM DIRIMU.

Ada seorang bercerita,  “Kenapa dalam beberapa hari ini  ketika sholat dan dzikir, rasanya sangat hambar, tidak bisa mengalami kekhusyu’an dan  ketenangan...?”

“ Coba kamu teliti dan amati dirimu dalam beberapa hari ini, jika kamu sering mengalami  hati yang kesal, kecewa dan marah. Maka semua kondisi hati seperti itu bisa merusak kualitas ruhani dalam jiwamu. Di rumah kamu marah, di jalan kamu marah di tempat kerja kamu juga marah, setiap posting  kamu juga meluapkan kemarahan, maka  efeknya sangat jelek ke jiwa. Maka jangan heran jika kamu dalam beribadah tidak menemukan ketenangan dan kebahagiaan.” Jawabku.

Kemarahan itu membakar semua keindahan dan ketenangan di dalam jiwa, ibarat sebuah kertas dibakar, akhirnya menjadi panas dan debu yang kotor. Begitu juga ibarat sungai yang bening, marah itu seperti air lumpur yang datang, sehingga sungainya menjadi kotor berlumpur, semua pemandangan yang indah di dalam air tersebut menjadi jelek dan kotor.

Orang yang suka marah, maka akan membuat ketagihan  marah, maka jangan heran jika sedikit-sedikit akan marah, jika menjadi direktur, maka hobinya memarahi anak buahnya, jika menjadi guru, maka mudah tersinggung dan suka memarahi kepada muridnya, jika menjadi sopir, maka mudah marah jika disalip mobil lainnya,  jika menjadi pedagang, maka suka marah jika sebelahnya jualannya  laris, jika jadi politikus, maka hobinya marah dan suka mengumpat, jika menjadi ulamak, maka ceramahnya suka marah dan seenaknya sendiri.”

Marah itu disimbolkan dengan wujud api, makanya orang yang sedang marah, wajahnya merah, darah naik ke kapala, di dada  terasa  panas terbakar. Jika orang hobinya marah seperti itu, maka  jiwa dan hatinya semakin gelap, karena gosong/hangus akibat terbakar oleh sifat pemarahnya

Orang yang hobinya pemarah, maka  cahaya jiwanya gelap, auranya negatif, tidak ada orang yang  betah dekat dengannya, kecuali orag tersebut memang sefrekwensi, alias hobinya juga sama yaitu pemarah. Di samping itu juga merusak kesehatan fisik, karena tekanan darah dan  detak jantung yang tidak stabil.

Lalu Bagaimana Cara Menaklukan Kemarahan...?

Sebetulnya kemarahan itu tidak dilarang mutlak dalam agama, melainkan harus adil, yaitu menempatkan kemarahan kepada tempatnya. Misalkan, kita marah kepada orang yang mengganggu anak istri kita. Marah kepada pejabat yang korupsi, atau marah kepada orang yang suka mendholimi orang lain.

Untuk menundukkan dan menaklukan kemarahan yang ada di dalam diri adalah dengan cara memperbanyak dzikir kalimat tauhid, kibarkan kalimat tauhid tersebut dalam hati dan jiwa, sehingga semua sifat hewani dan sifat yang negatif dalam jiwa kita menjadi bersih dan bercahaya.

Saya sendiri juga masih belajar menaklukkan  sifat marah di dalam jiwa, biasanya jika marah akan saya catat, lalu dalam satu tahun  akan saya hitung. Itupun marahnya hanya kecewa dan panas di hati. Tidak sampai ngomel-ngomel dan ngamuk baik secara lisan atau tindakan.

Lalu sayapun meneliti dan mengamati, mengapa  kok hati masih mudah panas dan marah, padahal biasanya kuat dan tenang...? ternyata  kecapekan itu sangat menunjang emosi lebih dominan ketimbang hati nurani.

Jika habis marah di dalam hati, rasanya sekujur tubuh menjadi panas seperti terbakar, aura tubuh menjadi kacau,  di hati rasanya tidak enak. Maka yang saya lakukan adalah menormalkan dengan memperbanyak istighfar ribuan kali, setelah itu dzikir kalimat tauhid.

Untuk menormalkan dan memurnikan kondisi tubuh dan jiwa menjadi normal seperti biasanya membutuhkan waktu tiga hari untuk dzikir taubat. Itu yang saya alami, mungkin para pembaca  mempunyai pengalaman yang berbeda. Baru setelah itu bisa merasakan keheningan dan ketenangan dalam sholat dan dzikir.

Sifat pemarah itu adalah  “ Api Neraka “ di dalam diri, jika setiap hari kita malah mengipas api tersebut, maka apinya menjadi besar, sehingga hati dan jiwa mudah terbakar. Maka hidupnya tidak tenang dan tidak bahagia, itulah simbol  atau miniatur  Neraka dalam diri

Untuk itu marilah kita padamkan “ Neraka” yang ada di dalam diri, agar kita bisa merasakan “Surga” di dalam diri.

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. [Ali ‘Imrân/3 : 134].

Sifat 20 dalam tauhid

ILMU TAUHID : MENYELAMI SIFAT 20

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud
2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat
3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam
4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun
2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

Bagian I: Sifat Nafsiyah:

Wujud, artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.

Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada.

Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu kullu syai’in
artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.
Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna

Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada kerana jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.

Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.

Adapun Wujud itu tiga bahagi:

1. Wujud Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya
2. Wujud Mujazi, yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala
3. Wujud ‘Ardy, yaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain

Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi

1. Mawujud dalam ‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain
2. Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.

Adapun segala yang Mawujud itu lima bahagi:

1. Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal
2. Mawujud pada Kharij yaitu ada kenyataan bekas
3. Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi
4. Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api
5. Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala

Membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil:

1. Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan
2. Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan
3. Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan
4. Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan
5. Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan

Bagian II: Sifat Salbiyah

Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat:

1. QIDAM, artinya Sedia
2. BAQA’ artinya Kekal,
3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.
4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.
5. WAHDANIAH, artinya Esa

1. QIDAM, artinya Sedia
Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan, lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal awwalu, artinya Ia juga yang awal.

Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara:

a. Qadim Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala
b. Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala
c. Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak
d. Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun

2. BAQA’ artinya Kekal

Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Adapun yang Kekal itu dua bahagi:

a. Kekal Haqiqi, yaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala
b. Kekal Ardy, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu

Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu.

Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu, kerana jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:
laisa kamislihi syaiin wa huwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.

Adapun bersalahan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.
Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu kerana sifat Allah Ta’ala Qadim dan ‘Aum takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang mawujud.

Adapun sifat yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.

Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.

Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya

Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.

Mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya, karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat berdiri kerana sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.

Dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Ia kerana Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.

Maka sekarang menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.

Adapun segala yang Mawujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia itu empat bahagi:

a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala
b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat Allah Ta’ala
c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu
d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh yang baharu

5. WAHDANIAH, artinya Esa

Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.

Lawannya An-yakunu wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, kerana jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini kerana banyak yang memberi bekas.

Seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, kerana tiga yang memberi bekas.

Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan, kerana tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar.

Maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.

Adapun Wahdaniah pada zat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.

Adapun Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.
Adapun Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.

Bagian III: Sifat Ma’ani

Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu Ma’nawiyah)

Sifat Ma’ani ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:

1. QUDRAT artinya Kuasa, Takluk pada segala mumkinun
2. IRADAT artinya Menentukan, takluk pada segala mumkinun
3. ILMU artinya Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz bagi aqal.
4. HAYAT artinya Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat yang lain.
5. SAMA’ artinya Mendengar, takluk pada segala yang maujud.
6. BASYAR artinya Melihat, takluk pada segala yang maujud.
7. KALAM artinya Berkata-kata
1. Qudrat artinya Kuasa

Adapun hakikat Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya
Adapun mumkin itu empat bahagi:

a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.
b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.
c. Mumkin sayuzad, yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.
d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.

Lawannya ‘Ujdzun artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, kerana jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada alam ini kerana yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan.

Maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujdzun.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Qudrat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.
* Qudrat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.
* Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
* Qudrat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
* Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

2. Iradat artinya Menentukan

Adapun hakikat Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat dengan Ilmu-Nya.

Adapun Iradat Allah Ta’ala menentukan enam perkara:

a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya
b. Menentukan Tempat mumkin itu
c. Menentukan Jihat mumkin itu
d. Menentukan Sifat mumkin itu
e. Menentukan Qadar mumkin itu
f. Menentukan Masa mumkin itu

Lawannya Karahat artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah) alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.

Adapun Iradat dengan amar dan nahi itu tiada berlazim kerana:

Ada kalanya disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya.

Ada kalanya disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.

Ada kalanya tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.
Adakalanya tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti Nabi Adam as dan Hawa.

Tetaplah dalam Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Iradat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.
* Iradat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.
* Iradat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
* Iradat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
* Iradat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

3. Ilmu artinya Mengetahui

Adapun hakikat Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus.

Adapun yang wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.

Adapun yang mustahil itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya.

Adapun yang harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim

Lawannya Jahil, artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Ilmu Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.
* Ilmu Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.
* Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Ilmu Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
* Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

4. Hayat artinya Hidup

Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.

Lawannya maut artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang Hidup yang tiada mati.

Tetaplah dalam Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Hayat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.
* Hayat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.
* Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
* Hayat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
* Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)

5. Sami’ artinya Mendengar

Adapun hakikat Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau Muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.

Lawannya Sumum, artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.

Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .

Tetaplah dalam Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Sami’ Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.
* Sami’ Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.
* Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Sami’ Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
* Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

6. Bashir artinya Melihat

Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau muhadas.
Adapun mawujud yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.

Adapun mawujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan.

Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.

Lawannya ‘Umyun, artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta

Adapun dalilnya firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.

Tetaplah dalam Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Bashir Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.
* Bashir Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.
* Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Bashir Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
* Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

7. Kalam artinya Berkata-kata

Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.

Lawannya Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.
Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.

Tetaplah dalam Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Kalam Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.
* Kalam Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.
* Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.
* Kalam Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
* Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

Bagian IV: Sifat Ma’nawiyah

Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikeranakan suatu kerana yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:

1. QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat
2. MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat
3. ‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat
4. HAYYUN, artinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat
5. SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat
6. BASIRUN, artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat
7. MUTTAKALLIMUN, artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat

Bagian V: Sifat Istighna

Artinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.

Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.

Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:

Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam, Sami’un, Basirun dan Muttakalimun.

Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada sifat Istighna yaitu

1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya
2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya
3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh

Bagian VI: Sifat Ifthikhor

Artinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.

Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,

Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:

1. Qudrat
2. Iradat
3. Ilmu
4. Hayat
5. Qodirun
6. Muridun
7. ‘Alimun
8. Hayyun
9. Wahdaniah

Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Ifthikhor:

1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya
2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya sesuatu daripadaNya.
Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.

Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):

1. Wajibal wujud, yaitu yang wajib adanya.
2. Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah
3. Kholikul ‘alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam
4. Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.

Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:

Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat

Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah

Laa = nafi, Ilaha = menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat

Yang kedua kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir.

Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.

Sifat 20 dan Makrifatulloh

SIFAT 20 & MAKRIFATULLAH

Apakah maksud sifat 20?

Sifat dua puluh adalah satu konsep ilmu yang ciptaannya sangat ajaib, di dalam mentafsir kaedah mengenal Allah melalui ilmu makrifat.

Sifat 20 dicipta oleh ilham para sufi dan para aulia' terdahulu, bagi tujuan mengajar kita menuju jalan mengenal Allah. Barang siapa mempelajari sifat 20 dengan bersungguh-sungguh, berserta faham akan maksud dan makna yang tersirat, InsyaAllah ia akan dapat mengenal Allah swt dengan nyata dan terang.

