Sabtu, 19 Januari 2019

Suluk si wujil pesen kanjeng sunan bonang

Suluk Si Wujil Pesan Kanjeng Sunan Bonang,
1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasih sayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”…
11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan

Wasiat sunan bonang

Wasiat Sunan Bonang

“Menehana teken marang wong kang wuta. Menehana mangan marang wong kang luwe. Menehana busana marang wong kang wuda. Menehana ngiyup marang wong kang kudanan.” (Sunan Bonang)
Artinya: Berilah tongkat kepada orang buta. Berilah makanan kepada orang lapar. Berilah pakaian kepada orang telanjang. Berilah payung kepada orang kehujanan.

Menurut Sunan Bonang, ada empat hal yang harus diperhatikan seorang pemimpin.
Pertama, berilah tongkat kepada orang buta. Buta mata dibantu agar tiba di tujuan, dan buta ilmu pengetahuan dibantu dengan pendidikan agar masyarakat mampu menolong dirinya sendiri untuk hidup layak.
Kedua, berilah makanan kepada orang lapar adalah anjuran untuk peduli kepada nasib orang miskin agar terlepas dari himpitan derita berkepanjangan dengan, antara lain, berbagai usaha perbaikan ekonomi.
Ketiga, berilah pakaian kepada orang telanjang. Orang telanjang adalah orang yang belum mengenal moral. Ia harus dipandu dan dipacu untuk hidup beradab dan berakhlak mulia.
Dan keempat, berilah payung kepada orang yang kehujanan, yakni memberi perlindungan kepada orang yang terancam dan berada dalam kesulitan, termasuk perlindungan hukum kepada orang yang hak asasinya dikebiri.

40 wasiat syarif hidayatulloh sunan gunung jati

40 WASIAT SYARIF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATI KEPADA ANAK CUCU TURUNANNYA


Ipat-ipat (Wasiat) Kanjeng Sinuhun Maulana Syarif Hidayatullah kepada anak cucu (turunannya).
Ipat-ipat yang nyata kepada anak cucu Sinuhun Cirebon, ketika sekalian para wali berkumpul {dan menjadi saksi} di Ardi Amparan (Paseban Gunung Jati); {para wali tersebut} ialah :
  1. Machdum Bonang (Sunan Bonang)
  2. Machdum Girikraton (Sunan Giri Kedaton)
  3. Machdum Kalijaga (Sunan Kalijaga – Raden Syahid)
  4. Machdum Darajat (Sunan Kadarajat / Sunan Derajat)
  5. Pangeran Machdum (Pangeran Machdum Judah)
  6. Syeikh Maulana Maghribi
  7. Sultan Demak
  8. Pangeran Panjunan dan sekalian anak cucu sinuhun Cirebon, berwasiat yang tentu kepada anak cucu dengan ipat-ipat yang yakin.
“Kakanda Pangeran Panjunan, saksikanlah oleh sekalian, saya berwasiat kepada keturunanku di belakang seperti {di bawah} ini” :
  1. Hormatilah para leluhur
  2. Berbaktilah kepada orang tua
  3. Murah Hati (Penyayang)
  4. Perasaan Bersyukur
  5. Mengerjakan ibadah
  6. Merendahkan diri
  7. Memakai sifat yang terpuji
  8. Menjauhi sifat yang dibenci
  9. Pengertian (ilmu) yang baik
  10. Hilangkan sifat (lagak) pemarah
  11. Jauhilah bertengkar
  12. Jangan suka menyangka jelek akan yang tidak nyata buruknya
  13. Jangan membiasakan congkak takabur (besar kepala)
  14. Jangan suka menyalahi janji
  15. Kalau tidak baik supaya diperingatkan
  16. Takut kepada Allah (menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya)
  17. Bertepa diri (bersiasat diri – perikemanusiaan)
  18. Berlaku adil
  19. Jangan mengerjakan semena-mena, tidak memberi faedah
  20. Peliharalah peninggalan-peninggalan (pusaka)
  21. Mendatangi mu’min
  22. Menghormati tamu
  23. Bermanis muka perangai yang elok
  24. Jangan mengumbar syahwat
  25. Jangan makan jika tak merasa lapar
  26. Jangan memukul muka orang
  27. Jangan minum apabila tidak makan
  28. Jangan tidur sebelum mengantuk
  29. Apabila sembahyang ibarat di ujung panah
  30. Kalau berpuasa seperti talinya panah
  31. Menuntut rizki yang halal
  32. Jangan suka banyak berkehendak
  33. Dapat menahan nafsu
  34. Jika marah bermuram durja, berilah kesenangan, (muka/perkataan manis) agar segera insyaf. (Kalau susah campurlah dengan yang senang, supaya lekas hilang)
  35. Jangan menyakiti hati orang
  36. Banyak kesakitan manusia karena dari keluarga anak cucu (kelakuan sendiri)
  37. Jikalau anak cucu yang mengejarkan menyakiti hati manusia akan aku mintakan supaya dipendekkan umurnya, jangan dilamakan di dunia.                                                                      Inilah ipat-ipatku supaya diingat oleh anak cucu, dibelakang hari.
  38. “Barang siapa telah mengetahui tutur kata ini sudah lupa lagi, tetapi kujaga juga, aku lindungi, tertanggung oleh saya.” Sekalian wali-wali mengatakan “Aamiin Ya Allah, moga-moga terkabul doanya sinuhun Cirebon.
  39. Hai Ki Mas Hasanuddin* Jagalah, ingatkanlah dalam hatimu segala wasiat orang tuamu dan sampaikan tiap-tiap keturunan sinuhun yang belum (tidak) mengetahuinya. {*disampaikan eyang Syarif kepada Eyang Maulana Hasanudin, putra beliau, dan tidak menyebut nama putra yang lain, mungkin dikarenakan para putra eyang Syarif yang lain pada sudah meninggal lebih dulu (P. Pasarean Cirebon, P. Jayakelana, P.Bratakelana) daripada eyang syarif yang berumur panjang, kecuali eyang Maulana Hasanudin, putra yang masih hidup kala eyang syarif meninggal dunia}
  40. Barang siapa anak cucu yang menurut wasiat ayahmu, menjalankan, pasti jadi mulia turun temurun, ingatkanlah baik-baik.

