Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Mengenal Diri Sendiri
Barang Siapa Mengenal Dirinya Sesungguhnya Ia Dapat Mengenal Kepada Tuhannya
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan . Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.(QS. 24:35)
Kepastian pertemuan kepada Allah sesungguhnya telah Allah janjikan kepada kita (manusia). Seperti yang terlihat dari keterangan dan firman-firman-Nya berikut ini :
“Jika kita mempunyai kesungguhan untuk menemui-Nya, maka janji Allah pasti akan datang”.
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS.Al Insyiqaaq (84):6)
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS.Al Ankabuut (29):5)
Dan mengenai tata cara untuk menemui-Nya, diayat-Nya yang lain telah Allah beritahukan juga, bahwa ‘salah satu cara’ untuk mencapai pertemuan kepada Allah yaitu dengan cara melakukan sembahyang tahajud dan meyakini-Nya, maka insya Allah kita akan menemui-Nya.
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS.Al Israa’ (17):79)
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS.Al Baqarah (2):46)
Selain itu, Allah juga telah memperingatkan kepada kita, bahwa janganlah kita lalai dan mau terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan yang hanya sesaat, sehingga melupakan pertemuan kepada Allah, karena sesungguhnya kehidupan didunia ini penuh dengan tipu daya dan sendah gurau, seperti halnya yang sering kita dengar atau yang sering dinyanyikan oleh banyak para penyanyi, bahwa “dunia ini panggung sandiwara”, semuanya semu bagaikan fatamorgana.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (QS.Qaaf (50):22)
Dan contoh tauladan untuk menemui Allah tersebut sudah juga dicontohkan oleh baginda junjungan kita Nabi besar Muhammand SAW dalam usaha serta langkahnya untuk bertemu kepada Allah.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.Al Ahzab (33):21)
Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS.Al Qiyaamah (75):23)
Barangsiapa yang mengharap pertemuan kepada Allah, maka janji Allah pasti datang.
Apabila hamba-Ku sungguh-sungguh ingin menemui-Ku, maka pasti akan menemui-Ku.
Dari firman-fiman Allah tersebut sebenarnya sungguh sudah sangat demikian jelasnya. Dan sudah tentu juga yang dimaksud dengan pertemuan dari kutipan ayat-ayat tersebut adalah benar-benar menyaksikan (melihat Allah dengan Haqqul-Yakin/Isbatul-Yakin), bukan dengan penglihatan yang hanya dikira-kira (seolah-olah) saja. Karena, jika kita hanya mengenal Allah dari informasi atau dari keyakinan karena melihat ciptaan-Nya saja, dikhawatirkan penyembahan kita kepada Allah menjadi agak mengambang atau kurang tepat sasaran. Apalagi jika dalam penyembahan kita kepada Allah kita hanya melihat dan mengingat gambar-gambar yang ada pada tikar sajadah saja, atau mungkin kita hanya melihat tulisan nama-nama Allah yang ada di dinding-dinding saja, sungguh hal tersebut adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah (haram).
Memang untuk menemui/menyaksikan Allah dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, tentu tidak bisa kita lakukan secara sempurna (mendetail), kerena untuk bisa menyaksikan Allah secara sempurna (mendetail), sama halnya (tak ubahnya) seperti kita melihat hamparan lautan yang sangat luas yang tiada bertepi. Dimana penglihatan kita tentu hanya akan terbatas/sebatas sisi-sisi dari lautnya saja.
Dan sebagai contoh (ilustrasi), bahwa penyaksian kita terhadap Allah SWT tersebut, mungkin tak ubahnya seperti kita melihat rumah yang ukurannya jauh lebih besar daripada ukuran tubuh kita, dimana penglihatan kita terhadap rumah tersebut tentu hanya akan sebatas pada apa yang ada disekeliling kita saja (tidak semuanya atau sebatas jangkauan penglihatan mata kita saja).