Banyak cabang ilmu dan banyak kaedah pembelajaran yang telah didedahkan melalui kitab, melalui pondok, melalui sekolah dan tidak kurang pula melalui guru-guru agama.

Semua itu bertujuan bagi mencari jalan, mencari cara dan mencari kaedah untuk mengenal Allah. Di antara banyak-banyak cara dan di antara banyak-banyak kaedah, cara dan kaedah terbaik bagi mengenal Allah swt adalah dengan mempelajari sifat 20.

Allah tidak akan dapat dikenal melalui mata zahir, ianya dapat dikenal melalui mata hati dengan mempelajari sifat-sifatnya.

APAKAH ASAS SIFAT 20?

Sifat 20 berasaskan kepada 4 perkara;

1) Zat 
2) Sifat
3) Af'al 
4) Asma'

APAKAH SIFAT ALLAH YANG 20 ITU?

1. Wujud = ada
2. Qidam = sedia
3. Baqa' = kekal
4. Mukholafatuhu lilhawadis = bersalahan dengan yang baharu
5. Qiamuhu binafsih = berdiri sendiri
6. Wahdaniah = esa
7. Qudrat = kuasa
8. Iradat = menghendaki
9. Ilmu = mengetahui
10. Hayat = hidup
11. Sama' = mendengar
12. Basar = melihat
13. Kalam = berkata-kata
14. Qodirun = maha berkuasa
15. Muridun = maha menghendaki
16. Alimun = maha mengetahui
17. Hayyun = maha hidup
18. Sami'un = maha mendengar
19. Basirun = maha melihat
20. Mutakallimun = maha berkata-kata

20 sifat Allah itu terbahagi kepada berapa bahagian?

20 sifat-sifat Allah terbahagi kepada 4 bahagian.

1. Bahagian sifat Nafsiah
2. Bahagian sifat salbiah
3. Bahagian sifat Ma'ani
4. Bahagian sifat Ma'nawiah


Bahagian yang empat inilah yang dikatakan menjadi inti pati dan isi kepada ilmu mengenal Allah. 4 bahagian inilah nantinya yang akan mengupas dan yang akan menterjemahkan sifat 20. Barang siapa yang berhajat untuk mengenal Allah, perlu diambil perhatian kepada ke empat-empat bahagian tersebut.

SIFAT NAFSIAH

Apakah sifat yang terkandung dalam nafsiah?

Sifat yang terkandung di dalam nafsiah itu, hanya satu iaitu sifat wujud. Wujud yang membawa maksud ada. Adanya Allah itu, meliputi segala yang zahir mahu pun yang batin.

Apakah maksud sifat nafsiah?

Sifat nafsiah itu, bermaksud menafikan kewujudan yang lain selain Allah. Hanya Allah sahaja yang ada dan hanya Allah sahaja yang wujud.

Wujudnya Allah itu, adalah ujud yang disertai sekali dengan zat, sifat, af'al dan asma'Nya. Zat Allah itu merupakan sifatNya dan sifat Allah itu adalah juga merupakan zatNya. Zat dengan sifat Allah itu adalah ujud yang tidak terpisah, berpisah, bercerai dan ujud yang tidak berasingan.

Keujudan zat dengan keujudan sifat Allah itu, adalah esa (satu juga pada hakikatnya). Seumpama sifat ilmu dengan sifat kalam Allah. Apabila sifatnya bersifat mendengar (sama'), bererti zatnya juga, bersifat berpendengaran (sami'un). Apabila Allah bersifat melihat (basar), bererti zatNya bersifat berpenglihatan (basirun).  Apabila Allah bersifat kuasa (kudrat), bererti zatNya bersifat kekuasaan (kodirun).  Begitulah seterusnya dengan sifat-sifatnya yang lain.

Sifat Allah itu seumpama sifat angin dengan sifat bergoyang (bertiup). Apabila kita melihat pokok bergoyang, itu menandakan adanya angin. Tergoyangnya pokok, adalah bagi menandakan bergoyangnya angin. Sifat bergoyang itu sebenarnya bukan sifat pokok, yang bergoyang itu sebenarnya adalah sifat angin.

Walau bagaimanapun sifat angin dan sifat bergoyangnya pokok itu, adalah satu sifat yang sama. Jika tidak ada angin, masakan pokok bergoyang. Pokok tidak boleh bergoyang dengan sendiri, jika bukan kerana digoyang dan ditiup oleh angin. Begitulah juga sifat Allah dengan ZatNya, tidak boleh bercerai.

Begitulah juga kaedahnya kita mentafsir sifat 20. Apabila ianya dirujuk kepada diri. Barulah kita dapat melihat dan mengenal Allah melaluinya. Seandainya sifat 20 itu tidak dirujuk kepada diri, selama itulah kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah. Dalam memahami sifat nafsiah (nafi) iaitu sifat menafikan, menidakkan, atau sifat menolak.

Kita dikehendaki menidakkan sifat-sifat yang lain selain Allah. Kita dikehendaki menidakkan kewujudan sifat alam dan sifat diri kita sendiri. Menidakkan sifat diri kita, supaya ianya menjadi tidak ada dan tidak wujud (binasa). Cara untuk menidakkan sifat diri kita dan untuk mewujudkan sifat Allah itu, adalah dengan cara, menyerah atau membinasakan diri kepada Allah.

Bila mana sifat telinga telah dipulangkan, ianya akan disambut dengan sifat pendengaran Allah. Bila mana sifat mata telah binasa, akan disambut dengan sifat penglihatan Allah. Sifat berfikir, akan disambut dengan ilmu Allah. Selagi sifat mata menjadi sebahagian daripada sifat kita, sudah pasti kita tidak akan dapat melihat Allah melalui pandangan dan penglihatanNya.

