Sabtu, 15 Desember 2018

Imam dan Makmum Menjadi satu

Imam dan Makmum menjadi satu


Barang Siapa Mengenal dirinya sesungguhnya ia dapat mengenal kepada tuhannya sehingga ia tahu iman di dalam diri ia akan mengikuti sejati dirinya


IMAM DAN MAKMUM MENJADI SATU.

Dalam sholat berjamaah, seorang makmum tidak boleh mendahului imam  dalam setiap gerakan di dalam sholat. Seorang Imam adalah pemimpin di dalam sholat, menjadi panduan dan penuntun bagi makmumnya.

Begitu juga dalam sholat sendiri kita juga bisa “berjamaah”, yang menjadi imam adalah sejati diri atau hati nurani, sedangkan yang menjadi makmum adalah raga, cipta (pikiran), perasaan dan jiwa.

Jangan takbir sebelum sejatidiri/hati nurani menyuruh takbir, jangan membaca fateha jika sejatidiri/hati nurani menyuruh membaca fateha.  Begitu juga jika sejatidiri/hati nurani menyuruh  ruku’, maka kita akan ruku’, jika sejatidiri/hati nurani menyuruh sujud, maka kita akan melakukan sujud. Begitu seterusnya dari takbir sampai salam.

Oleh karena itu mengapa di dalam sholat ditekankan harus khusyu’ dan letaknya di hati, karena di situlah sejatidiri atau hati nurani kita yang harus menjadi imam bagi diri kita. Dengan begitu maka imam dan makmum telah menjadi satu.

Kenyataannya kita belum bisa menjadi imam bagi diri kita sendiri. Ketika sholat  tubuh melakukan sholat, mulutnya komat-kamit, tetapi pikiran dan hatinya terbang melayang melamun tidak karuan.

Apalagi dalam kehidupan sehari-hari maka akan semakin berantakan dalam menjalani hidup, antara hati dan prilakunya tidak sama, antara yang diucapkan dengan hatinya bertolak belakang sehingga hatinya menjadi hitam dan tertutup.

Banyak orang yang sholat berjamaah, tetapi hakekatnya sholat sendirian hanya raganya saja, sedangkan hati dan pikirannya pergi entah kemana. Disisi lain ada orang sholat sendirian, tetapi hakekatnya dia sholat berjamaah. Itulah Imam dan makmum telah manunggal menjadi satu.

Sholat adalah isro mirojnya orang orang mukmin

Sholat adalah isro mirojnya orang orang mukmin


SHOLAT ISRO MIROJNYA ORANG2 YANG BERIMAN

Anakku banyak orang belajar sufi tapi tidak mau sholat merasa cukup tafakur saja sholatnya dan mengingat setiap hari

Dalam prakteknya Dia selalu mengumbar hawa nafsu mereka melihat sesuatu yg tidak suka langsung merespon bahkan keluar kata kata yg tidak baik dari mulutnya

Anaknya bertanya...
ayah banyak orang belajar sufi tidak mau sholat bahkan ketika di tanya saudaraku kamu udah sholat  jawabnya aku udah sholat terus menerus.padahal aku lihat dia hanya ngobrol saja dari tadi

Ayahnya menjawab...
anakku banyak orang yg merasa tahu sufi tapi belum mengerti .orang yg merasa tahu belum tentu mengerti sehingga ia terkurung dalam ketidak tahuannya

anaknya bertanya..
loh ko gitu ayah

Ayahnya menjawab...
ia menganggap sholat.cukup hakekat saja tidak perlu syareat

Anaknya bertanya kembali...
hakekat saja magsudnya ayah

Ayah menjawab...
cukup krendek saja katanya udah sholat

padahal kalau krendek saja artinya batin saja
bahwa kl batin saja artinya ia bukan manusia
tapi kl jasad tanpa ruh juga manusia

kalau mau bersikap bijak
ya namanya manusia ia perlu jasad dan ruh

Jadi kalau Sholat menggunakan unsur kedua2nya antara jasad dan ruh

karena pengertian hakekat Sholat adalah belajar penyatuan diri jasad ke alam dan belajar penyatuan diri roh kepada tuhannya itulah hakekat manunggaling kawula gusti

ketika kita.berdiri takbirotul ikrom ini adalah unsur yg tercipta dari unsur api sifat api selalu marah2 dan ingin menang sendiri unsur ini harus di kembalikan ke asalnya

ketika kita ruku
ini unsur yg tercipta dari unsur angin sifatnya selalu plinpan tidak punya pendirian ini harus di kembalikan ke asalnya

ketika kita sujud
ini unsur yg tercipta dari air selalu mencari sifat terendah tidak mau menonjolkan diri

ketika kita duduk tahiyat
unsur yg tercipta dari tanah sifatnya tenang seperti nafsu mutmainah ini juga harus di kembalikan ke asalnya

jika semua.unsur jasad dalam sholat sudah di kembalikan ke asalnya maka ia akan kosong tidak punya ke hendak apa2 maka ia berhak untuk menemui tuhannya


Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang yang menyekutukan-Nya.” (QS Al An’am 6 : 79)

Saat sholat duduk tahiyat inilah seorang mukmin akan bertemu kepada allah swt

sehingga akan berlaku hadist nabi lafadz yang berbunyi :

الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“ Shalat itu adalah mikraj bagi orang – orang yang beriman.”


Anaknya..
oh gitu ayah saya jadi faham makasih ayah



Barang Siapa mengenal dirinya sesungguhnya ia dapat mengenal kepada tuhannya

Manarofanafsahu waqodarafarobbahu


MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”. dari sabda Rasulullah SAW.
Apa maksud kalimat tersebut? Seperti apa “mengenal diri” itu? Dan, bagaimana bisa dengan mengenal diri sendiri lalu menjadi mengenal Rabb(Tuhannya)? Apakah diri ini adalah Rabb Tuhannya)?  Apakah ini terkait menyatunya wujud Tuhan dan wujud manusia?
Mari kita perhatikan sabda Rasulullah SAW tersebut. “Man ‘arafa nafsahu”. Siapa yang ‘arif akan nafs-nya—jiwanya. Sebenarnya bukan sekadar mengenal, tapi ‘arif. ‘Arif akan jiwanya. ‘Arif kurang lebih bermakna “sangat memahami”, “paham dengan sebenar-benarnya”.

Sedangkan dalam “faqad arafa rabbahu”, kata “faqad” berarti “maka pastilah”, atau “sudah barang tentu”. Ada kadar kepastian yang tercakup di sana, jauh lebih pasti derajatnya dari sekadar “akan”. “Faqad ‘arafa rabbahu”, berarti “maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb-nya”.
“Siapa yang ‘arif akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb-nya”, begitu kira-kira maknanya. Apa maksudnya?

Mengenal Diri Kita yang Sejati
 Mengenal diri bukan untuk mengenali jasad kita yang bisa di lihat dari panca indra tapi mengenal diri dari sifat dan dzat Allah yang melekat dalam diri kita karena hanya manusia saja yang di beri rahasia untuk mengenal Allah swt

  Sementara, yang dimaksud dan dipanggil
Allah sebagai “diri” pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, dalam bahasa kita, adalah “jiwa”.
Nafs-lah (jamak: anfus, jiwa-jiwa) yang dipanggil dan disumpah Allah untuk mempersaksikan bahwa Allah adalah Rabb-nya (Tuhannya).

 Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka: "Bukankah Aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Betul, sungguh kami bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini." – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172

 Nafs kita sudah ada bahkan sebelum alam semesta ada. Ia juga yang terus akan melanjutkan hidup di alam barzakh dan alam-alam berikutnya setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah. Kecuali orang orang yang sudah menemui tuhannya

 Nafs sendiri berbeda dengan hawwa nafs, atau yang biasa kita sebut hawa nafsu. Sebagaimana namanya, hawa nafsu adalah “hawa dari nafs”: hanya sekadar “hawa keinginan” dari jiwa. Hawa nafsu sesungguhnya adalah nafs yang palsu, karena keinginan-keinginannya sama-sama berasal dari dalam diri kita, sehingga kehendak hawa nafsu tidak mudah dibedakan dari kehendak jiwa.
 Yang dimaksud dan dipanggil Allah sebagai "diri" pada manusia, sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” dalam Al-Qur’an. Nafs, dalam bahasa kita, adalah "jiwa". Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masingmasing.

 Jadi, diri kita yang sejati bukanlah jasad dengan segala dinamika psikis maupun psikologisnya. Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masing-masing. Jiwa, namun bukan sembarang jiwa. Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian, maupun dari daya-daya syahwati jasadnya. Nafs yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah yang disebut “nafs yang tenang”.