10 wasiat sunan kalijaga

10 WASIAT SUNAN KALIJAGA
♥️♥️♥️


10 Wasiat atau Dasa PituturKanjeng Sunan Kalijaga yang masa hidupnya konon mencapai 100 tahun lamanya itu?
Berikut ini isi nasihat berharga dari beliau yang layak kita renungkan dan kita jalankan dalam kehidupan kita, jika kita mendambakan kehidupan yang selamat baik di dunia maupun di akhirat.
♥️
Pertama, Urip Iku Urup, yang bermakna Hidup itu Nyala. Maka hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Karena semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan bahwa manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
♥️♥️
Kedua, Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro, yang bermakna bahwa manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Hal ini dimaksudkan agar setiap manusia turut berperan sebagai penyelamat bumi, langit dan seisinya, termasuk juga keselamatan dan keamanan segala makhluk yang hidup di dalamnya.
♥️♥️♥️
Ketiga, Suro Diro Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, yang bermakna bahwa
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya akan bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Maka manusia hendaknya lebih mengutamakan akhlakul karimah, tidak hidup di bumi dengan bersikap sombong dan tidak gemar membuat kerusakan di atasnya.
♥️♥️♥️
Keempat, Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho, yang bermakna bahwa manusia harus tetap berjuang meski tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan. Itulah modal manusia dalam hidup, yang senantiasa menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaannya sebagai anugerah kodrati dari Tuhan.
♥️♥️♥️
Kelima, Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, yang bermakna
hendaknya manusia jangan gampang sakit hati dan ciut nyali manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala dirinya kehilangan sesuatu. Karena manusia mesti senantiasa sadar, bahwa semua hanya milik-Nya. Dialah Sang Pemilik Sejati, sementara dirinya hanya semata si penerima titipan belaka.
♥️♥️♦️
Keenam, Ojo Gumunan, Ojo Getunan, ojo Kagetan, ojo Aleman, yang bermakna hendaknya manusia jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut dan kaget; Juga jangan mudah kolokan, cengeng atau manja. Sebaliknya, manusia mesti tak mudah euforia di kala senang dan tidak pula histeria di kala sedih, melainkan harus tetap tenang dan tegar dalam segala keadaan.
♥️♥️♥️
Ketujuh, Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman, yang bermakna hendaknya manusia jangan terlampau terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi. Karena sejatinya semua itu, ibarat hanya senda-gurau belaka.
♥️♥️♥️
Kedelapan, Ojo Kuminter Mundak Keblinger, ojo Cidra Mundak Cilaka, yang bermakna bahwa hendaknya manusia jangan sok merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar dirinya tidak celaka. Manusia mesti selalu ingat bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Tahu, sementara dirinya hanya mendapatkan karunia kepandaian dan ilmu tak lebih dari seujung kuku saja. Karena itu, sudah selayaknya manusia hidup berlaku jujur dan senantiasa teguh di jalan kebenaran.
♥️♥️♥️
Kesembilan, Ojo Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo, yang bermakna hendaknya manusia jangan gampang tergoda dan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah; Jangan berpikir mendua agar tidak malah kendor niat dan semangatnya dalam berkarya. Maka manusia harus hidup qanaah dan bersahaja, merasa cukup dengan apa yang memang benar-benar dibutuhkannya. Sedangkan dalam berikhtiar dan berupaya hendaknya dia tetap fokus dan tidak mendua.
♥️♥️♥️
Kesepuluh, Ojo Adigang, Adigung, Adiguno, yang bermakna hendaknya manusia jangan berwatak sok kuasa, sok besar, sok sakti dan sok-sok lainnya. Karena seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Dan sesungguhnya, pakaian kesombongan itu hanya Tuhan yang pantas memakainya, bukan manusia yang sejatinya adalah budak yang tak kuasa dan hamba yang penuh cacat dan cela.