Sesungguhnya..!!!, keterbatasan penglihatan kita yang seperti itu, itulah pengetahuan terbesar yang Allah berikan kepada kita (manusia) sebagai hamba-Nya atau khalifah-Nya, dan kita harus mampu mencapai-Nya. Dan Ruh (Rohani) kita harus mampu menyaksikan dan melebur kepada Wujud Cahaya Allah (Nurrullah) tersebut. Karena, hanya dengan cara demikianlah Ruh (Rohani) kita akan bisa terbebas dari belenggu Jiwa/Nafsu.
Dan sebagai ilustrasi, bahwa penyatuan atau peleburan Ruh kepada Cahaya Allah (pertemuan kepada Allah) tersebut, tak ubahnya seperti kita menyatukan dua cahaya lampu yang berbeda, seperti menyatukan cahaya lampu dari lampu yang kecil kepada cahaya lampu dari lampu yang lebih besar.
Dan untuk menyatukan cahaya lampu yang lebih kecil kepada cahaya lampu yang lebih besar tersebut, haruslah kita membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada kaca-kaca lampu tersebut (khususnya pada lampu yang kecil), karena dengan cara demikianlah cahaya lampu yang lebih kecil tersebut akan bisa memancar keluar dan menyatu, melebur kepada cahaya dari lampu yang lebih besar.
Begitu juga hakikatnya pertemuan kita kepada Allah, yaitu dengan cara melepaskan Ruh dari belenggu jiwa/nafsu, maka Ruh (Rohani) kita menjadi tidak lagi buta dan tuli, sehingga Ruh (Rohani) kita bisa kembali menjadi suci, dan bisa kapan dan dimana saja menyatu, melebur kepada Cahaya Allah (Nurrullah), Cahaya berlapis Cahaya, Allah Azza Wajallah, Tuhan Semesta Alam.
Manusia di ciptakan dari 2 unsur yaitu unsur jasad dan unsur roh. Unsur jasad tercipta dari 4 unsur yaitu
1.Api
2.Udara
3.Air
4.Tanah
1. Unsur Api
QS. Al Baqarah (2):24.
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orangorang kafir
Hubungan dengan Sholat yang tercipta unsur api di mana unsur api tercipta dan bisa di kendalikan
Gerakan pertama dalam sholat adalah berdiri. Ini adalah sama dengan sifat nafsu amarah dimana nafsu ini tercipta dari unsur api.
Sifat api salah satunya adalah selalu berdiri. Disinilah nafsu amarah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir api) dengan bacaan-bacaan ketika berdirinya sholat yaitu antara lain bacaannya adalah ALLAHU AKBAR dan bacaan surat AlFatihah. Ketika kita membaca Allah hu akbar di sini proses menggulung sifat amarah dalam diri kita di fanakan dengan menyatukan atau menghilangkan sifat sifat amarah sehingga kita dapat bersatu kepada dzat Allah swt
Jika proses memfanakan Sifat Api dalam diri kita bisa kita taklukan maka setelah sholat kita bisa mengendalikan sifat sifat amarah yang muncul dari dalam diri kita sehingga yang ada hanya sifat ketenangan semata. 2.Unsur Udara
QS.Shaad (38):71-72
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."
Hubungan dengan unsur udara dalam sholat Rukuk dalam sholat jika digambarkan badan kita dari pinggul sampai ke kepala akan membentuk sebuah garis horizontal. Ini sama dengan sifat angin yg biasanya bergerak secara horizontal dan nafsu lawwamah tercipta dari unsur saripati angin ini, dimana sifatnya adalah cenderung tidak punya pendirian, selalu menyesali diri, malas, selalu menuruti birahi/sex yg over dan nafsu makan yg terkadang berlebihan. Sifat ini biasanya dimiliki oleh binatang ternak. Jadi nafsu ini identik dengan nafsunya binatang ternak yang hanya makan, malas dan birahi/sex saja yang ada di otaknya.