Setelah sifat mata kita itu dipulangkan kepada Allah, akan bertukar menjadi sifat basar Allah, barulah sifat penglihatan basirun Allah itu, boleh melalui sifat mata kita. Bermaknanya di sini bahawa, sifat mata yang ada pada kita sekarang ini, tidak boleh dan tidak layak menerima penglihatan Allah melaluinya, melainkan sifat mata makhluk telah binasa dan bertukar kepada sifat wajah Allah.

Maka kita tidak layak untuk menanggung atau menerima sifat penglihatan Allah yang maha tinggi. Sifat makhluk tidak layak untuk menanggung sifat Allah, melainkan sifat kita itu ditukar milik, supaya menjadi milik Allah, setelah melalui proses penyerahan diri (penyerahan tugas dan penyerahan hak milik) kepada Allah.

Apabila sudah menjadi milik Allah, barulah mata kita itu, dapat melihat melalui penglihatan Allah. Apabila mata kita itu telah menjadi milik Allah, barulah sifat basirun (penglihatan) Allah itu dapat terpancar melalui mata kita.

Apabila penglihatan Allah sudah menembusi mata kita, dengan sendirinya sifat mata akan binasa. Mata makhluk akan hangus terbakar, binasa dan lenyap lantaran dipenuhi oleh cahaya Allah. Cahaya penglihatan Allah itu sendiri, yang membinasakan sifat mata kita. Hanya Allah sahaja yang dapat menanggung sifat Allah. Sifat mata kita tidak dapat untuk menanggung sifat penglihatan Allah.

Selagi mata masih bersifat makhluk atau masih menjadi sebahagian dari anggota diri kita, selagi itulah wajah Allah tidak boleh mengambil tempat. Selagi sifat Allah tidak dapat mengambil tempat, selagi itulah, kita tidak akan dapat mengenal dan melihat Allah melaluinya. Inilah konsep nafsiah, iaitu konsep menidakkan sifat makhluk supaya dapat menjadikan semuanya bersifat wajah Allah.

Setelah kita berjaya dalam menidakkan, fana' dan leburkan diri kita ke dalam cahaya Allah, maka jadilah telinga kita itu, merupakan pendengaran Allah, jadilah mata kita itu, penglihatan Allah dan sebagainya.

Mata kita tidak layak untuk menanggung penglihatan Allah. Begitu juga dengan sifat-sifat yang lain, ianya merupakan pakaian dan persalinan Allah. Sifat kita selaku makhluk, tidak layak untuk memakai yang menjadi persalinan Allah. Seandainya kita terpakai persalinan Allah, cepat-cepatlah bertaubat.

Apabila Allah bersifat basar, Allah juga bersifat basirun. Apabila Allah bersifat qudrat, Allah juga bersifat Qodirun dan sebagainya. Oleh yang demikian bagi yang telah sampai kepada makam (tahap) makrifat, menjadikan yang dilihat itu, adalah juga yang melihat dan yang melihat itu, adalah juga yang dilihat, yang disembah itu, adalah yang menyembah dan yang menyembah itu, adalah juga yang disembah.

Dengan syarat diri kita telah binasa, mati, lebur, dan karam dalam zouk cahaya wajah Allah. Walaupun Allah itu bersifat dengan 20 sifat, namun semua 20 sifat itu, adalah esa (satu) juga dalam zatNya. Walaupun sifat Allah itu banyak, tetapi ia satu dalam zatNya.

Yang menjadikan sifat Allah itu berbilang-bilang adalah dikeranakan khayalan fikiran dan lemahnya sangkaan akal manusia. Sedangkan pada dasar dan pada hakikatnya, kesemua sifat Allah itu adalah satu (esa), tidak berbilang-bilang.

Mempelajari, memahami serta mengetahui sifat nafsiah bertujuan memberi peringatan kepada kita bahawa, tidak ada yang berbentuk, melainkan yang berbentuk itu adalah bentuk bagi Allah dan tidak ada yang bersifat, melainkan yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah. Tidak ada yang berupa melainkan yang berupa itu adalah rupa bagi Allah.

Di dalam memahami sifat nafsiah, kita dikehendaki menafikan, mematikan, melenyapkan, menghilangkan dan membinasakan semua sifat-sifat yang lain selain dari sifat Allah. Di peringkat pengajian ilmu sifat nafsiah, kita dikehendaki melihat bahawa hanya Allah sahaja yang ada, ujud, wujud dan maujud.

Keujudan makhluk alam pada peringkat ini belum lagi boleh diletak dalam gambaran fikiran dan belum lagi boleh dibayangkan dalam ciptaan khayalan akal. Yang ada dan yang ujud pada peringkat sifat nafsiah itu, hanyalah Allah semata-mata.

Sifat nafsiah adalah sifat bagi mengajar kita tentang kewujudan Allah secara mutlak dan secara "wujudiah". (wujud yang meliputi), meliputi sekalian alam, meliputi sekalian makhluk dan meliputi sekalian diri kita. Sifat nafsiah dalam wujudiah itu adalah membawa makna kewujudan Allah secara mutlak, secara bersendirian, secara keesaanNya, tanpa adanya lagi yang lain selain Allah.

Seumpama bukan pokok yang bergoyang tetapi yang bergoyang itu adalah angin. Walaupun kita nampak yang bergoyang itu pokok, di dalam kefahaman pengajian ilmu makrifah yang bergoyang itu bukan lagi pokok, sesungguhnya yang bergoyang itu adalah sifat angin. Inilah kedudukan sifat nafsiah dalam tafsiran makrifat.