Kata kata bijak wasiat sunan kalijaga

Kata Kata Bijak Wasiat Sunan Kalijaga

“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange, mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen durung oleh pituduh saka Gusti Allah”
ARTINYA :
“Jika sudah tiba zamannya dimana sungai-sungai hilang kedalamannya (banyak orang berilmu tidak mengamalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya (pasar orang beriman adalah masjid, jika masjid-masjid tak ada adzan), wanita-wanita hilang malunya (tidak menutup aurat), maka cepat-cepatlah kalian keluar empat bulan dari desa ke desa (dari kampung ke kampung) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah untuk berdakwah) janganlah pulang sebelum mendapat hidayah Allah SWT.”
Sebagaimana wasiat Sunan Kalijagatersebut ternyata sangat sinkron dengan keadaan di era modern sekarang ini. Dengan kondisi sekarang, sebuah keadaan dimana zaman mulai meninggalkan etika dan moral manusia itu sendiri yang telah banyak menimbulkan pertengkaran antar sesama umat manusia. Kita seharusnya bisa mempelajari lebih dalam ajaran-ajaran waliyulloh sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sekaligus menjadi manusia yang berkualitas dan penuh keberkahan-Nya di dunia.

Jumat, 18 Januari 2019

Teori martabat Alam tujuh


TEORI MARTABAT ALAM TUJUH


Dalam dunia Tasawuf, terdapat teori tentang Martabat Alam Tujuh. Khusus di Nusantara, ajaran Martabat Alam Tujuh, dikembangkan oleh beberapa ulama antara lain Kyai Hajar Padang dalam bukunya yang berjudul Layang Muslimin dan Muslimat. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa proses kejadian alam semesta ini dan segala isinya diciptakan melalui tujuh martabat (tingkatan), yang dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut :

1. MARTABAT AHADIYAT

Martabat Ahadiyat adalah Martabat Dzat Allah yang tidak dapat diumpamakan dengan apapun atau Martabat Dzat Yang Laisa Kamislihi Syai’un, yaitu Dzat yang tidak bernama, tidak berwarna, tidak bewujud, tidak merah, tidak hitam, tidak gelap, tidak terang, tidak di barat, tidak di timur, tidak di atas, tidak bawah serta tidak dapat diumpamakan dengan apapun.