Dalam gerakan rukuk sholat inilah nafsu lawwamah / kebinatangan yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir angin) dengan bacaanbacaan ketika rukuknya sholat yaitu bacaannya adalah ALLAHU AKBAR, SUBHANA RABBIAL ADZIMI WA BIHAMDIHI 3x
3. Unsur Air
QS.Al Furqaan (25):54.
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.
Hubungan dengan unsur air dalam Gerakan sholat adalah sujud. Sujud merupakan symbol dari sifat rendah diri dihadapan sang Pencipta. Saat sholat kepala / muka berada di bawah selevel dengan telapak kaki. Ini sama dengan sifat air yang selalu mencari tempat yg terendah. Lihatlah air, dia selalu mencari dataran yg lebih rendah. Ini menandakan air selalu dalam keadaan bersujud dimanapun berada.
Unsur Dalam gerakan sujud pada sholat ini anasir air atau nafsu mulhimah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir air) dengan bacaan-bacaan ketika sujudnya sholat.
4. Unsur Tanah.
QS.Shaad (38):71-72 (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."
Hubungan dalam gerakan sholat adalah duduk diantara dua sujud. Duduk diantara dua sujud disini artinya badan atau jasmani kita mendekat ke arah tanah dan memang salah satu unsur penciptaan manusia adalah dari tanah. Dalam gerakan duduk diantara dua sujud ini dimaksudkan untuk menyempurnakan nafsu mutmainnah agar sempurna kembali keasal kejadiannya yaitu anasir / unsur tanah, dengan bacaan takbir dan Robbighfirli warhamni…….dst.
Nafsu / jiwa mutmainnah ini juga tergolong nafsu yang selalu mengajak kearah kebaikan, selalu ingin banyak beribadah, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, mau menanggung beban orang lain dll. Tapi sekali lagi nafsu ini bukan diri kita sejati, makanya sebelum meninggal dunia harus dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir tanah.
Gerakan dalam sholat adalah duduk dengan bacaan tahiyat. Adalah proses di mana kita setelah mampu mefanakan segala unsur jasad dalam sholat sehingga kita kosong atau suwung yang ada hanya allah swt dengan adanya kita mengosongkan segala sifat dari unsur jasad maka kita berhak untuk menenui Allah sehingga Rasullullah SAW bersabda bahwa sholat itu mi’rajnya orang mukmin (H.R. Baihaki, Muslim) Mi’raj artinya naik, mengalami kenaikan pengalaman / perjalanan spiritual menuju lebih dekat dengan Allah SWT.
Di sinilah letak mirojnya orang orang mumin dalam sholat sehingga pentingnya kita sholat untuk melebur sifat sifat kebinatangan dalam diri kita yang ada hanya allah swt dalam gerak apapun.
Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi menuju Tuhan, Dzat pemelihara mahkluk
Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi Ketika diri sudah bersatu Irama dengan Tuhan, Segala kehendak hati akan menjelma menjadi kenyataan.
Mukti ingsun ... tanpo piranti kejayaanku ...tanpa syarat (alat)
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito menyebar merata di sukma.. madu sari perwita
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno beraneka warna prada (prodo: guratan tinta emas pada batik), membangun kesempurnaan diri Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno sengkala (kesialan) pasti musnah, malapetaka nyata nyata hilang
Tyasing roso mardiko,…….. timbulah rasa bebas (merdeka)
Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo semoga karena ucapan pusaka kalimat syahadat
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo benar benar jadi mustika, didalam jiwa raga
Barang Siapa Mengenal dirinya sesungguhnya ia dapat mengenal kepada tuhannya sehingga ia tahu iman di dalam diri ia akan mengikuti sejati dirinya
IMAM DAN MAKMUM MENJADI SATU.
Dalam sholat berjamaah, seorang makmum tidak boleh mendahului imam dalam setiap gerakan di dalam sholat. Seorang Imam adalah pemimpin di dalam sholat, menjadi panduan dan penuntun bagi makmumnya.
Begitu juga dalam sholat sendiri kita juga bisa “berjamaah”, yang menjadi imam adalah sejati diri atau hati nurani, sedangkan yang menjadi makmum adalah raga, cipta (pikiran), perasaan dan jiwa.