Di dalam kita belajar sifat nafsiah dalam sifat 20 kita jangan lupa untuk menghubung kaitkan dengan kalimah syahadah. Pelajaran sifat nafsiah dalam sifat 20, bukan sekadar bertujuan untuk dihafal. Pelajaran sifat nafsiah itu selain bertujuan untuk mengenal sifat Allah melalui sifat 20, ianya juga adalah bertujuan bagi mentafsir kalimah syahdah. Sifat nafsiah itu, adalah satu kaedah kiasan sahaja. Tujuan sebenar kiasan sifat nafsiah itu, adalah disasarkan kepada tafsiran dan pemahaman kalimah syahadah.

Sifat nafsiah apabila dikaitkan, diletak atau diterjemahkan pada tafsiran syahadah, ia berada pada kedudukan kalimah "LAA" (iaitu kalimah nafi). Kalimah nafi adalah kalimah menolak yang lain selain Allah, membinasakan yang lain selain Allah. Kewujudan sifat-sifat yang lain itu, seumpama bayang cahaya. Apabila hilang cahaya maka hilanglah bayang.

Apabila kita dapat memahami dan menghayati pengertian isi ilmu nafsiah dalam sifat 20 dengan penuh penghayatan, ianya membuatkan ucapan syahadah kita, benar-benar diterima Allah.

Bagaimana cara ucapan syahadah yang penuh makna?

Ada pun ucapan syahadah yang penuh makna itu, adalah dengan melafazkan ungkapan kalimah "Laa" dengan menghilangkan dan membinasakan sifat-sifat yang lain, selain Allah. Sehingga tidak ada lagi keujudan bulan, bintang, alam, dunia dan keujudan kehidupan diri, melainkan Allah lah yang ujud, wujud dan maujud, pada sekalian wajah alam.

Ucapan perkataan "Laa" adalah tahap ucapan yang tidak ada lagi sesiapa. Tidak ada apa-apa di kiri, di kanan, di atas, dan tidak apa-apa lagi di bawah kita, melainkan semasa melafazkan kalimah "Laa" kita dikehendaki mengisi keyakinan hati dan mengisi kepercayaan akal, bahawa tidak ada yang lain lagi pada keujudan alam ini, melainkan sekalian yang ada ini, adalah wajah Allah (yang meliputi segalanya).  Itulah di antara tujuan kita mempelajari sifat nafsiah (sifat 20)

APAKAH BENTUK SIFAT NAFSIAH?

Sifat nafsiah adalah berbentuk "PERKHABARAN", sifat yang hanya ada pada zat Allah dan tidak memberi bekas kepada alam, sifat nafsiah itu, tidak pula boleh dikualiti dan tidak boleh dikuantitikan. Adanya Allah adalah ada yang mutlak, ada yang tidak di keranakan oleh suatu kerana yang lain.

Sifat nafsiah adalah sifat yang mengkhabarkan kepada kita bahawa Allah itu ada, adanya Allah itu melalui perkhabaran yang tidak dapat dipegang atau dirasa dengan tangan, tidak dapat dizahirkan untuk dilihat. Perkhabaran adalah perkara yang tidak boleh dikualiti atau dikuantitikan. Ia hanya boleh dirasa dan diyakini oleh hati.

SIFAT MA'ANI

Sifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Ma'ani?

Sifat yang terkandung di dalam sifat ma'ani ada 7 perkara:

1.  Qudrat = kuasa
2.  Iradat = berkehendak
3.  Ilmu  = mengetahui
4.  Hayat =  hidup
5.  Sama' =  mendengar
6.  Basar = melihat
7.  Qalam = berkata-kata

Bagaimana Menterjemah Sifat Ma'ani Pada Diri Kita?

Sifat ma'ani Allah Ta'ala yang jelas terzahir pada diri kita ada 7:

1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkuasa
4. Berkehendak
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata-kata

Ada dengan terang dan jelas menzahir sifat-sifatNya ke atas diri kita. Tujuan dizahirkan sifatNya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya.

Allah bukan ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. Allah menzahirkan sifat-sifatnya ke atas diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan "Tempat memandang sifat-sifatnya" kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.

Tetapi ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, sifat mengetahui, sifat berkuasa, sifat berkehendak, sifat melihat, dan sifat berkata-kata yang dipakai Allah atas diri kita, adalah menjadi tanda kebesaranNya atas diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya.  Sifat-sifat tersebut bukannya sifat peribadi kita tetapi sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan mutlak Allah Ta'ala.

Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua sifat-sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada tuan yang empunya, sementara hayat masih dikandung badan.

Penzahiran sifat ma'ani (angin) atas makluk (diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang akhirnya dikehendaki kembali semula kepada tuan yang empunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.

Maha suci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanyalah sekadar untuk mempermudahkan faham. Sifat ma'ani itu, adalah seumpama bayang-bayang, manakala Allah Ta'ala itu, adalah seumpama tuan yang empunya bayang.

Firman Allah:

Surah Al-Furqān (ayat 45)

أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? - bagaimana Ia menjadikan bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)! Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;

"Allah Jadikan Manusia dalam bayangNya"

Maksud bayang itu, adalah merujuk kepada makhluk dan diri kita. Bayang (diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sifat. Bayang hanya sekadar sifat yang menumpang dari yang empunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang empunya bayang. Berdirinya bayang adalah dengan berdirinya tuan yang empunya bayang (Allah). Mustahil bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang empunya bayang (Allah).  Bayang dengan yang empunya bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.

Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud bayang dengan yang empunya bayang atau seumpama bayangan wajah di permukaan cermin. Sifat ma'ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma'ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara bayang dengan yang empunya bayang.

Contohnya seumpama sifat mata dengan penglihatan, sifat telinga dengan pendengaran dan sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan sifat ma'ani dengan sifat ma'anawiah itu, bercantum tidak bercerai tiada.

"Tiada bercerai antara nafi dan isbat, dan siapa-siapa yang menceraikan antara keduanya maka orang itu kafir adanya"

Bayang bukan cahaya tetapi tidak lain dari cahaya. Cahaya bukan matahari tetapi tidak lain dari matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang empunya.