2. MARTABAT WAHDAT

Martabat Wahdat adalah Alam Dzat Allah yang telah mempunyai sifat. Wujudnya adalah terang yang disebut Jauhar Awal artinya Cahaya Pertama, Cahaya Pertama ini juga disebut dengan Hakikat Nur Muhammad. Para Wali di Tanah Jawa menyebut hakikat Nur Muhammad dengan istilah Segara Hidup atau Sejatining Syahadat karena di alam tersebut terjadi persatuan atau bergulungnya antara Dzat dan sifat Allah dengan Muhammad dalam hakikatnya.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al Ahzab 33 : 40)

“Aku Ahmad tanpa huruf Mim, dan aku ‘Arabi tanpa huruf ‘Ain. Barang siapa yang melihat aku sungguhnya ia telah melihat Al Haq”. (Hadits)

“Yang petama kali diciptakan adalah Nur Nabimu, wahai Jabir”. (HR Ahmad)


3. MARTABAT WAHIDIYAT

Alam Wahidiyat adalah Martabat Asma Allah Yang Maha Suci yang merupakan emanasi (pancaran) dari Jauhar Awal yang berupa Empat Cahaya :

a). Narun artinya Cahaya Merah
b). Hawaun artinya Cahaya Kuning
c). Maun artinya Cahaya Putih
d). Turobun artinya Cahaya Hitam

Keempat cahaya tersebut dinamakan juga dengan nama Nur Muhammad atau hakikatnya Adam yang termanifestasikan menjadi Asma Allah :

a) Cahaya Merah menjadi hakekat huruf Alif
b) Cahaya Kuning menjadi hakikat huruf Lam Awal
c) Cahaya Putih menjadi hakikat huruf Lam Akhir
d) Cahaya Hitam menjadi hakikat huruf Ha
e) Cahaya Pertama (Jauhar Awal) menjadi hakikat tanda Tasjid.

Secara syariah, ke empat pancaran cahaya tersebut termanifestasikan menjadi lafadz Allah. Dari keempat Cahaya tersebut juga keluar emanasi Cahaya yang menjadi cikal bakal Tujuh Langit dan Tujuh Bumi beserta isinya.


4. MARTABAT ARWAH

Alam Arwah adalah Martabat Af’alnya Allah SWT yang telah menjadikan Alam Dunia. Proses kejadian Alam Semesta dalam Martabat Alam Arwah dapat diumpamakan sebagai berikut :

Dari Jauhar Awal memancar Empat Cahaya yaitu :

Narun (Cahaya Merah) diibaratkan selubung kaca merah.
Hawaun (Cahaya Kuning) diibaratkan selubung kaca kuning
Maun (Cahaya Putih) diibaratkan selubung kaca putih
Turobun (Cahaya hitam) diibaratkan selubung kaca hitam.

Selubung kaca yang empat warna tersebut di cahayai oleh Jauhar Awal (Cahaya Pertama) sehingga terjadi empat bayangan warna yang hakikatnya adalah proses terjadinya empat anasir dasar penciptaan Alam Semesta yaitu :

a) Dari selubung Kaca Merah memancarkan Bayangan warna Merah yang berproses menjadi Anasir Api di Alam Semesta.
b) Dari selubung Kaca Kuning memancarkan Bayangan warna Kuning yang berproses menjadi Anasir Angin (udara) di Alam Semesta.
c) Dari selubung Kaca Putih memancarkan Bayangan warna Putih yang berproses menjadi Anasir Air di Alam Semesta.
d) Dari selubung Kaca Hitam memancarkan Bayangan warna Hitam yang berproses menjadi Anasir Tanah di Alam Semesta.

Dengan kekuasaan Allah maka terciptalah alam semesta yaitu Jagad Besar (Alam Kabir). Proses tersebut menunjukan bahwa kejadian Alam Semesta ini berasal dari proses emanasi Nur Muhammad.


5. MARTABAT AJSAM

Alam Ajsam adalah Martabat Manusia setelah terciptanya alam semesta. Ketika Allah hendak mengutus Khalifah-Nya maka diproseslah terlebih dahulu unsur-unsur dasar pembuatan wadahnya sebagai tempat bersemayamnya Roh-Ku yaitu :

Saripati Bumi diproses menjadi Kulit bulu Manusia Adam
Saripati Api diproses menjadi Darah Daging Manusia Adam
Saripati Air diproses menjadi Urat Balung Manusia Adam
Saripati Angin diproses menjadi Otot Sumsum Adam

Kemudian dengan kekuasaan Allah maka terjadilah Dalil Muhammad yaitu huruf Mim, Ha, Mim, dan Dal yang merupakan perwujudan dari Cahaya Muhammad, yaitu :

Cahaya Hitam menjadi hakikat lafadz Mim awal
Cahaya Putih menjadi hakikat lafadz Ha
Cahaya Kuning menjadi hakikat lafadz Mim akhir
Cahaya Merah menjadi hakikat lafadz Dal
Cahaya Pertama (Jauhar Awal) menjadi hakikat tanda Tasjid.


Keempat Cahaya tersebut secara syariat menjadi lafadz Muhammad atau sebaliknya menjadi lafadz Allah, yang juga merupakan simbol struktur manusia yaitu :

Mim awal dari lafadz Muhammad menjadi kepala manusia.
Ha dari lafadz Muhammad menjadi dada manusia.
Mim akhir dari lafadz Muhammad menjadi pusar manusia.
Dal dari lafadz Muhammad menjadi kaki manusia.


6. MARTABAT MITSAL

Alam Mitsal adalah Martabat Manusia yang sudah mencapai derajat ma’rifatullah, artinya manusia tersebut sudah memiliki ilmu yang telah sampai ke tingkat mitsal yaitu yang sudah tahu asalnya dengan menyaksikan Cahaya Merah, Kuning, Hitam, dan Putih dengan mata batinnya.

7. MARTABAT INSAN KAMIL

Alam Insan Kamil adalah martabat manusia yang telah mencapai tingkat kesempurnaan baik lahir maupun batin sehingga apabila wafat nanti akan menyandang derajat Kamil Mukamil yang artinya kesempurnaan yang sempurna, hilang rasa dan hilang jasmaninya menjadi Dzat Laisa Kamitslihi lagi seperti pada waktu dahulu sebelum ia turun ke alam dunia atau dengan kata lain jika kita wafat kelak akan kembali ke sisi Allah atau Inna lillahi wa innailaihi raji’uun.

Berdasarkan Ajaran Martabat Alam Tujuh tersebut dapat kita simpulkan bahwa sebelum alam semesta ini diciptakan, telah ada Dzat Allah yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapapun.Yang paling mengetahui Dzat Allah adalah Allah sendiri. Dzat ini dalam dunia tasawuf di istilahkan dengan Khanzan Al Makhfy (Permata Yang Tersembunyi). Dzat Allah tersebut merupakan Dzat yang tidak dapat diumpamakan atau disetarakan dengan apapun, sesuai firman Allah :

“Aku dahulu adalah permata yang tersembunyi, Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar ia mengenal-Ku “. (Hadits Qudsi )


“…..tidak sesuatupun yang serupa dengan (Dzat) Dia…..”. (QS Asy Syura 42 : 11)

“Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Dzat) Dia “. (QS Al Ikhlash 112 : 4)

Dikarenakan Dzat Allah tidak dapat diungkapkan dengan sesuatu apapun maka para ahli tasawuf memandang hakikat Dzat Allah ini dengan sesuatu yang tidak dapat disebut sesuai dengan firman Allah

“Bukankankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang belum dapat disebut ? ”. (QS Al Insan 76 : 1)

Kemudian karena Dzat Allah ini ingin dikenal maka Dzat Allah ini menjadikan dirinya mempunyai Sifat agar dapat dikenali. Menurut para ahli tasawuf, Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang, sesuai dengan firman Allah :

“Dia-lah yang Awal dan yang Akhir, (dan Dia pula) yang Terang dan yang Tersembunyi “. (QS Al Hadid 57 : 3)

Dikarenakan Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang maka para ahli tasawuf menamakan Sifat Dzat-Nya dengan nama Cahaya atau An Nur. Jadi Nur Allah atau Cahaya Allah tersebut hakikatnya merupakan pancaran dari Dzat Allah. Keberadaan dari Nur Allah ini diinformasikan dalam Al Qur’an dan Hadits yaitu :


“Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah seperti sebuah lubang kaca yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula disebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki (dan menghendaki Cahaya-Nya) dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ”. (QS An Nur 24 : 35)

“Kaifa ro’aita robbaka ? Nurun ana ‘arohu “.

“Apakah engkau melihat Tuhanmu ? Cahaya, Sesungguhnya aku melihat-Nya “. (Al Hadits)

Cahaya dari Dzat Allah ini memancarkan Cahaya-Cahaya yang termanisfestasikan dalam Fi’il Allah yang dirangkum dalam Asma ul Husna yaitu 99 nama Allah yang terbaik. Jadi 99 Nama Allah itu hakikatnya merupakan Fi’il Allah di atas alam semesta ini yang bersumber dari pancaran Cahaya Dzat Allah. Setiap manusia ditempati fi’il Allah yang terangkum dalam Asma ul Husna, dengan kadar yang terbatas. Ke 99 Asmaul Husna inilah yang menjadi tolak ukur kecerdasan spiritual seseorang. Tingkatan Kecerdasan Spiritual tersebut dapat diukur dengan alat ukur berupa kuesioner yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian, dalam bukunya yang berjudul ESQ Kecerdasan Emosi dan Spiritual (2004).

Berdasarkan uraian dan gambar tersebut di atas maka para ahli tasawuf mengambil satu kesimpulan bahwa hakikat dari Wujud Allah yang sesungguhnya adalah Nurun ‘Ala Nurin atau Cahaya di atas Cahaya. Para ahli tasawuf telah menyaksikan keberadaan Cahaya Allah tersebut dengan mata rohaninya ketika mereka beribadah kepada-Nya. Pengalaman inilah yang disebut dengan pengalaman musyahadah atau menyaksikan kehadiran Nur Ilahi dalam dirinya sehingga ia lebur dalam Lautan Cahaya Ilahi yang tak terbatas.

Teori tentang Martabat Alam Tujuh dapat disederhanakan dengan penjelasan sebagai berikut :

"Aku (Dzat) dahulu adalah Khazanah Yang tersembunyi, Aku (Dzat) rindu (karena cinta) untuk dikenali, maka Aku ciptakan Makhluk agar melalui Makhluk itu, Aku dapat di kenali" (Hadits Qudsi).

Makhluk yang pertama yang “tercipta” dari Dzat Allah adalah Sifat dari Dzat Allah itu sendiri, yang mempunyai sifat Awm dan Khos. Sifat Awm dari Dzat adalah Az Zahir (Terang Benderang atau Nyata Senyata-Nyata atau Kesunyatan). sedangkan sifat khos dari Dzat adalah An Nur.

An Nur dari Dzat itu terpancar menjadi Nur Langit (nurussamawati atau cahaya metafisika) dengan 7 tingkatan, dan Nur Bumi (nuurul ardhi atau cahaya fisika) juga dengan 7 tingkatan.

Proses turunnya martabat Dzat (Ahadiyat) menjadi martabat Dzat yang mempunyai sifat (Wahdat) merupakan "mirip" dengan proses "metamorfosa", ibarat tumbuhnya sebuah pohon dari sebutir biji. Makanya kata dasar cipta, akan bermakna beda atau sama tergantung dari penempatan imbuhannya. Cipta-Pencipta-Penciptaan-Ciptaan-Cipta = Kholiq-kholaqa-makhluq-akhlaq. Persamaan antara Kholiq dan Makhluq ada pada akhlaqnya, Takholaqo bi akhlaqillah. Apakah akhlaq itu ? Untuk lebih jelasnya, renungkan dan saksikan berkali-kali Film "Rahasia di balik materi" karya Harun Yahya. Insya Allah kita menyadari bahwa sesungguhnya "La maujuda illallah" semua ini hanyalah penampakkan (Tajali) dari Nur-Nya sebagai Maha Sumber Cahaya Langit dan Cahaya Bumi.

"Allahu Nuur......" (QS 24 : 35)

Jauh sebelum Harun Yahya membuat Karya Film tersebut, para Sufi sudah membuat teori penciptaan dengan teori Martabat Alam Tujuh. Dalam Ajaran Martabat Alam Tujuh dijelaskan bahwa sebelum alam semesta ini diciptakan, telah ada Dzat Allah yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapapun.Yang paling mengetahui Dzat Allah adalah Allah sendiri. Dzat ini dalam dunia tasawuf di istilahkan dengan Khanzan Al Makhfy atau Permata Yang Tersembunyi. Dzat Allah tersebut merupakan Dzat yang tidak dapat diumpamakan atau disetarakan dengan apapun, sesuai firman Allah :

“Aku dahulu adalah permata yang tersembunyi, Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar ia mengenal-Ku “. (Hadits Qudsi )

“…..tidak sesuatupun yang serupa dengan (Dzat) Dia…..”. (QS Asy Syura 42 : 11)

“Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Dzat) Dia “. (QS Al Ikhlash 112 : 4)

Dikarenakan Dzat Allah tidak dapat diungkapkan dengan sesuatu apapun maka para ahli tasawuf memandang hakikat Dzat Allah ini dengan sesuatu yang tidak dapat disebut sesuai dengan firman Allah

“Bukankankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang belum dapat disebut ? ”. (QS Al Insan 76 : 1)

Kemudian karena Dzat Allah ini ingin dikenal, maka Dzat Allah ini menjadikan dirinya mempunyai Sifat agar dapat dikenali. Menurut para ahli tasawuf, Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang (Az Zahir), sesuai dengan firman Allah :

“Dia-lah yang Awal dan yang Akhir, (dan Dia pula) yang Terang (Zahir) dan yang Tersembunyi “. (QS Al Hadid 57 : 3)

Dikarenakan Sifat dari Dzat Allah adalah Terang Benderang, maka para ahli tasawuf menamakan Sifat Dzat-Nya dengan nama Cahaya atau An Nur. Jadi Nur Allah atau Cahaya Allah tersebut hakikatnya merupakan pancaran dari Dzat Allah.

Keberadaan dari Nur Allah ini diinformasikan dalam Al Qur’an dan Hadits yaitu :

“Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah seperti sebuah lubang kaca yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula disebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya. Allah akan menunjukkan Cahaya-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki (dan menghendaki Cahaya-Nya) dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ”. (QS An Nur 24 : 35)

“Kaifa ro’aita robbaka ? Nurun ana ‘arohu “.

“Apakah engkau melihat Tuhanmu ? Cahaya, Sesungguhnya aku melihat-Nya “. (Al Hadits)

Cahaya dari Dzat Allah ini memancarkan Cahaya-Cahaya yang termanisfestasikan dalam Fi’il Allah yang dirangkum dalam Asma ul Husna yaitu 99 nama Allah yang terbaik. Jadi 99 Nama Allah itu hakikatnya merupakan Fi’il Allah di atas alam semesta ini yang bersumber dari pancaran Cahaya Dzat Allah.

Setiap manusia ditempati fi’il Allah yang terangkum dalam Asma ul Husna, dengan kadar yang terbatas. Ke 99 Asmaul Husna inilah yang menjadi tolak ukur kecerdasan spiritual seseorang. Tingkatan Kecerdasan Spiritual tersebut dapat diukur dengan alat ukur berupa kuesioner yang dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian, dalam bukunya yang berjudul ESQ Kecerdasan Emosi dan Spiritual.

Para ahli tasawuf mengambil satu kesimpulan bahwa hakikat dari Wujud Allah yang sesungguhnya adalah Nurun ‘Ala Nurin atau Cahaya di atas Cahaya. Para ahli tasawuf telah menyaksikan keberadaan Cahaya Allah tersebut dengan mata rohaninya ketika mereka beribadah kepada-Nya. Pengalaman inilah yang disebut dengan pengalaman musyahadah atau menyaksikan kehadiran Nur Ilahi dalam dirinya sehingga ia lebur dalam Lautan Cahaya Ilahi Yang Tak Terbatas.


Kamis, 17 Januari 2019

HAKEKAT NUR MUHAMMAD

Hakekat NUR MUHAMMAD


Hakekat Nur muhammad
Di Dalam Diri