Jangan takbir sebelum sejatidiri/hati nurani menyuruh takbir, jangan membaca fateha jika sejatidiri/hati nurani menyuruh membaca fateha. Begitu juga jika sejatidiri/hati nurani menyuruh ruku’, maka kita akan ruku’, jika sejatidiri/hati nurani menyuruh sujud, maka kita akan melakukan sujud. Begitu seterusnya dari takbir sampai salam.
Oleh karena itu mengapa di dalam sholat ditekankan harus khusyu’ dan letaknya di hati, karena di situlah sejatidiri atau hati nurani kita yang harus menjadi imam bagi diri kita. Dengan begitu maka imam dan makmum telah menjadi satu.
Kenyataannya kita belum bisa menjadi imam bagi diri kita sendiri. Ketika sholat tubuh melakukan sholat, mulutnya komat-kamit, tetapi pikiran dan hatinya terbang melayang melamun tidak karuan.
Apalagi dalam kehidupan sehari-hari maka akan semakin berantakan dalam menjalani hidup, antara hati dan prilakunya tidak sama, antara yang diucapkan dengan hatinya bertolak belakang sehingga hatinya menjadi hitam dan tertutup.
Banyak orang yang sholat berjamaah, tetapi hakekatnya sholat sendirian hanya raganya saja, sedangkan hati dan pikirannya pergi entah kemana. Disisi lain ada orang sholat sendirian, tetapi hakekatnya dia sholat berjamaah. Itulah Imam dan makmum telah manunggal menjadi satu.
Anakku banyak orang belajar sufi tapi tidak mau sholat merasa cukup tafakur saja sholatnya dan mengingat setiap hari
Dalam prakteknya Dia selalu mengumbar hawa nafsu mereka melihat sesuatu yg tidak suka langsung merespon bahkan keluar kata kata yg tidak baik dari mulutnya
Anaknya bertanya...
ayah banyak orang belajar sufi tidak mau sholat bahkan ketika di tanya saudaraku kamu udah sholat jawabnya aku udah sholat terus menerus.padahal aku lihat dia hanya ngobrol saja dari tadi
Ayahnya menjawab...
anakku banyak orang yg merasa tahu sufi tapi belum mengerti .orang yg merasa tahu belum tentu mengerti sehingga ia terkurung dalam ketidak tahuannya
anaknya bertanya..
loh ko gitu ayah
Ayahnya menjawab...
ia menganggap sholat.cukup hakekat saja tidak perlu syareat
Anaknya bertanya kembali...
hakekat saja magsudnya ayah
Ayah menjawab...
cukup krendek saja katanya udah sholat
padahal kalau krendek saja artinya batin saja
bahwa kl batin saja artinya ia bukan manusia
tapi kl jasad tanpa ruh juga manusia
kalau mau bersikap bijak
ya namanya manusia ia perlu jasad dan ruh
Jadi kalau Sholat menggunakan unsur kedua2nya antara jasad dan ruh
karena pengertian hakekat Sholat adalah belajar penyatuan diri jasad ke alam dan belajar penyatuan diri roh kepada tuhannya itulah hakekat manunggaling kawula gusti
ketika kita.berdiri takbirotul ikrom ini adalah unsur yg tercipta dari unsur api sifat api selalu marah2 dan ingin menang sendiri unsur ini harus di kembalikan ke asalnya
ketika kita ruku
ini unsur yg tercipta dari unsur angin sifatnya selalu plinpan tidak punya pendirian ini harus di kembalikan ke asalnya
ketika kita sujud
ini unsur yg tercipta dari air selalu mencari sifat terendah tidak mau menonjolkan diri
ketika kita duduk tahiyat
unsur yg tercipta dari tanah sifatnya tenang seperti nafsu mutmainah ini juga harus di kembalikan ke asalnya
jika semua.unsur jasad dalam sholat sudah di kembalikan ke asalnya maka ia akan kosong tidak punya ke hendak apa2 maka ia berhak untuk menemui tuhannya
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang yang menyekutukan-Nya.” (QS Al An’am 6 : 79)
Saat sholat duduk tahiyat inilah seorang mukmin akan bertemu kepada allah swt
sehingga akan berlaku hadist nabi lafadz yang berbunyi :
الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ
“ Shalat itu adalah mikraj bagi orang – orang yang beriman.”