 Nafs yang tenang ini dalam Al-Qur’an disebut sebagai “Nafs Al-Muthma’innah ” . Sebagaimana permukaan air yang telah tenang, pada kondisi nafs yang telah tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya semua pengetahuan yang pernah Allah tanamkan kepadanya pun akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya

Nafsu Nyata Dan Nafsu yang Tersembunyi

Nafsu Nyata dan Nafsu yang Tersembunyi

NAFSU NYATA DAN NAFSU YANG TERSEMBUNYI

🌲🌲🌲
“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. 
🌲🌲🌲


Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”
Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik aktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi. Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:

Takut pada sesama makhluk, 
Ambisi rizki,
Rela pada kemauan

 🌲🌲🌲Nafsu itu sendiri.
Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.

✴✴✴
Sedangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.

❤❤❤
Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian  dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki matahatilah yang mengenal karakter itu.

🙏🙏🙏
Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.

🙏🙏🙏
Disinilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”
Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.

🙏🙏🙏
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra,  menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas, adalah Allah jika anda diampuni (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”

🌲🌲🌲
Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.

🙏🙏🙏
Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”
Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.

🙏🙏🙏
Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”

🌲🌲🌲
Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dijabdi.”
Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal  kondisi ruhaninya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”

🙏🙏🙏
Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”
Dan menghapus riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya

🙏🙏🙏✴✴✴

Sifat Tawadhu

Sifat Tawadhu


SIFAT TAWADHU..

Di tengah perjalanan karena merasa lelah seorang hamba allah isti rahat di sebuah gubuk di pinggir jalan di belakang gubuk terlihat pemandangan sawah yang sangat indah.
Sangkin menikmati keindahan alam yang sangat luar biasa indahnya itu

Ia duduk di rumput tanpa sengaja ia mencabut rumput itu hingga ia mati

*Tiba tiba dalam lamunannya rumput yang lain berbica kenapa kamu menjadi seorang pembunuh *.

Spontan ia kaget bukan main kenapa dalam hati ada rumput yang bisa berbicara

*Atas kuasa Allah, seorang hamba mendengar rumput  tersebut berbicara, kepadanya* :

"Wahai hamba allah, Sekiranya kamu membunuh ku untuk sesuatu yang bermanfaat  atau kamu ambil diriku sebagai pakan ternak aku iklas dan ridho akan tetapi jika kamu membunuh untuk sesuatu yang tidak bermanfaat aku tidak ridho. Maka jadilah sia sia aku

*Terus seorang ini bertanya kepadanya bagaimana saya harus menebus sebuah kesalahan itu

Jika kamu membunuh satu mahluk maka engkau harus menghidupkan mahluk yang lain

Jika engkau membunuh satu tumbuhan maka tumbuhkan tumbuhan yang lain

Jika engkau membunuh hewan maka engkau peliharalah hewan yg lain

Tujuannya agar seimbang sebuah kehidupan

Hal itu sesuai dengan


Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut.
*Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing*.

Diajaknya anjing tersebut bersahabat dan mengikuti perjalanannya, *tetapi anjing itu menolak*.

Kemudian anjing itu berkata:
*"Engkau tidak mungkin bersahabat dan berjalan denganku, karena orang2 yang memuliakanmu akan mencemooh kamu dan melempariku dengan batu*.

Aku juga tidak tahu mengapa mereka menganggap aku hina, *padahal aku telah berserah diri kepada Penciptaku atas wujud ini*.

Lihatlah...
Tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak.
Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum".

*Kemudian anjing tersebut berlalu..*

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya.

Tidak terasa air  mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati:

*"Ya Rabb, untuk berjalan dng seekor anjing ciptaan-Mu saja aku merasa tidak pantas*
Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu?

*Ampunilah aku, sucikanlah najis di dalam kalbuku ini..."*.

*Masyā Allāh...*             
▪Jangan pernah *MERASA LEBIH MULIA* daripada seluruh ciptaan Allah.

▪ Jangan pula merasa lebih baik, lebih terhomat daripada orang lain, *karena Allah melihat kalbumu bukan penampilan fisik dan lahirmu*.

▪ Kebaikan hati tidak perlu diungkapkan, *Allah Maha Mengetahui ketulusan dan keikhlasan kita*.

▪ Tawadu di dalam iman dan akhlak. Bening hati dengan *dzikrullah & qiyamul lail*.

*Semoga Allah SWT menjadikan kalbu kita bening dan bersih dari segala kotoran*, penyakit lahir dan batin sehingga tidak mau setitik pun menilai, mencela dan membuli orang lain, siapa pun dia...

امين يارب العالمين

Mengenal Diri Menuju Marifat Ilahi

Mengenal Diri munuju Marifat ilahi



Ceramah Ustad Daruri Padang


Syareat Hakekat Marifat itu Satu

Selamat Datang Di Radio Mengkaji diri

Syareat Hakekat Marifat Itu Satu




Cara Sholat yang khusu