Tujuan mempelajari sifat ma'ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya diri kita ini tidak ada, tidak wujud, dan tidak terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama sifat bayang, terzahirnya bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyatan sifat yang empunya bayang itu sendiri.

Di dalam keghairahan membicarakan soal sifat ma'ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma ke atas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Ada orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku menjadi Tuhan dan sebagainya.

Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allah lah yang meliputi kita. Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, sifat yang kekal dan yang abadi itu, hanyalah Allah swt.

Firman Allah:

Surah Al-Qaşaş (ayat 88)

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNya lah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNya lah kamu semua dikembalikan.

Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh?

Sifat ma'ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui sifat dan rupa paras roh, melalui sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras roh, sebegitulah wajah ma'ani Allah, kerana rohlah sifat ma'ani Allah.

Untuk melihat sifat ma'ani Allah, lihatlah pada wajah dan sifat rupa paras diri kita sendiri. Hubungan roh dengan sifat ma'ani itu, seumpama sifat mata pada roh, penglihatan bagi Allah, telinga pada roh, pendengaran bagi Allah, dan begitulah seterusnya.

Apakah Hubungannya Sifat Ma'ani Dengan Kalimah Syahadah?

Tujuan kita mempelajari dan mendalami ilmu ma'ani itu, adalah untuk membawa kepada pemahaman kalimah syahadah. Tujuan nafsiah membawa pengertian kepada kalimah "Laa" adalah kalimah bagi menafikan kewujudan sifat makhluk. Manakala sifat ma'ani kalimah "Ila ha" pula, bermaksud mengadakan atau mengiakan dan mengambil balik segala apa yang kita telah tolak dalam kalimah "Laa". Jika dalam kalimah "Laa" kita tolak semua sifat makhluk, manakala dalam kalimah "Ila ha" pula, ianya kita adakan semula. Walaupun sifatnya diadakannya kembali, ianya adalah sekadar sifat yang menumpang.

Jika dalam kalimah "Laa" kita mengaku bahawa tidak ada lain, selain Allah, manakala dalam kalimah "Ila ha" pula kita mengaku bahawa Allah telah menzahirkan makhluknya melalui 7 sifatNya, seumpama sifat hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat dan sifat berkata-kata. Walau bagaimanapun 7 sifat tersebut di atas hanya sekadar sifat menumpang. Seumpama sifat sama' menumpang sifat sami'un, sifat basar menumpang sifat basirun dan begitulah seterusnya.

Untuk dihubung kaitkan dengan kalimah syahadah, kita hendaklah melihat sifat mata yang kita miliki, tidak berguna, tanpa penglihatan Allah, telinga kita tidak akan bermakna tanpa pendengaran Allah, mulut tidak bererti tanpa berkata-kata Allah, hidung tidak berguna tanpa hidup Allah, akal tidak bererti jika tanpa ilmu Allah, anggota tidak bermakna tanpa kuasa Allah. Segala-galanya yang ada pada kita bergantung dan menumpang sifat Allah.

Semasa melafazkan kalimah "Ila ha" dalam bersyahadah, kita dikehendaki mengingati diri kita bahawa sifat yang ada pada diri dan yang kita bawa ini, tidak boleh berdiri sendiri, hanyalah sekadar sifat yang menumpang dan bergantung kepada sifat Allah. Diri kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak akan dapat melihat tanpa basirun Allah dan kita tidak akan dapat mendengar tanpa samiun Allah.

Dari kesedaran dan keinsafan itu, membawa hati kita kepada suatu perasaan kosong, hiba, hina, kerdil, miskin, kecil dan perasaan fakir di hadapan Allah. Inilah tujuan kita mempelajari sifat ma'ani.

Diri kita ini sesungguhnya yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Ibu bapa, anak-isteri, kaum-keluarga, harta benda, hidup mati dan kaya miskin itu, adalah hak Allah ta'ala, yang boleh diambilnya balik pada bila-bila masa. Yang kita miliki ini, adalah semata-mata hak kepunyaan Allah.

Di tangan Allah lah diri kita, segala kekuatan, kecantikan, kekayaan dan kegagahan yang selama ini kita megah-megahkan itu, sebenarnya adalah milik kepunyaan Allah.

Dengan kefahaman bahawa, sifat diri kita ini, sebenarnya mati dan menumpang. Seumpama sifat mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan seluruh anggota, menumpang wajah kebesaran Allah. Yang hendaknya dikembalikan semula sifat itu kepada Allah.

Anggaplah diri kita ini, sudah mati, binasa, hilang dan lenyap dalam wajah Allah. Yang kita miliki ini, semuanya adalah hak Allah Ta'ala belaka. Hendaklah kita serah kembali kepada Allah. Kembalikan sifat-sifat tersebut kepada Allah. Jadikanlah diri kita ini seumpama fakir, muflis, hina, mati, binasa, dan hilang dalam kekuasaan Allah.  Inilah di antara hikmah dan di antara intipati mempelajari sifat ma'ani dalam sifat 20.

Bagaimana Mengenal Allah Melalui Sifat Ma'ani?

Peranan sifat ma'ani hanya sekadar menjadi saksi (kesaksian) Sifat ma'ani berperanan sekadar sifat menumpang. Seumpama basar, hanya menumpang kepada sifat basirun. Telinga menumpang sifat sama', manakala sama' pula menumpang sifat samiun. Lidah menumpang sifat kalam, manakala kalam pula menumpang sifat mutakallimun. Sifat ma'ani adalah sifat menumpang sifat maknawiah (sifat kekuasaan Allah).

Dari kefahaman itu, dapatlah kita tilik diri sendiri, betapa sifat yang ada pada diri kita ini, semuanya kepunyaan Allah. Kita ada mata, tatapi Allah yang memiliki sifat penglihatan. Kita ada telinga tetapi Allah yang memiliki sifat pendengaran. Kita ada mulut tetapi Allah yang memiliki sifat berkata-kata. Begitulah seterusnya, yang menggambarkan bahawa diri kita ini adalah kepunyaan Allah.

Sifat ma'ani bertujuan supaya sifat Allah dapat dilihat melalui pancaindera, pada roh, dan pada diri kita sendiri. Allah berilmu manakala diri pula bersifat mengetahui melalui akal. Allah berkudrat, manakala diri pula bersifat berkuasa melalui pancaindera. Allah beriradat, manakala diri pula bersifat berkehendak (dapat berkeinginan melalui rasa). Allah bersifat sama' manakala diri pula bersifat mendengar melalui telinga. Allah bersifat basar manakala diri pula bersifat melihat melalui mata. Allah bersifat kalam, manakala diri pula bersifat berkata-kata melalui lidah.

Jangan sekali-kali kita menjadi lupa diri, bahawa semua sifat-sifat yang kita miliki ini, adalah kepunyaan Allah, diri kita ini, hanya sekadar menumpang sifat Allah. Apabila kita faham sifat ma'ani, dengan sendirinya membawa diri kita pulang ke pangkuan Allah dengan tangan kosong, dengan menyerahkan segala sifat kepada Allah.

Bahawasanya diri kita ini, sebenarnya adalah kepunyaan dan milik Allah sepenuhnya secara mutlak. Sifat yang kita pakai dan yang ada pada kita ini, seumpama sifat bayang (menumpang yang empunya bayang).

Setelah kita sedar, bahawa sifat yang kita pakai ini adalah sifat pinjaman dan menumpang sifat Allah, sebaiknya kembalikanlah semua sifat-sifat itu kepada Allah. Jangan sekali-kali cuba memakai pakaian Allah, walaupun secara percuma atau secara pinjaman, kerana kita tahu bahawa pakaian Allah itu, amat tidak layak untuk dipakai oleh kita. Kita tidak layak memakai pakaian Allah dan kita tidak layak untuk menerima pinjaman Allah. Pakaian Allah itu, Allah lah pemiliknya, Allah lah yang layak memakainya.

Sebenarnya kita ini, tidak punya apa-apa pakaian atau persalinan. Kita ini adalah ibarat tangan kosong. Yang menjadi milik dan kepunyaan kita bukan pakaian atau persalinan, yang menjadi milik dan kepunyaan kita yang mutlak, adalah Allah itu sendiri.

Inilah konsep yang hendak diketengahkan dan yang hendak diterapkan melalui sifat ma'ani. Konsep serta kefahaman inilah yang benar-benar perlu kita fahami. Cuba fahami dan hayati betul-betul sifat ma'ani yang tujuh itu, apabila kita telah kasyaf dalam menghayati sifat ma'ani, di sinilah membawanya lebur dan terbakarnya sifat diri yang palsu dan yang menumpang ini.

Bagi mereka-mereka yang mengenal Allah, apabila dia cuba untuk memakai sifat Allah. Maka hancur terbakarlah anggotanya, lebur musnahlah sifat jasadnya. Mereka tidak sekali-kali berani memakai sifat pakaian Allah.  Pakaian Allah itu ada tujuh iaitu seumpama sifat hidup, ilmu, kudrat, iradat, samak, basar dan kalam, manakala pakaian kita juga tujuh seumpama:

1. Pakaian sifat mati (binasa).
2. Pakaian sifat bodoh dungu.
3. Pakaian sifat lemah, lumpuh tidak berupaya.
4. Pakaian sifat tidak berkemahuan, tidak berkehendak.
5. Pakaian sifat pekak dan tuli.
6. Pakaian sifat buta.
7. Pakaian sifat bisu.

Inilah pakaian dan sifat-sifat yang kita pakai serta pakaian mereka-mereka yang mengenal diri dan yang mengenal Allah swt. Mereka ini beranggapan dan beriktikad bahawa, diri serta jasad mereka sudah mati, tidak ada, lebur dan binasa. Mereka tidak lagi berakal, tidak lagi mempunyai kekuatan, tidak lagi berkemahuan, tidak lagi berpendengaran, tidak lagi berpenglihatan, dan tidak lagi bersuara diri. Jasad mereka sudah fana', sudah baqa' dan karam dalam wajah Allah swt.

Diri mereka tidak ubah seumpama mayat yang hidup. Mereka tidak memakai pakaian Allah, mereka tidak meminjam pakaian Allah, mereka tidak mengambil persalinan Allah, mereka tidak memakai apa-apa yang menjadi hak Allah. Tidak layak bagi mereka untuk menerima apa-apa yang menjadi milik Allah. Bagi mereka,  segala-galanya adalah dari Allah, kepada Allah dan berserta Allah. Baik di dalam tidur, dalam jaga, dalam gerak, dalam tutur kata, dalam penglihatan, pendengaran, berkeinginan dan sebagainya, semuanya milik Allah.

Bukan sifat mata yang mereka pandang, tetapi penglihatan Allah, bukan sifat telinga menjadi tumpuan, tetapi pendengaran Allah, bukan mulut menjadi keinginan, yang menjadi keinginan mereka ialah suara (kata-kata) Allah. Yang berkeinginan dan berkehendak itu, adalah Allah swt. Yang berkuasa dan berilmu itu adalah Allah. Inilah kaedah pegangan iktikad orang makrifat, dalam menterjemah sifat ma'ani. Yang menjadikan hati kita penuh yakin kepada Allah.

Tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk dipelajari dan difahami, adalah untuk membawa kita kepada suatu keinsafan diri, bahawa semua yang kita miliki dan yang ada pada diri kita ini, sebenarnya adalah milik Allah.  Setelah kita sedar yang segala-gala sifat itu menjadi milik Allah, hendaklah kita kembalikannya semula kepada Allah.

Seandainya yang menjadi milik Allah itu telah kita serahkan semula kepada Allah, semasa hayat masih dikandung badan dan semasa masih berada di dalam dunia, apabila kita pulang ke rahmatullah kelak (setelah kita mati nanti), tidak ada apa-apa lagi yang perlu ditanya, perlu dihisab dan perlu dipersoalkan oleh Malaikat.

Perkara yang membuat kita ditanya dan disoal itu, adalah kerana hutang sifat kita semasa di dunia masih belum dijelaskan, mereka yang belum melangsaikan pinjaman dan yang belum mengembalikan hak Allah semasa hayat masih ada dan semasa masih hidup di dunia, hutang sifat yang kita pinjam dari Allah, hendaklah dikembalikan semula kepada Allah. Jika ianya dilangsaikan semasa di dunia, tidaklah ada lagi soal jawab dari Munkar dan Nakir di dalam kubur.

Apa lagi yang Allah hendak tuntut, apa lagi yang Allah hendak tagih dari kita, jika semuanya telah dikembalikan dan diserahkan kepadaNya. Hidup dan mati kita telah kita serahkan kepada Allah, jasad zahir dan batin telah dikembalikan kepada Allah. Apa lagi yang hendak Allah dakwa? Apa lagi yang hendak Allah tuntut?

Yang hendak Allah dakwa dan tuntut itu, bagi mereka-mereka yang kembali ke pangkuannya dengan tidak menjelaskan hutang sifat dan tidak mengembalikan hakNya. HakNya diambil pakai, diambil guna, tetapi tidak pandai untuk memulangkan dan tidak pula pandai mengembalikannya semula kepada Allah.

Jika semuanya telah dikembalikan kepada yang empunya, nescaya tidak ada lagi, tuntut menuntut, dakwa-dakwi dan tidak lagi ada soal jawab kubur, malah di pintu syurga lah kita disambut oleh Allah swt.

Inilah tujuan pengajaran sifat ma'ani diperkenalkan. Ini adalah tujuan sifat ma'ani diketengahkan untuk diambil tahu oleh sekalian kita. Dengan mempelajari sifat ma'ani, akan membawa kita tahu untuk membezakan, yang mana hak kita dan yang mana hak Allah swt. Perhatikan sekali lagi perkara ma'ani dan hendaknya kita hayati dan tilik dengan mata hati yang kasyaf.

Selagi hayat masih dikandung jasad, kita di kehendaki mengembalikan hak kepada yang berhak, nantinya bila tiba di alam akhirat kelak, kita akan mendapat layanan dan sambutan yang istimewa dari penguasa langit, lain dari yang lain. Kita akan ditempatkan bersama orang yang sempurna lagi terpuji.

Roh orang-orang sebeginilah dinamakan roh mutmainnah, roh yang diterima Allah. Tempat kita itu, adalah di sisi Allah, bukannya di sisi tanah yang mengandungi ulat dan cacing.

Roh sebeginilah yang dikatakan roh yang suci bersih, roh yang sentiasa disertai air sembahyang, roh yang sentiasa di iringi dengan kalimah syahadah. Inilah roh mereka-mereka yang mati sebelum mati dan roh mereka-mereka yang mengenal diri semasa di dunia. Inilah yang dikatakan roh yang mengenal tuannya.

Tuan yang empunya roh itu, tidak lain dan tidak bukan hanya Allah swt yang satu lagi esa. Inilah penjelasan dan kupasan tentang kefahaman ilmu mengenal Allah (makrifat) melalui pelajaran sifat ma'ani dalam sifat 20, yang bukan sahaja setakat tahu makna tetapi hendaklah dihayati dengan isi di sebaliknya.


Sabtu, 02 Februari 2019

Filosofi BAN

Filosofi Ban


Budi melihat ayahnya yg sedang mengganti ban mobil.

Sang ayah trsenyum,
"Sini nak, coba liat...

Ada 6 hal tentang ban yg bisa kita pelajari untuk hidup kita, coba perhatikan :

1. Ban selalu konsisten.
Bentuk ban "Bundar";

Mau di pasang di motor, mobil atau pesawat terbang,

ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atu segi empat.


2. Ban mengalami kejadian terberat
Ketika melewati jalan berlubang, aspal panas, bahkan ketika ada banjir,
ban dulu yg harus mengalami langsung.

Jika ada kotoran hewan/bangkai di jalan yg tidak di lihat si pengemudi,
ban lah pertama kali yg merasakannya.


3. Ban selalu menanggung beban terberat ketika mobil sedang diam, maupun brjlan. Baik ketika kosong, apalagi saat penuh pnumpang dn barang


4. Ban tak pernah sombong & tidak berat hati menolak permintaan
Ban selalu kompak;

Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti,
ban langsung berhenti.

Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat,
ban pun melesat.


5. Dalam kondisi apapun, ban tetap rendah hati
Semua orang lebih memuji Kemewahan, Keindahan & Kehebatan mobil,

tak ada satupun yg memuji ban,

p a d a h a l smua tak akan berarti kalo ban nya kempes atau bocor."


6. Betapa pun bagus & hebatnya mobil atau sepeda yg kita punya,
atau pesawat yg kita naiki,

saat ban tak berfungsi,
kita tak akan bisa ke tujuan.


Jadi saat kau besar kelak,

meski kau menghadapi banyak masalah di banding kawan²mu,

& tak mendapat Pujian sebanyak kawan²mu,

b a h k a n trus menanggung beban berat di atas pundakmu,

Tetaplah kau Konsisten dgn Kebaikan,

Tetaplah mau Bekerja Sama dgn orang lain,

Jangan Sombong & Merasa Hebat sendiri,

yg terpenting Tetaplah Menjadi "Penggerak" di manapun kau berada,

itulah yg Ayah maksud dgn hal² yg bisa kita pelajari dari ban untuk hidup kita."

“baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.”