Anaknya..
oh gitu ayah saya jadi faham makasih ayah
Barang Siapa mengenal dirinya sesungguhnya ia dapat mengenal kepada tuhannya
Manarofanafsahu waqodarafarobbahu
MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”. dari sabda Rasulullah SAW.
Apa maksud kalimat tersebut? Seperti apa “mengenal diri” itu? Dan, bagaimana bisa dengan mengenal diri sendiri lalu menjadi mengenal Rabb(Tuhannya)? Apakah diri ini adalah Rabb Tuhannya)? Apakah ini terkait menyatunya wujud Tuhan dan wujud manusia?
Mari kita perhatikan sabda Rasulullah SAW tersebut. “Man ‘arafa nafsahu”. Siapa yang ‘arif akan nafs-nya—jiwanya. Sebenarnya bukan sekadar mengenal, tapi ‘arif. ‘Arif akan jiwanya. ‘Arif kurang lebih bermakna “sangat memahami”, “paham dengan sebenar-benarnya”.
Sedangkan dalam “faqad arafa rabbahu”, kata “faqad” berarti “maka pastilah”, atau “sudah barang tentu”. Ada kadar kepastian yang tercakup di sana, jauh lebih pasti derajatnya dari sekadar “akan”. “Faqad ‘arafa rabbahu”, berarti “maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb-nya”.
“Siapa yang ‘arif akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb-nya”, begitu kira-kira maknanya. Apa maksudnya?
Mengenal Diri Kita yang Sejati
Mengenal diri bukan untuk mengenali jasad kita yang bisa di lihat dari panca indra tapi mengenal diri dari sifat dan dzat Allah yang melekat dalam diri kita karena hanya manusia saja yang di beri rahasia untuk mengenal Allah swt
Sementara, yang dimaksud dan dipanggil
Allah sebagai “diri” pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, dalam bahasa kita, adalah “jiwa”.
Nafs-lah (jamak: anfus, jiwa-jiwa) yang dipanggil dan disumpah Allah untuk mempersaksikan bahwa Allah adalah Rabb-nya (Tuhannya).
Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka: "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul, sungguh kami bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini." – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172
Nafs kita sudah ada bahkan sebelum alam semesta ada. Ia juga yang terus akan melanjutkan hidup di alam barzakh dan alam-alam berikutnya setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah. Kecuali orang orang yang sudah menemui tuhannya
Nafs sendiri berbeda dengan hawwa nafs, atau yang biasa kita sebut hawa nafsu. Sebagaimana namanya, hawa nafsu adalah “hawa dari nafs”: hanya sekadar “hawa keinginan” dari jiwa. Hawa nafsu sesungguhnya adalah nafs yang palsu, karena keinginan-keinginannya sama-sama berasal dari dalam diri kita, sehingga kehendak hawa nafsu tidak mudah dibedakan dari kehendak jiwa.
Yang dimaksud dan dipanggil Allah sebagai "diri" pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, dalam bahasa kita, adalah "jiwa". Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masingmasing.
Jadi, diri kita yang sejati bukanlah jasad dengan segala dinamika psikis maupun psikologisnya. Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masing-masing. Jiwa, namun bukan sembarang jiwa. Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian, maupun dari daya-daya syahwati jasadnya. Nafs yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah yang disebut “nafs yang tenang”.
Nafs yang tenang ini dalam Al-Qur’an disebut sebagai “Nafs Al-Muthma’innah ” . Sebagaimana permukaan air yang telah tenang, pada kondisi nafs yang telah tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya semua pengetahuan yang pernah Allah tanamkan kepadanya pun akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya